Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Antrean Viral Kini Jadi Simbol Status Baru bagi Gen Z, Ini 5 Faktanya

Antrean Viral Kini Jadi Simbol Status Baru bagi Gen Z, Ini 5 Faktanya
ilustrasi antre (unsplash.com/Meizhi Lang)
Intinya Sih
  • Antrean viral di kalangan Gen Z bergeser dari aktivitas menunggu menjadi pengalaman eksklusif yang layak diabadikan dan dibagikan di media sosial.
  • Media sosial menjadikan proses mengantre sebagai konten; perjalanan, suasana, dan usaha memperoleh produk dinilai sama pentingnya dengan barang yang didapat.
  • Bagi bisnis, antrean dapat menandakan minat dan kualitas, tetapi hanya bernilai positif jika muncul secara wajar serta waktu pelanggan terasa sepadan dengan hasilnya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Pernah melihat orang rela mengantre berjam-jam demi membeli roti viral, tiket konser, atau produk edisi terbatas? Fenomena seperti ini semakin sering muncul di media sosial, terutama di kalangan Gen Z.

Menariknya, yang dipamerkan bukan hanya barang yang berhasil didapat, lho, tapi juga momen saat berdiri di dalam antrean. Aktivitas yang dulu dianggap membosankan kini justru menjadi bagian dari pengalaman yang layak diabadikan dan dibagikan ke TikTok atau Instagram.

Sejumlah pakar pun menilai bahwa antrean kini memiliki makna baru, bukan sekadar proses menunggu, tapi juga simbol eksklusivitas, pengalaman, bahkan status sosial.

1. Antrean kini menjadi bagian dari pengalaman

ilustrasi Louis Vuitton store, barang branded, barang mewah
ilustrasi Louis Vuitton store, barang branded, barang mewah (unsplash.com/Melanie Klepper)

Selama bertahun-tahun, perusahaan berlomba-lomba mempercepat pelayanan agar pelanggan gak perlu menghabiskan banyak waktu untuk menunggu. Kini, kondisi tersebut mulai berubah. Pada beberapa produk atau tempat yang sedang viral, proses mengantre justru menjadi bagian dari pengalaman yang dicari banyak orang, bukan sesuatu yang ingin dihindari.

Menurut Subodha Kumar, profesor statistik, operasional, dan data science di Temple University, antrean dapat menjadi sinyal bahwa suatu produk atau pengalaman memiliki nilai lebih. Pandangan ini juga didukung oleh penelitian dalam jurnal MIT Sloan Management Review, yang menjelaskan bahwa waktu tunggu akan terasa lebih menyenangkan ketika pelanggan memperoleh hiburan, informasi, atau aktivitas yang membuat mereka tetap terlibat. Hal inilah yang membuat sejumlah bisnis mulai merancang pengalaman mengantre agar terasa lebih menarik, bukan sekadar waktu yang terbuang.

2. Media sosial mengubah antrean menjadi konten

Ilustrasi live streaming atau siaran langsung. (unsplash.com/Jana Shnipelson)
Ilustrasi live streaming atau siaran langsung. (unsplash.com/Jana Shnipelson)

Saat ini, banyak orang gak hanya mengunggah foto produk yang berhasil dibeli. Mereka juga membagikan perjalanan menuju lokasi, suasana antrean, hingga momen ketika akhirnya berhasil mendapatkan barang yang diincar. Akibatnya, antrean berubah menjadi sebuah cerita yang memiliki awal, proses, dan akhir sehingga menarik untuk diikuti oleh pengguna media sosial lainnya.

Richard Larson, peneliti MIT yang dikenal sebagai "Dr. Queue", menjelaskan bahwa pengalaman menunggu kini memiliki bentuk yang berbeda dibandingkan dulu. Jika sebelumnya orang lebih sering mengobrol dengan sesama pengantre, kini ponsel justru mengubah antrean menjadi ruang untuk membuat konten. Bagi Gen Z, mengabadikan proses menunggu sering kali sama pentingnya dengan menunjukkan hasil akhir yang berhasil mereka dapatkan.

