Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bank Dunia Perkirakan Harga Komoditas Global Naik 23 Persen Akhir 2026
Beberapa biji kopi (Pixabay.com/Strangerworld)
  • Bank Dunia memproyeksikan harga komoditas global naik 23 persen pada akhir 2026, dipicu lonjakan energi akibat perang Iran dan tekanan pasokan pangan.

  • Harga pangan global diperkirakan naik 10 persen pada 2026 dan 7 persen pada 2027 akibat konflik, El Nino ekstrem, serta mahalnya bahan bakar dan pupuk.

  • Pasokan minyak global diproyeksikan turun 5,2 persen pada 2026, sementara Bank Dunia menyalurkan dukungan darurat 8,7 miliar dolar AS bagi negara rentan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times  -  Bank Dunia memperkirakan harga komoditas global naik 23 persen paling lambat pada akhir 2026. Hal itu lantaran didorong kenaikan harga energi akibat perang Iran serta tekanan terhadap pasokan pangan.

Dalam laporan Prospek Pasar Komoditas yang dirilis pada Rabu (28/10/2026), lembaga tersebut memperingatkan kenaikan harga komoditas berisiko memperburuk inflasi, kerawanan pangan, dan pertumbuhan ekonomi.

1. Konflik dan El Nino mendorong kenaikan harga pangan

ilustrasi banjir (unsplash.com/Aldward Castillo)

Dilansir AFP, Bank Dunia memperkirakan harga pangan global naik 10 persen pada 2026 dan 7 persen pada 2027. Kenaikan ini dipengaruhi gangguan jalur pasokan biji-bijian akibat konflik, fenomena El Nino ekstrem, serta tingginya harga bahan bakar dan pupuk.

El Nino diperkirakan meningkatkan suhu di berbagai wilayah sepanjang tahun ini. Fenomena tersebut berpotensi memperburuk dampak perubahan iklim akibat aktivitas manusia dan meningkatkan risiko banjir, kekeringan, serta tekanan panas.

Wakil Kepala Ekonom Bank Dunia, Ayhan Kose mengatakan bahwa pasar komoditas menghadapi sejumlah guncangan besar secara bersamaan. 

"Biaya energi yang lebih tinggi dan gangguan perdagangan mendorong harga berbagai komoditas naik serta mengancam memperburuk inflasi, kerawanan pangan, dan pertumbuhan ekonomi," ujarnya dalam pernyataan yang menyertai laporan tersebut.

2. Bank Dunia memperingatkan risiko krisis pangan

Laut Hitam (commons.wikimedia.org/Mostafameraji)

Bank Dunia memperingatkan krisis pangan dapat terjadi apabila El Nino berlangsung sangat kuat, serangan terhadap pengiriman biji-bijian di Laut Hitam dalam perang Rusia-Ukraina meningkat, dan harga energi kembali melonjak akibat perang Iran.

Dalam skenario buruk ketika seluruh risiko tersebut terjadi bersamaan, harga minyak Brent diperkirakan rata-rata mencapai 105 dolar AS (setara Rp1.907.115) per barel pada 2027. Harga komoditas pangan juga berpotensi 12 persen lebih tinggi daripada proyeksi dasar, melampaui level pada 2022.

Bank Dunia memproyeksikan harga energi naik 32 persen sepanjang 2026 sebelum melandai pada 2027. Akan tetapi, proyeksi tersebut mengasumsikan tidak ada eskalasi konflik di Iran maupun Ukraina. 

3. Pasokan minyak global diperkirakan turun

Selat Hormuz (commons.wikimedia.org/MODIS Land Rapid Response Team, NASA GSFC)

Bank Dunia memperkirakan pasokan minyak global turun 5,2 persen pada 2026. Penurunan ini menjadi yang terbesar dalam lebih dari empat dekade apabila periode pandemik COVID-19 dikecualikan. Proyeksi tersebut dipengaruhi oleh perang di Timur Tengah dan konflik Rusia-Ukraina.

Harga energi dan pupuk global melonjak sejak agresi Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari 2026. Iran merespons dengan menyerang sekutu AS di kawasan dan secara efektif membatasi lalu lintas di Selat Hormuz, jalur penting bagi pasokan minyak, gas alam, dan pupuk.

Bank Dunia juga memperkirakan konsumsi minyak global turun 2,5 persen pada 2026. Penurunan ini diproyeksikan menjadi yang terbesar ketiga setelah pandemik COVID-19 dan krisis minyak 1980. Menurut laporan tersebut, penurunan konsumsi turut menahan kenaikan proyeksi harga minyak.

Sejak AS-Israel melancarkan serangan udara ke Iran, Bank Dunia telah memberikan dukungan darurat senilai 8,7 miliar dolar AS (setara Rp158,02 triliun) kepada negara-negara rentan.

"Prioritasnya haruslah melindungi kelompok masyarakat termiskin serta mendukung negara-negara berpenghasilan rendah yang saat ini sudah berjuang menghadapi beban utang yang berat," kata Kase.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article