Jakarta, IDN Times - Harga minyak global kembali menurun pada Senin (21/9/2026). Penurunan ini terjadi meski peperangan di Timur Tengah sedang memanas usai milisi Yaman, Houthi, menyerang Ibu Kota Arab Saudi, Riyadh, pada pekan lalu.
Harga Minyak Global Anjlok usai Houthi Serang Arab Saudi

- Harga minyak global turun empat hari berturut-turut, dengan Brent mencapai 101,70 dolar AS dan WTI 98,20 dolar AS per barel pada 18 September 2026.
- Penurunan dipicu pulihnya ekspor minyak Arab Saudi hingga 4 juta barel per hari, meski Houthi menyerang Riyadh, bandara, dan fasilitas Aramco.
- China meminta Iran mendesak Houthi menghentikan serangan, sementara ahli menilai harga minyak tetap fluktuatif karena konflik Timur Tengah berpotensi mengganggu pasokan.
"Aliran minyak dari Timur Tengah tetap sangat kuat meskipun terjadi gangguan pada pipa minyak Timur-Barat yang terletak Arab Saudi," kata seorang analis JPMorgan yang tidak disebut namanya, seperti dilansir Economic Times.
1. Harga minyak global sudah turun selama 4 hari berturut-turut

ilustrasi penurunan harga minyak (unsplash.com/Jakub Å»erdzicki) Penurunan harga minyak dunia ini sudah terjadi selama 4 hari berturut-turut sejak Jumat (18/9/2026) pekan lalu. Ketika itu, harga minyak Brent turun 2,1 persen menjadi 101,70 dolar Amerika Serikat (AS) atau setara Rp1,8 juta per barelnya. Selain itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate juga turun 2,10 persen menjadi 98,20 dolar AS atau Rp1,7 juta per barel.Â
Para analis JPMorgan menjelaskan, penurunan harga minyak ini terjadi karena aktivitas ekspor minyak dari Arab Saudi ke pasar global sudah pulih. Saat ini, jumlah ekspor minyak dari Arab Saudi meningkat menjadi 4 juta barel per hari. Jumlah ini meningkat drastis dari Agustus lalu. Sebab, ketika itu, jumlah ekspor minyak dari Riyadh hanya 2,4 juta barel per hari.Â
2. Penurunan harga minyak dunia menimbulkan pertanyaan

ilustrasi pertanyaan (pexels.com/Ann H) Penurunan harga minyak ini menjadi angin segar bagi banyak negara di dunia. Sebab, harga bahan bakar dan bahan pokok juga akan ikut menurun. Kendati demikian, penurunan ini menimbulkan sejumlah pertanyaan. Sebab, penurunan ini terjadi di tengah kondisi konflik di Timur Tengah yang sedang memanas usai Houthi menyerang Kota Riyadh di Arab Saudi.
Houthi sendiri menyerang Riyadh menggunakan sejumlah drone dan rudal pada Sabtu (19/9/2026) pekan lalu. Kala itu, serangan dikabarkan menyasar bandara utama yang ada di kota tersebut. Namun, tidak diketahui apa nama bandara yang dimaksud. Selain menyerang bandara, Houthi juga mengklaim berhasil menyerang fasilitas minyak milik perusahaan energi Arab Saudi, Aramco, pada hari yang sama.Â
Houthi menjelaskan, semua serangan ini merupakan respons atas serangan Arab Saudi ke Ibu Kota Yaman, Sanaa, beberapa waktu lalu. Sebab, menurut Houthi, Arab Saudi sudah terlebih dahulu melakukan serangan ke Yaman untuk membasmi pasukan mereka yang bermarkas di sana.Â
3. China sudan minta Iran desak Houthi setop serang Arab Saudi

potret bendera China (pexels.com/Hao Liang) Serangan Houthi ke Arab Saudi sebetulnya sudah dikecam banyak pihak. Bahkan, Pemerintah China juga sudah meminta Iran untuk mendesak Houthi agar berhenti menyerang Riyadh. Namun, serangan milisi yang sudah masuk daftar organisasi teroris itu justru semakin meningkat dalam beberapa hari terakhir.
Meski menurun, sejumlah ahli mengatakan bahwa harga minyak dunia kini masih fluktuatif. Artinya, harga minyak sewaktu-waktu masih bisa kembali naik. Apalagi, situasi geopolitik di Timur Tengah kini masih dipenuhi konflik sehingga pasokan minyak dari kawasan tersebut ke pasar global berpotensi terganggu. Â
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)























