Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
APBN Masih Kuat, Harga BBM Bersubsidi Tak Naik hingga Akhir 2026
Ilustrasi harga minyak (IDN Times/Arief Rahmat)
  • Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto memastikan harga BBM bersubsidi tidak naik hingga akhir 2026, meski harga minyak dunia bergejolak akibat konflik Selat Hormuz dan perang Rusia-Ukraina.
  • Pemerintah menilai bantalan APBN masih mampu meredam dampak kenaikan minyak; harga pembelian BBM non-subsidi sekitar 90 dolar AS per barel dan minyak dunia masih di bawah 100 dolar.
  • Indonesia memiliki stok BBM sekitar 20 hari serta dukungan kilang domestik, tetapi pemerintah mengakui cadangan energi perlu ditingkatkan karena sejumlah negara ASEAN memiliki stok hingga 90 hari.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi tidak akan naik hingga akhir 2026. Kepastian tersebut disampaikan di tengah gejolak harga minyak dunia akibat konflik di Selat Hormuz dan perang Rusia-Ukraina yang masih berlangsung.

"Alhamdulillah untuk Indonesia transmisi ini masih bisa diredam oleh buffer (bantalan) APBN kita," kata Airlangga dalam Antara Business Forum 2026 di Jakarta, Rabu (23/9/2026).

1. Kenaikan harga minyak masih bisa diredam APBN

Ilustrasi harga minyak (IDN Times/Arief Rahmat)

Menurut Airlangga, pemerintah terus memantau perkembangan harga minyak dunia. Namun, dampak kenaikan harga minyak terhadap Indonesia masih dapat diredam melalui bantalan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Ia menyebut, harga pembelian pemerintah untuk BBM non-subsidi saat ini berada di kisaran 90 dolar AS per barel. Dengan harga minyak dunia yang masih berada di bawah 100 dolar AS per barel, pemerintah menilai kondisi tersebut masih memungkinkan untuk mempertahankan harga BBM bersubsidi.

"Ini sampai akhir tahun kita masih bisa pertahankan, tidak ada perubahan kenaikan harga, terutama BBM bersubsidi," ujar Airlangga.

2. Stok BBM RI Bertahan 20 Hari

Ilustrasi APBN. (IDN Times/Aditya Pratama)

Di sisi lain, Airlangga menyebut, ketahanan energi menjadi salah satu perhatian pemerintah di tengah gejolak harga minyak dunia. Menurut dia, Indonesia saat ini memiliki stok BBM untuk kebutuhan sekitar 20 hari. Namun, Indonesia juga memiliki fasilitas produksi dalam negeri yang dapat menopang ketersediaan BBM.

"Memang ketahanan energi kita rata-rata kita punya stok BBM 20 hari, namun kita juga mempunyai produsen sendiri, yaitu pabrik. Jadi tentu itu berbeda dengan negara lain karena kita punya beberapa refinery terutama untuk solar dan BBM," kata Airlangga.

3. Cadangan BBM masih bisa ditambah

ilustrasi APBN (IDN Times/Aditya Pratama)

Dengan adanya kapasitas produksi dalam negeri, Airlangga menilai cadangan BBM Indonesia masih dapat ditambah untuk menjaga ketahanan energi. Meski demikian, ia mengakui ketahanan stok BBM Indonesia masih menjadi tantangan. Pasalnya, sejumlah negara ASEAN memiliki cadangan BBM yang lebih besar.

"Negara lain di ASEAN, mereka punya ketahanan energinya ataupun stok BBM-nya selama 90 hari. Jadi itu menjadi tantangan tersendiri untuk kita," ujar Airlangga.

Curated For You

Editorial Team

Related Article