3 Jenis Produk yang Justru Laris Manis saat Masyarakat Mulai Downgrade

- Survei PwC 2025 mencatat 50 persen konsumen Indonesia khawatir ekonomi dan biaya hidup, sehingga membeli lebih sedikit serta mencari alternatif lebih murah.
- Produk lokal dengan fungsi serupa produk premium berpeluang diminati bila menawarkan manfaat sepadan dengan harga yang lebih terjangkau.
- Peluang juga terbuka bagi kemasan kecil atau satuan serta produk kebutuhan harian yang manfaatnya jelas, membantu konsumen menyesuaikan pengeluaran.
ketika kondisi ekonomi membuat masyarakat lebih berhati-hati berbelanja, bukan berarti semua produk otomatis kehilangan pembeli. Konsumen mungkin tetap membeli, tetapi mulai mengubah pilihan. Fenomena tersebut dikenal sebagai downgrade. Konsumen menjadi lebih selektif dan mencari produk yang dianggap memberikan manfaat paling sepadan dengan uang yang dikeluarkan.
Survei PwC pada 2025 menemukan 50 persen konsumen Indonesia mengkhawatirkan ketidakstabilan ekonomi dan kenaikan biaya hidup, sehingga berencana membeli lebih sedikit serta memilih alternatif yang lebih murah. Sementara itu, Worldpanel by Numerator pada 2026 melihat konsumen Indonesia semakin pragmatis dan berorientasi pada nilai.
Bagi pengusaha, perubahan tersebut sebenarnya bisa menjadi peluang. Berikut tiga jenis produk yang berpotensi mendapatkan permintaan ketika masyarakat mulai melakukan downgrade!
Table of Content
1. Produk lokal yang menawarkan fungsi serupa dengan harga lebih terjangkau

ilustrasi pasar (Pexels.com/Tom Fisk) Ketika konsumen mulai meninggalkan produk premium, mereka belum tentu meninggalkan kategorinya. Mereka hanya mencari alternatif yang lebih sesuai dengan anggaran. Misalnya, konsumen produk kecantikan yang mulai membandingkan merek lokal dengan produk impor. Peluangnya ada pada bisnis yang mampu menawarkan fungsi dan manfaat yang dibutuhkan konsumen tanpa membawa harga premium.
Konsumen tidak selalu mencari barang termurah. Mereka mencari produk yang membuat mereka merasa uang yang dikeluarkan sepadan dengan manfaat yang didapat. Ini menjadi ruang bagi pelaku usaha lokal untuk masuk ke kategori yang sebelumnya didominasi produk premium.
2. Produk dalam ukuran atau paket yang lebih ramah di kantong

ilustrasi produk sachet (Pexels.com/indra projects) Downgrade juga dapat terjadi bukan karena konsumen berpindah merek, tetapi karena mereka mengubah berapa banyak yang dibeli dalam satu transaksi. Misalnya, konsumen yang biasanya membeli kemasan besar mulai memilih ukuran lebih kecil. Orang yang sebelumnya membeli paket lengkap bisa memilih produk satuan. Konsumen juga dapat memilih trial size sebelum memutuskan membeli ukuran penuh.
Bagi pengusaha, perubahan ini membuka peluang untuk menyediakan lebih banyak pilihan ukuran dan harga. Worldpanel by Numerator mencatat bahwa keterjangkauan menjadi semakin penting bagi konsumen Indonesia. Mereka merekomendasikan produsen mempertimbangkan ukuran kemasan dan format produk yang sesuai dengan kebutuhan kelompok konsumen berbeda, sekaligus menyesuaikan struktur harga dengan kondisi konsumen.
Strategi ini memungkinkan konsumen tetap membeli meskipun anggaran mereka lebih terbatas Misalnya, bisnis makanan bisa menyediakan porsi personal selain paket keluarga. Penjual produk perawatan bisa menawarkan ukuran kecil. Sementara, bisnis kebutuhan rumah tangga dapat menyediakan pilihan pembelian satuan. Dengan demikian, pengusaha tidak harus langsung memangkas harga produk.
3. Produk yang memberikan manfaat nyata untuk kebutuhan sehari-hari

ilustrasi warteg (Pexels.com/Man Fong Wong) Ketika uang semakin diperhitungkan, konsumen cenderung lebih kritis terhadap produk yang dibeli. Barang yang dianggap sekadar pelengkap bisa lebih mudah ditunda, sementara produk yang memberikan manfaat nyata tetap memiliki alasan untuk dibeli. Karena itu, produk yang membantu konsumen memenuhi kebutuhan sehari-hari, menghemat waktu, atau mendapatkan manfaat tertentu dapat memiliki peluang lebih besar.
Contohnya, produk makanan harga terjangkau, perlengkapan rumah tangga yang membuat pekerjaan lebih mudah, hingga produk kesehatan dengan manfaat yang jelas. Bagi pengusaha, hal ini menunjukkan bahwa peluang tidak hanya berada pada produk murah, tetapi pada produk yang manfaatnya mudah dipahami dan terasa layak dibeli.
Jadi, ketika masyarakat mulai melakukan downgrade, pengusaha tidak perlu buru-buru menyimpulkan bahwa pasar sedang mengecil. Bisa jadi, pasarnya hanya bergeser. Konsumen yang sebelumnya membeli produk premium mungkin mencari alternatif lokal. Mereka yang biasanya membeli kemasan besar mungkin memilih ukuran lebih kecil. Sementara, konsumen yang semakin selektif akan mempertahankan produk yang manfaatnya benar-benar terasa. Di situlah peluang usaha muncul. Bukan sekadar menjual barang dengan harga lebih murah, tetapi menawarkan nilai yang lebih sesuai dengan kondisi konsumen saat ini.






















