- Brand voice: Kepribadian atau karakter dasar brand yang relatif konsisten, misalnya ramah, percaya diri, dan solutif.
- Tone of voice: Penyesuaian cara berbicara berdasarkan situasi, emosi audiens, dan tujuan komunikasi.
Apa Itu Tone of Voice dalam Copywriting? Jenis dan Contohnya

Tone of voice adalah gaya komunikasi brand melalui pilihan kata, susunan kalimat, dan emosi; berbeda dari brand voice yang merupakan karakter dasar dan lebih konsisten.
Pemilihan tone of voice yang tepat membantu membangun identitas, kedekatan emosional, konsistensi tim, serta efektivitas pesan dengan menyesuaikan audiens, tujuan, dan situasi komunikasi.
Empat gaya utama mencakup friendly-casual, profesional-informatif, energetic-playful, serta elegant-sophisticated; kreativitas harus tetap menjaga kejelasan manfaat, empati, dan ajakan bertindak.
Apa itu tone of voice dalam copywriting? Pernah membaca iklan yang bahasanya terasa seperti sedang diajak ngobrol oleh teman sendiri? Ada yang lucu, sedikit nyeleneh, tetapi tetap berhasil membuatmu penasaran dengan produk yang ditawarkan.
Di sisi lain, ada juga brand yang memilih bahasa elegan, profesional, atau penuh semangat. Meskipun sama-sama menawarkan produk, cara mereka berkomunikasi bisa memberikan kesan yang berbeda kepada audiens.
Nah, perbedaan tersebut berkaitan dengan tone of voice (ToV). Dalam dunia copywriting dan digital marketing, ToV membantu brand memiliki karakter komunikasi yang khas sekaligus membuat pesan terasa lebih relevan bagi target audiens.
Lantas, bagaimana cara menentukan tone of voice yang tepat? Yuk, kenali jenis dan cara penerapannya!
Table of Content
1. Apa itu tone of voice dalam copywriting?

ilustrasi jasa copywriting (unsplash.com/Ben Maffin) Tone of voice adalah gaya atau nada komunikasi yang digunakan brand untuk menyampaikan pesan kepada audiens melalui pilihan kata, susunan kalimat, hingga cara mengekspresikan emosi. Sederhananya, ToV menentukan bagaimana sebuah brand berbicara kepada customer, bukan hanya apa yang ingin disampaikan.
Misalnya, ada dua brand yang sama-sama menjual produk perawatan wajah.
Brand pertama menulis, "Temukan cara perawatan wajah dengan formula pilihan untuk rutinitas harianmu."
Sementara brand kedua menggunakan kalimat, "Skincare-an jangan asal-asalan, yuk rawat kulitmu dengan pilihan yang bikin nyaman!"
Keduanya membicarakan kategori produk yang sama, tetapi memberikan kesan berbeda. Kalimat pertama lebih profesional, sedangkan kalimat kedua terasa santai dan akrab. Namun, ada dua istilah yang sering dianggap sama, yaitu brand voice dan tone of voice.
Bayangkan kamu memiliki brand dengan karakter ramah dan humoris. Saat mengumumkan promo, kamu boleh menggunakan bahasa yang playful. Tetapi ketika customer sedang komplain, tentu tidak tepat jika kamu terus membalas dengan candaan.
Jadi, karakter brand tetap dikenali, sementara nada komunikasinya bisa menyesuaikan situasi.
2. Mengapa tone of voice penting dalam copywriting?

