Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Bank Sentral Perlu Perkuat Kolaborasi Hadapi Risiko AI

3 min read
Bank Sentral Perlu Perkuat Kolaborasi Hadapi Risiko AI
Konferensi Tingkat Tinggi South East Asian Central Banks (SEACEN) di Bali, Indonesia (5/10). (Dok. Bank Indonesia)
  • Bank sentral Asia Tenggara didorong memperkuat kolaborasi menghadapi risiko AI demi menjaga stabilitas dan ketahanan sistem keuangan.
  • BI menetapkan prioritas berupa tata kelola AI terpercaya, pemanfaatan AI untuk pembayaran, serta kolaborasi SEACEN melalui dialog kebijakan, pengembangan kapasitas, dan riset.
  • SEACEN menyoroti pentingnya interoperabilitas pembayaran lintas negara, standar kompatibel, pengelolaan risiko, serta antisipasi ketergantungan pada penyedia platform AI tertentu.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Perkembangan kecerdasan artifisial (AI) mendorong bank sentral di kawasan Asia Tenggara memperkuat kerja sama untuk menjaga stabilitas dan ketahanan sistem keuangan.

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Ricky P. Gozali mengatakan, perkembangan AI menghadirkan tantangan yang tidak dapat dihadapi oleh satu negara secara sendiri. Karena itu, diperlukan pendekatan bersama untuk membangun tata kelola AI yang terpercaya sekaligus memanfaatkan teknologi tersebut untuk mendukung sistem keuangan.

"AI menghadirkan tantangan yang perlu dihadapi secara bersama oleh berbagai negara," ujar Ricky dalam pembukaan Konferensi Tingkat Tinggi South East Asian Central Banks (SEACEN) di Bali, Senin (5/10/2026).

Adapun konferensi yang mengangkat tema "Central Banking in the Age of Artificial Intelligence: Payments, Regulation, and Financial Stability for a Connected Asia" mempertemukan berbagai perspektif mengenai perkembangan AI dan implikasinya terhadap kebijakan bank sentral.

Sesi diskusi panel menghadirkan narasumber dari European Central Bank, Bank of Korea, Hong Kong Monetary Authority, Banque de France, Asian Development Bank Institute, University of Tokyo, Kolaborasi Riset dan Inovasi Industri Kecerdasan Artifisial (KORIKA), dan Bank Rakyat Indonesia.

  1. 1. Ada 3 prioritas bank sentral hadapi perkembangan AI

    Konferensi Tingkat Tinggi South East Asian Central Banks (SEACEN) di Bali, Indonesia (5/10).
    Konferensi Tingkat Tinggi South East Asian Central Banks (SEACEN) di Bali, Indonesia (5/10). (Dok. Bank Indonesia)

    Menurut Ricky, terdapat tiga prioritas bank sentral dalam menghadapi perkembangan AI. Pertama, membangun tata kelola AI yang terpercaya, transparan, dan akuntabel.

    Kedua, memanfaatkan AI untuk membangun ekosistem pembayaran yang lebih efisien, aman, inklusif, dan berdaya tahan. Ketiga, memperkuat kolaborasi regional melalui SEACEN, termasuk melalui dialog kebijakan, pengembangan kapasitas, dan riset bersama.

    "AI menghadirkan tantangan yang tidak dapat dihadapi satu negara sendiri. Melalui kolaborasi di kawasan, seperti SEACEN, kita dapat mengembangkan pendekatan bersama yang mendorong inovasi sekaligus menjaga stabilitas sistem keuangan," tegasnya.

  2. 2. Pertukaran pengetahuan dan pengalaman antarbank sentral juga semakin penting

    Konferensi Tingkat Tinggi South East Asian Central Banks (SEACEN) di Bali, Indonesia (5/10).
    Konferensi Tingkat Tinggi South East Asian Central Banks (SEACEN) di Bali, Indonesia (5/10). (Dok. Bank Indonesia)

    Ricky menambahkan, pertukaran pengetahuan dan pengalaman antarbank sentral juga semakin penting seiring pesatnya perkembangan teknologi.

    "Seiring dengan semakin cepatnya transformasi teknologi, pengetahuan dan pengalaman bersama akan semakin berharga dalam membentuk masa depan bank sentral," katanya.

    Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan 25th SEACEN Executive Committee (EXCO) Meeting pada 6 Oktober 2026 yang dipimpin Ricky. Pertemuan membahas penguatan tata kelola dan kelembagaan SEACEN sebagai pusat pembelajaran dan kolaborasi bank sentral di kawasan.

    "Penguatan tata kelola, efektivitas organisasi, dan akuntabilitas menjadi landasan penting agar kolaborasi melalui SEACEN terus memberikan nilai tambah bagi anggotanya," tutup Ricky.

    Ke depan, Bank Indonesia akan terus memperkuat sinergi dan kolaborasi dengan bank sentral serta mitra internasional untuk memperkuat kesiapan kawasan dalam membangun ekosistem keuangan yang inovatif, aman, inklusif, dan berdaya tahan.

  3. 3. Perkuat konektivitas pembayaran

    ilustrasi pembayaran nontunai (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)
    ilustrasi pembayaran nontunai (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)

    Sementara itu, Direktur Eksekutif The SEACEN Centre Cynyoung Park menilai interoperabilitas sistem pembayaran lintas negara menjadi salah satu kunci untuk mendorong integrasi ekonomi kawasan.

    Menurutnya, keterhubungan antarsistem pembayaran perlu didukung standar dan pengaturan yang kompatibel. Selain itu, diperlukan kerangka pengelolaan likuiditas dan risiko penyelesaian transaksi yang jelas.

    Penguatan fondasi tersebut akan mendukung perluasan konektivitas pembayaran untuk kebutuhan perdagangan dan investasi regional.

    Di sisi lain, Kepala Ekonom United Nations Development Programme (UNDP) untuk Asia dan Pasifik Philip Schellekens menilai kepercayaan menjadi fondasi penting bagi bank sentral di tengah perkembangan AI.

    Bank sentral, menurut dia, perlu memahami perubahan yang ditimbulkan AI terhadap perekonomian dan teknologi. Bank sentral juga perlu mengantisipasi potensi risiko sistemik akibat ketergantungan terhadap penyedia platform AI tertentu.

Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More