OJK: Denda Kasus Saham DSSA, BREN, dan CUAN Rp2,1 T Sudah Dibayar

- OJK menyatakan denda total Rp2,1 triliun atas kasus dugaan manipulasi saham DSSA, BREN, dan CUAN telah dibayar dua hari sebelumnya.
- Rincian denda meliputi Rp1,5 triliun untuk kasus DSSA, Rp500 miliar untuk BREN, dan Rp100 miliar untuk CUAN; pembayaran dilakukan pihak yang terlibat, bukan emiten.
- OJK melanjutkan reformasi pasar modal, mengintensifkan komunikasi dengan investor global, serta menilai dukungan investor ritel domestik penting di tengah fundamental ekonomi yang kuat.
Jakarta, IDN Times - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan denda terkait kasus dugaan manipulasi saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) senilai total Rp2,1 triliun telah dibayarkan. Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, mengatakan pembayaran denda tersebut telah dilakukan dua hari lalu.
"Sudah, sudah bayar dua hari lalu, sebesar Rp 2,1 triliun sudah bayar," kata Friderica saat ditemui di sela Rapimnas Kadin 2026 di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Kamis (29/10/2026).
Adapun rincian denda tersebut terdiri dari Rp1,5 triliun terkait kasus DSSA, Rp500 miliar terkait BREN, dan Rp100 miliar terkait CUAN. Friderica menegaskan, pihak yang membayar denda bukan ketiga emiten tersebut, melainkan yang terbukti terlibat dalam pelanggaran.
"Bukan emitennya ya (yang bayar). Jadi pihak-pihak itu sudah bayar," ujarnya.
Di sisi lain, OJK memastikan reformasi pasar modal akan terus berlanjut. Regulator juga aktif meyakinkan investor global mengenai berbagai langkah pembenahan yang tengah dilakukan.
Friderica mengatakan, OJK mengintensifkan komunikasi dengan investor asing untuk menjelaskan perkembangan reformasi pasar modal Indonesia.
"Saya banyak ketemu dengan investor global tiap hari. Tadi pagi mungkin kita sudah sesi ketiga, nanti malam ada lagi. Jadi kita terus berusaha meyakinkan tentang reformasi yang kita lakukan," kata Friderica.
Dia juga menegaskan, fundamental ekonomi Indonesia masih kuat dan solid. Karena itu, dukungan investor ritel domestik dinilai penting untuk menopang proses reformasi pasar modal.



















