Selat Hormuz (commons.wikimedia.org/MODIS Land Rapid Response Team, NASA GSFC)
Bank Dunia memperkirakan pasokan minyak global turun 5,2 persen pada 2026. Penurunan ini menjadi yang terbesar dalam lebih dari empat dekade apabila periode pandemik COVID-19 dikecualikan. Proyeksi tersebut dipengaruhi oleh perang di Timur Tengah dan konflik Rusia-Ukraina.
Harga energi dan pupuk global melonjak sejak agresi Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari 2026. Iran merespons dengan menyerang sekutu AS di kawasan dan secara efektif membatasi lalu lintas di Selat Hormuz, jalur penting bagi pasokan minyak, gas alam, dan pupuk.
Bank Dunia juga memperkirakan konsumsi minyak global turun 2,5 persen pada 2026. Penurunan ini diproyeksikan menjadi yang terbesar ketiga setelah pandemik COVID-19 dan krisis minyak 1980. Menurut laporan tersebut, penurunan konsumsi turut menahan kenaikan proyeksi harga minyak.
Sejak AS-Israel melancarkan serangan udara ke Iran, Bank Dunia telah memberikan dukungan darurat senilai 8,7 miliar dolar AS (setara Rp158,02 triliun) kepada negara-negara rentan.
"Prioritasnya haruslah melindungi kelompok masyarakat termiskin serta mendukung negara-negara berpenghasilan rendah yang saat ini sudah berjuang menghadapi beban utang yang berat," kata Kase.