Ilustrasi Copywriting(Photo by J. Kelly Brito: https://www.pexels.com/photo/person-writing-on-notebook-4067126/) Pernah melihat caption promosi yang terdengar terlalu kaku, padahal produknya ditujukan untuk anak muda?Atau justru menemukan brand yang terlalu memaksakan bahasa gaul sampai informasi produknya sulit dipahami?
Nah, kedua situasi tersebut memperlihatkan mengapa tone of voice perlu dirancang dengan tepat. Dalam copywriting, pemilihan gaya komunikasi berpotensi memengaruhi bagaimana audiens memahami dan merespons pesan.
Beberapa manfaat ToV antara lain:
- Membangun identitas brand: Gaya komunikasi yang konsisten membantu brand memiliki karakter yang mudah dikenali.
- Membuat pesan lebih relatable: Audiens lebih mudah memahami pesan yang menggunakan bahasa sesuai keseharian mereka.
- Membangun kedekatan emosional: Pemilihan kata yang tepat bisa membuat customer merasa dipahami.
- Menjaga konsistensi komunikasi: Tim marketing, sales, dan customer service memiliki pedoman yang sama ketika berbicara dengan audiens.
- Mendukung efektivitas copywriting: Pesan yang jelas dan relevan berpotensi mendorong respon sesuai tujuan campaign.
Namun, ToV yang baik tidak berarti semua pesan harus terdengar lucu atau menarik perhatian.
Misalnya, brand aplikasi keuangan mengirim pemberitahuan mengenai transaksi yang gagal.
Alih-alih menulis, "Yah, transaksi kamu lagi gagal nih!", akan lebih tepat jika pesannya berbunyi, "Transaksimu belum berhasil diproses. Tenang, kamu bisa mencobanya kembali atau menghubungi tim bantuan kami."
Mengapa? Karena pada situasi tersebut, customer membutuhkan kejelasan dan kepastian, bukan hiburan. Inilah hal yang sering terlewat: tone of voice bukan sekadar membuat copywriting terdengar keren, tetapi memastikan audiens merasa dipahami dalam situasi yang tepat.
3. Apa saja jenis tone of voice dalam copywriting?

ilustrasi copywriting (pexels.com/Christina Morillo) Setiap brand memiliki karakter dan cara berkomunikasi yang berbeda. Ada yang ingin terasa seperti teman ngobrol, ada yang lebih profesional, sementara lainnya memilih pendekatan emosional untuk membangun kedekatan dengan audiens.
Namun, memilih tone of voice bukan sekadar menentukan apakah brand harus terdengar lucu, formal, atau elegan. Kamu juga perlu memahami produk yang ditawarkan, target audiens, serta situasi ketika pesan tersebut disampaikan.
Nah, supaya lebih kebayang, berikut 4 jenis tone of voice beserta contoh penerapannya dalam copywriting.
1. Friendly dan casual
Pernah membaca caption sebuah brand yang rasanya seperti sedang diajak ngobrol teman sendiri? Nah, itulah karakter friendly dan casual. Gaya ini menggunakan bahasa sehari-hari yang hangat, santai, dan tidak menciptakan jarak dengan audiens.
Cocok digunakan ketika brand ingin membangun interaksi, meningkatkan engagement, atau menawarkan produk yang dekat dengan aktivitas sehari-hari.
Cocok untuk: Brand F&B, kedai kopi, fashion kasual, online shop, hingga produk lifestyle dengan target audiens anak muda.
Contoh copywriting untuk brand kuliner:
"Laper datang, akhir bulan bikin tegang? Tenang, ada menu hemat yang bikin perut kenyang!"
Pesan ini mengangkat situasi yang cukup relatable, terutama bagi audiens yang ingin makan enak tetapi tetap perlu menjaga pengeluaran. Dengan menggunakan permainan rima, kalimat menjadi lebih mudah diingat, sementara pemilihan kata yang santai membantu brand terasa seperti teman yang menawarkan solusi.
2. Professional dan informative
Siapa bilang copywriting profesional harus menggunakan bahasa yang kaku dan dipenuhi istilah teknis? Justru, gaya profesional dan informatif yang baik harus mampu menyampaikan informasi secara jelas, meyakinkan, dan mudah dipahami. Fokusnya adalah membangun kepercayaan melalui manfaat produk yang relevan.
Cocok untuk: Perusahaan B2B, software bisnis, layanan keuangan, konsultan, hingga produk teknologi yang membutuhkan penjelasan lebih mendalam.
Contoh copywriting untuk software manajemen stok:
"Pesanan terus berdatangan, stok malah jadi pertanyaan? Pantau barang masuk dan keluar dalam satu tampilan, supaya keputusan restock punya dasar yang meyakinkan."
Perhatikan bagaimana pesannya diawali dari masalah yang mungkin dialami pemilik bisnis, lalu menawarkan fitur yang dapat membantu menyelesaikannya. ToV ini cocok digunakan pada website perusahaan, landing page, email penawaran, hingga materi presentasi produk. Rima tetap bisa digunakan, tetapi jangan sampai mengurangi kejelasan informasi atau kesan profesional.
3. Energetic dan playful
Kalau kamu ingin membuat copywriting yang lebih ekspresif, penuh semangat, dan sedikit nyeleneh, gaya energetic dan playful bisa menjadi pilihan. Jenis ToV ini cocok digunakan untuk menarik perhatian audiens dengan cepat, terutama pada campaign yang membutuhkan headline singkat, permainan kata, atau humor ringan.
Cocok untuk: Aplikasi produktivitas untuk anak muda, brand olahraga, minuman, game, hingga campaign promosi di media sosial.
Contoh copywriting untuk aplikasi planner digital:
"Meeting merapat, deadline makin padat, kepala mulai penat? Yuk, atur jadwal lebih tepat, biar semua tugas tercatat dan selesai tanpa telat!"
Permainan rima merapat, padat, penat, tepat, tercatat, dan telat membuat pesan terasa lebih ritmis sekaligus menarik perhatian.
Menariknya, kalimat tersebut tetap menyampaikan masalah dan solusi secara jelas. Audiens diajak mengenali keresahannya terlebih dahulu sebelum mendapatkan ajakan menggunakan produk. Gaya seperti ini cocok untuk headline iklan, konten Instagram, TikTok, atau push notification yang membutuhkan pesan singkat dan mudah diingat.
4. Elegant dan sophisticated
Brand premium tidak harus selalu menggunakan kata-kata mewah untuk terlihat berkelas. Terkadang, kalimat sederhana justru lebih kuat ketika mampu menyampaikan pengalaman yang diinginkan audiens.
Tone elegant dan sophisticated menggunakan pilihan kata yang tenang, matang, dan tidak berlebihan. Fokusnya lebih banyak pada kualitas, kenyamanan, serta nilai emosional yang ditawarkan produk.
Cocok untuk: Brand fashion premium, perhiasan, furnitur, interior, hotel, hingga produk lifestyle yang mengutamakan pengalaman eksklusif.
Contoh copywriting untuk brand furnitur premium:
"Setelah hari yang panjang, pulang seharusnya terasa tenang. Hadirkan ruang yang nyaman dipandang, dengan setiap detail yang dirancang matang."
Copywriting ini tidak menggunakan ajakan agresif seperti "Beli sekarang!" atau "Jangan sampai kehabisan!"
Sebaliknya, pesan mengajak audiens membayangkan suasana rumah yang tenang setelah menjalani aktivitas yang melelahkan. Permainan rima panjang, tenang, dipandang, dan matang tetap terasa, tetapi lebih halus agar kesan elegan tidak berubah menjadi terlalu ramai.
Nah, dari berbagai contoh tersebut, kita bisa melihat bahwa rima dan kreativitas tidak harus menghasilkan gaya komunikasi yang sama. Tone of voice yang tepat bukan sekadar membuat copywriting terdengar menarik, tetapi membuat audiens merasakan emosi yang sesuai dengan karakter brand dan manfaat produknya.
4. Kesalahan tone of voice yang bikin copywriting kurang menarik

