Pupuk Indonesia Dorong Anak Muda Garap Hilirisasi Pertanian

- Pupuk Indonesia mendorong generasi muda menggarap hilirisasi pertanian untuk menaikkan nilai jual panen dan pendapatan petani, sekaligus memperkuat ekosistem pangan yang inovatif.
- Melalui Svarna Bhumi Award 2026, Pupuk Indonesia mengapresiasi wirausaha muda seperti Ella Rizki, yang mengolah kelapa menjadi gula semut dan VCO serta membina lebih dari 500 petani.
- Agradaya yang dipimpin Asri Saraswati Iskandar bermitra dengan lebih dari 300 petani rempah, meningkatkan kualitas pascapanen melalui transfer pengetahuan dan rumah pengering tenaga surya.
Jakarta, IDN Times - PT Pupuk Indonesia (Persero) mendorong generasi muda mengembangkan hilirisasi komoditas pertanian untuk meningkatkan nilai jual hasil panen dan pendapatan petani.
Peluang ini tercermin dari kiprah dua wirausaha muda, Ella Rizki dan Asri Saraswati Iskandar, yang berhasil mengembangkan produk olahan kelapa dan rempah hingga menembus pasar internasional.
1. Ketahanan pangan tidak hanya bergantung pada ketersediaan dan keterjangkauan pupuk

Lahan pertanian di Desa Kabar Kecamatan Sakra Lotim saat ditanami padi (IDN Times/Ruhaili) Sekretaris Perusahaan Pupuk Indonesia Yehezkiel Adiperwira mengatakan, ketahanan pangan nasional tidak hanya bergantung pada ketersediaan dan keterjangkauan pupuk. Penguatan ekosistem pertanian, termasuk inovasi pengolahan hasil panen, juga diperlukan agar sektor ini lebih menarik bagi generasi muda.
"Ketahanan pangan nasional tidak hanya bergantung pada ketersediaan dan keterjangkauan pupuk, tetapi juga penciptaan ekosistem pertanian yang kuat dan inovatif untuk keberlanjutan sektor pertanian. Kami melihat keterlibatan generasi muda dalam mengoptimalkan hilirisasi usaha tani dapat memberikan nilai ekonomi yang lebih optimal bagi para petani,” ujar Yehezkiel dalam keterangannya,dikutip Jumat (30/10/2026).
Komitmen tersebut salah satunya diwujudkan melalui Svarna Bhumi Award 2026, ajang apresiasi bagi pelaku pertanian yang memberikan kontribusi nyata bagi sektor pangan. Melalui program ini, Pupuk Indonesia mengangkat kiprah wirausaha muda yang mengembangkan potensi lokal dan menghadirkan inovasi di sektor pertanian
2. Kembangkan usaha pengolahan kelapa

Komoditi eksportir kelapa (IDN Times/Feny Maulia Agustin) Ella Rizki mengembangkan usaha pengolahan kelapa berangkat dari potensi yang ada di lingkungan tempat tinggalnya. Berasal dari keluarga petani nira kelapa di Desa Trenten, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Ella melihat komoditas kelapa memiliki peluang ekonomi lebih besar jika diolah sebelum dipasarkan.
Pada 2015, Ella membentuk Kelompok Wanita Tani (KWT) Nira Lestari. Melalui kelompok tersebut, ia mendorong pengolahan kelapa menjadi sejumlah produk, seperti gula semut dan virgin coconut oil (VCO).
Usaha itu berkembang hingga mampu menjangkau pasar internasional. Ella juga melibatkan dan membina lebih dari 500 petani di berbagai daerah melalui KWT Nira Lestari.
Menurut Ella, pengolahan hasil pertanian tidak hanya membuka peluang pasar baru, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat yang terlibat dalam rantai produksi.
“Kelapa yang dulu cuma dijual mentah, sekarang bisa jadi produk yang menembus pasar ekspor. Inilah salah satu contoh hilirisasi usaha tani yang bukan sekadar mengolah, tapi sekaligus mampu mengubah nasib ekonomi petani lokal. Semoga semakin banyak desa yang berani mengambil langkah serupa,” ujar Ella.
3. Olah rempah, Agradaya gandeng lebih dari 300 petani

Pemberdayaan petani dan pengolahan rempah di kawasan Perbukitan Menoreh, Kulon Progo. (Dok/Istimewa). Upaya meningkatkan nilai tambah komoditas lokal juga dilakukan Asri Saraswati Iskandar bersama suaminya, Andhika Mahardika, melalui usaha Agradaya. Setelah berpindah dari kota ke pedesaan di Yogyakarta, Asri mengembangkan usaha yang berfokus pada pemberdayaan petani dan pengolahan rempah di kawasan Perbukitan Menoreh, Kulon Progo.
Asri melihat petani di wilayah tersebut telah membudidayakan rempah, tetapi sebagian besar masih berperan sebagai pemasok bahan baku. Sementara itu, proses pengolahan dilakukan di tempat lain sehingga nilai tambah produk belum sepenuhnya dinikmati petani.
Agradaya kemudian mendorong petani untuk meningkatkan kualitas hasil panen melalui pemahaman proses pascapanen dan standar mutu yang dibutuhkan pasar.
Salah satu inovasi yang digunakan adalah solar dryer house atau rumah pengering tenaga surya. Fasilitas ini membantu proses pengeringan hasil panen tanpa terlalu bergantung pada kondisi cuaca. Saat ini, Agradaya telah bermitra dengan lebih dari 300 petani dan memasarkan produknya ke pasar internasional.
“Bagi kami, hilirisasi akan lebih optimal jika kami tidak hanya melahirkan inovasi pengolahan komoditas, namun memberi transfer pengetahuan agar petani dapat memiliki kapasitas untuk meningkatkan nilai komoditas panen mereka kini dan nanti,” ujar Asri.
Melalui pendekatan tersebut, petani tidak hanya memasok bahan mentah, tetapi juga memperoleh pengetahuan untuk meningkatkan kualitas dan nilai jual hasil panen. Transfer pengetahuan ini diharapkan dapat memperkuat kemampuan petani dalam mengembangkan usaha secara berkelanjutan.





















