Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Larangan Impor Produk Kanada oleh AS: Nilainya Hampir 1 Miliar Dolar!

4 min read
Larangan Impor Produk Kanada oleh AS: Nilainya Hampir 1 Miliar Dolar!
ilustrasi bendera Kanada dan Amerika Serikat (unsplash.com/Walter Martin)
  • AS melarang impor produk Kanada senilai hampir 1 miliar dolar AS mulai 29 September 2026, mencakup minuman beralkohol, whey, serta sepeda motor tertentu.
  • Kebijakan Trump menjadi balasan atas tarif Kanada setelah AS mengenakan tarif 50 persen pada produk Kanada senilai 20 miliar dolar AS pada Agustus 2026.
  • Ottawa menekankan penguatan ekonomi domestik dan diversifikasi mitra dagang; analis menilai dampak larangan relatif kecil, tetapi kebuntuan perdagangan diperkirakan berlangsung berbulan-bulan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Hubungan bilateral antara Washington DC dan Ottawa kian menegang setelah Amerika Serikat (AS) resmi memberlakukan larangan impor terhadap hampir 1 miliar dolar AS atau setara Rp17,91 triliun produk asal Kanada. Kebijakan pembatasan perdagangan ini mulai berlaku efektif pada Selasa (29/9/2026) pukul 00.01 Waktu Bagian Timur AS (ET).

Langkah tersebut diambil oleh Presiden AS Donald Trump sebagai tindakan balasan atas tarif balasan yang sebelumnya diterapkan oleh Kanada. Larangan impor ini menargetkan sejumlah komoditas asal negara tetangga tersebut, termasuk minuman beralkohol, produk susu, serta sepeda motor.

  1. 1. Daftar komoditas Kanada yang dilarang masuk AS

    ilustrasi label harga barang
    ilustrasi label harga barang (pexels.com/Erik Mclean)

    Dilansir CBS News, Direktur Kebijakan Perdagangan American Action Forum Jacob Jensen mencatat larangan ini mencakup produk senilai 967 juta dolar AS atau setara Rp17,32 triliun berdasarkan data 2025. Dari total nilai tersebut, porsi sebesar 87 persen merupakan minuman beralkohol seperti bir, aneka minuman keras, sparkling wine, brendi, dan sake. Komoditas ini disasar setelah sejumlah provinsi di Kanada merespons tindakan Trump dengan melarang penjualan minuman beralkohol asal Amerika Serikat di toko-toko mereka.

    Selain minuman beralkohol, produk olahan susu seperti whey turut dimasukkan ke dalam daftar larangan. Kebijakan pembatasan ini juga menyasar kendaraan sepeda motor roda tiga tipe Can-Am Spyder dan Canyon yang diproduksi oleh Bombardier Recreational Products di Quebec. Produsen tersebut menyatakan dampaknya baru akan terasa tahun depan karena sebagian besar produksi dan pengiriman unit untuk musim berjalan telah rampung.

  2. 2. Akar eskalasi tarif dan perang dagang kedua negara

    Presiden AS Donald Trump
    Presiden AS Donald Trump (Marc Nozell from Merrimack, New Hampshire, USA, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons)

    Ketegangan terbaru bermula pada musim panas saat Trump memberlakukan tarif 50 persen atas impor produk Kanada senilai 20 miliar dolar AS atau setara Rp358,18 triliun pada 22 Agustus 2026 setelah perundingan dagang gagal. Trump menerapkan tarif tersebut dengan mengaktifkan kembali undang-undang era Depresi Besar, seraya menuduh Kanada telah mendiskriminasi produsen susu, otomotif, dan minuman beralkohol asal AS. Perdana Menteri Kanada Mark Carney membalas dengan menetapkan tarif sebesar 15 persen, 25 persen, dan 50 persen pada ekspor US bernilai setara.

    Carney menegaskan Ottawa menerapkan tarif balasan secara seimbang untuk melindungi perekonomian domestik. "Dolar demi dolar untuk melindungi para pekerja, petani, keluarga, dan bisnis Kanada," ujar Carney saat mengumumkan langkah balasan tersebut. Trump kemudian membalas tarif Kanada tersebut dengan menetapkan larangan impor produk bernilai hampir 1 miliar dolar AS.

    Trump menyatakan keyakinannya di Gedung Putih bahwa pihak Kanada pada akhirnya akan mengalah dan meminta maaf. "Masalahnya adalah mereka telah memperlakukan Amerika Serikat dengan sangat tidak adil. Mereka telah menjadi salah satu negara terburuk di seluruh dunia," tutur Trump kepada para jurnalis. Sengketa ini turut mengancam proses pembaruan Perjanjian Amerika Serikat-Meksiko-Kanada (USMCA).

  3. 3. Respons Ottawa dan proyeksi perekonomian ke depan

    ilustrasi bendera Kanada
    ilustrasi bendera Kanada (pexels.com/Jared VanderMeer)

    Juru bicara Menteri Hubungan Dagang Kanada-AS Dominic LeBlanc, Gabriel Brunet, menegaskan sikap pemerintah Kanada menghadapi kebijakan proteksionisme tersebut. "Fokus inti kami adalah pada apa yang dapat kami kendalikan: membangun kekuatan di dalam negeri, mendiversifikasi kemitraan kami di luar negeri, dan membangun Kanada yang kuat bagi seluruh warga Kanada," tutur Brunet. Pemerintahan Carney juga menyambut baik prospek Kanada menjadi anggota rekanan pertama di Uni Eropa dan mencatat kemajuan baik dalam perundingan dagang dengan India yang ditargetkan selesai menjelang KTT G20 pertengahan Desember. Langkah ini sejalan dengan target Carney untuk melipatgandakan perdagangan non-AS dalam satu dekade ke depan.

    Dilansir Al Jazeera, guru besar School of Business Wayne State University Gary Shields menilai dampak larangan impor ini tergolong minim dibanding total perdagangan bilateral tahunan yang mencapai 880 miliar dolar AS atau setara Rp15.759,92 triliun. "Dampaknya akan kecil, ini hanya 1 miliar dolar AS sementara kita berdagang ratusan miliar dengan Kanada," ucap Shields. Dia menambahkan bahwa langkah tersebut merupakan aksi saling balas yang bersifat personal untuk menunjukkan ketegasan.

    Berdasarkan data Statistics Canada, perekonomian Kanada diperkirakan tumbuh 0,2 persen pada Agustus 2026 setelah tidak berubah pada Juli. Namun, ekonom senior Oxford Economics Michael Davenport memproyeksikan kombinasi tarif baru, pengetatan kondisi keuangan, dan penyusutan populasi akan melemahkan pertumbuhan pada akhir 2026 dan awal 2027. Pengacara perdagangan Patrick Childress dari Holland & Knight memperkirakan kebuntuan dagang kedua negara akan berlangsung selama berbulan-bulan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Ambang Batas Jelang Pemilu 2029

Related Articles

See More