Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
AS Setujui Penjualan 24 Helikopter MH-60R Seahawk ke Korea Selatan
bendera AS (unsplash.com/Robert Linder)
  • Pemerintah AS menyetujui penjualan 24 helikopter MH-60R Seahawk senilai 3 miliar dolar AS kepada Korea Selatan sebagai bagian dari paket kesepakatan militer total 4,2 miliar dolar AS.
  • Helikopter buatan Lockheed Martin ini dilengkapi teknologi canggih seperti sonar bawah air, radar APS-153(V), dan sistem peringatan rudal untuk memperkuat kemampuan pertahanan laut Korea Selatan.
  • Kesepakatan masih menunggu peninjauan Kongres AS selama 30 hari, sementara Korea Utara mengecam langkah ini sebagai peningkatan kekuatan bersenjata yang berlebihan di kawasan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Amerika Serikat (AS) secara resmi menyetujui rencana penjualan 24 unit helikopter serbaguna MH-60R Seahawk beserta kelengkapannya kepada Korea Selatan (Korsel). Persetujuan yang dikeluarkan oleh Departemen Luar Negeri AS pada Senin (18/5/2026) ini memiliki nilai transaksi mencapai 3 miliar dolar AS (Rp53,11 triliun).

Transaksi helikopter laut ini merupakan bagian dari keseluruhan paket kesepakatan militer senilai 4,2 miliar dolar AS (Rp74,36 triliun) yang diajukan oleh Korea Selatan. Selain helikopter baru, kesepakatan tersebut juga mencakup program peningkatan kemampuan armada helikopter serang AH-64E Apache yang sudah dimiliki oleh Angkatan Darat negara tersebut. Pemberitahuan resmi mengenai proses ini telah diteruskan kepada Kongres AS oleh Defense Security Cooperation Agency (DSCA).

1. Rincian spesifikasi dan kelengkapan militer

Paket armada udara buatan pabrik Lockheed Martin Rotary and Mission Systems ini dilengkapi dengan sejumlah perangkat teknologi terkini. Kelengkapan tersebut meliputi 52 sistem navigasi GPS/INS dengan fitur keamanan tambahan, 24 sonar pendeteksi aktivitas bawah air, dan delapan senapan mesin M240D kaliber 7,62 mm. Selain itu, pesanan ini juga mencakup mesin T700-GE-401D, radar APS-153(V), sistem peringatan rudal AN/AAR-47, serta fasilitas pelatihan militer dan dukungan logistik.

Helikopter andalan Angkatan Laut AS ini dirancang khusus untuk merespons target di bawah maupun di atas permukaan laut. Di luar fungsi tempur, armada ini juga digunakan untuk kebutuhan patroli rutin, pencarian dan penyelamatan korban bencana, serta dukungan kelancaran operasi logistik.

"Penjualan ini akan meningkatkan kemampuan pertahanan Korea Selatan dalam menghadapi dinamika keamanan saat ini maupun di masa depan," kata perwakilan Departemen Luar Negeri AS, dilansir China Daily.

2. Kebutuhan strategis pertahanan laut Korea Selatan

ilustrasi Korea Selatan (unsplash.com/Daniel Bernard)

Saat ini, Angkatan Laut Korea Selatan telah mengoperasikan 12 unit helikopter sejenis dari pesanan tahap pertama pada tahun 2020 lalu. Pengiriman seluruh armada tersebut rampung pada awal tahun 2026 dan kini disiagakan secara penuh oleh Grup Helikopter Maritim ke-62 di Pangkalan Angkatan Laut Jinhae.

Penambahan 24 unit baru ini dinilai penting sebagai bentuk antisipasi keamanan di kawasan perairan mereka. Langkah ini diambil merespons perkembangan teknologi pertahanan negara tetangga, Korea Utara, yang kini tengah merancang kapal selam bertenaga nuklir dengan bantuan teknologi luar negeri.

"Armada baru ini akan ditugaskan untuk menjaga kedaulatan perairan negara sekaligus memaksimalkan fungsi tanggap darurat maritim kami," kata Kepala Operasi Angkatan Laut Korea Selatan, Laksamana Madya Kim Kyung-ryul.

3. Proses persetujuan dan respons kawasan

Meski telah mendapat lampu hijau dari Departemen Luar Negeri AS, kesepakatan jual beli ini masih memerlukan proses peninjauan oleh Kongres AS selama 30 hari ke depan. Rencananya, seluruh proses perakitan armada akan dikerjakan secara terpusat di fasilitas Lockheed Martin yang berlokasi di Owego, New York.

"Tidak akan ada dampak pengurangan terhadap kesiapan atau kapasitas pertahanan militer AS akibat dari rencana penjualan ini," kata perwakilan DSCA.

Di sisi lain, rencana kerja sama pertahanan ini mendapat sorotan tajam dari Korea Utara. Melalui siaran kantor berita Korean Central News Agency (KCNA) pada Kamis (21/5), mereka menyatakan akan mengambil langkah balasan karena menilai penjualan tersebut sebagai bentuk penambahan kekuatan bersenjata yang berlebihan.

Menanggapi hal tersebut, pihak AS menegaskan, transaksi ini berfokus pada pertahanan dan tidak akan merusak keseimbangan keamanan di wilayah Semenanjung Korea.

"Usulan penjualan ini semata-mata mendukung keamanan negara sekutu yang berperan penting bagi stabilitas politik dan kemajuan ekonomi di kawasan Indo-Pasifik," kata perwakilan Departemen Luar Negeri AS.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article