ilustrasi copywriter (pexels.com/Vlada Karpovich) Copywriting yang kreatif memang bisa menarik perhatian. Namun, percuma kalau permainan kata yang catchy justru membuat audiens bingung dengan pesan yang ingin disampaikan.
Nah, supaya tone of voice tetap efektif, hindari beberapa kesalahan berikut:
- Terlalu memaksakan bahasa gaul: Pertama, kamu harus paham jenis brand/produkmu, jangan asal menggunakan istilah kekinian yang sebenarnya tidak sesuai dengan karakter brand atau audiens.
- Rima menarik, pesan menghilang: Jangan terlalu fokus pada permainan kata, sampai manfaat produk tidak tersampaikan.
- Terlalu overclaim: Menggunakan janji berlebihan justru akan membuat brandmu kurang dipercaya.
- Salah membaca situasi: Menggunakan candaan ketika customer sebenarnya membutuhkan empati atau penjelasan serius.
- CTA kurang jelas: Headline sudah menarik, tetapi audiens tidak tahu tindakan apa yang harus dilakukan.
Jadi, sebelum memublikasikan copywriting, coba posisikan dirimu sebagai customer. Apakah pesannya terasa dekat, mudah dipahami, dan membuatmu tertarik?
Ingat, rima boleh memikat, tetapi pesan harus tetap tepat! Sebab, copywriting yang bagus bukan hanya enak dibaca, tetapi juga mampu menyampaikan manfaat dan mengajak audiens bertindak






