3. Waktu kini menjadi simbol status baru

ilustrasi antrean di kedai es krim
ilustrasi antrean di kedai es krim (pexels.com/Prosper Mbemba Koutihou)

Ekonom Thorstein Veblen pernah memperkenalkan konsep conspicuous consumption, yaitu kecenderungan seseorang menunjukkan status sosial melalui barang-barang mewah. Kini, konsep tersebut berkembang menjadi fenomena yang disebut banyak pengamat sebagai conspicuous waiting, yaitu memperlihatkan kesediaan mengorbankan waktu demi memperoleh sesuatu yang dianggap eksklusif atau sedang populer.

Dengan kata lain, yang dipamerkan bukan lagi semata-mata barang yang dimiliki, tapi juga usaha dan waktu yang rela dikorbankan untuk mendapatkannya. Menariknya, simbol status saat ini gak selalu diukur dari harga barang yang dibeli. Justru waktu yang dihabiskan untuk mengantre menjadi sumber daya yang dianggap langka.

Banyak orang mampu membeli produk viral, tapi gak semua orang bersedia meluangkan satu hingga beberapa jam untuk mendapatkannya. Karena itulah mengunggah momen saat mengantre dapat memberikan kesan bahwa kamu berhasil memperoleh pengalaman yang tak dimiliki semua orang.

4. Antrean panjang bisa menguntungkan bisnis

ilustrasi antre
ilustrasi antre (unsplash.com/David Clode)

Bagi pelaku usaha, antrean gak selalu berarti pelayanan yang buruk, lho. Menurut Subodha Kumar, antrean dapat berfungsi sebagai pengalaman, sinyal kualitas, sekaligus bentuk komitmen pelanggan terhadap suatu produk. Ketika banyak orang rela menunggu, calon pelanggan lain cenderung menganggap bahwa produk tersebut memang layak dicoba.

Namun, strategi ini hanya berhasil jika antrean memang muncul karena tingginya minat atau keterbatasan produk. Jika pelanggan menilai antrean terjadi akibat sistem yang gak efisien, persepsi positif tersebut dapat berubah menjadi kekecewaan. Dalam kondisi seperti itu, antrean bukan lagi menjadi simbol eksklusivitas, melainkan mencerminkan buruknya pengelolaan layanan.

5. Gak semua antrean memberikan nilai yang sama

ilustrasi antre, turis, tujuan wisata
ilustrasi antre, turis, tujuan wisata (pexels.com/Виктор Соломоник)

Ada perbedaan besar antara antrean yang dipilih secara sukarela dengan antrean yang terjadi karena kesalahan operasional. Saat seseorang rela mengantre untuk konser, pertunjukan, atau makanan viral, proses menunggu justru dapat meningkatkan rasa puas ketika akhirnya berhasil mendapatkan apa yang diinginkan. Waktu yang sudah diinvestasikan membuat pengalaman tersebut terasa lebih berharga.

Sebaliknya, jika antrean muncul akibat pelayanan yang lambat atau sistem yang gak berjalan baik, pengalaman positif itu akan hilang. Subodha Kumar menjelaskan bahwa sebuah antrean hanya akan menambah nilai apabila pelanggan percaya waktu yang mereka habiskan memang sepadan dengan hasil akhirnya. Ketika kepercayaan itu hilang, antrean gak lagi menjadi kebanggaan untuk dipamerkan, melainkan alasan untuk mengeluh di media sosial.

Fenomena antrean viral menunjukkan bahwa makna sebuah antrean telah berubah seiring berkembangnya media sosial. Bagi sebagian Gen Z, waktu yang dihabiskan untuk menunggu kini menjadi bagian dari pengalaman yang layak dibagikan sekaligus simbol bahwa mereka berhasil mendapatkan sesuatu yang bernilai.

Di sisi lain, bisnis juga mulai menyadari bahwa antrean gak selalu harus dihilangkan, tapi bisa diubah menjadi pengalaman yang menyenangkan bagi pelanggan. Meski begitu, strategi ini hanya akan berhasil jika pelanggan benar-benar merasa bahwa waktu yang mereka korbankan sepadan dengan pengalaman yang diperoleh. Pada akhirnya, bukan sekadar produk yang dicari, melainkan cerita di balik proses mendapatkannya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More