Benarkah Proyek WTE Danantara Bisa Libatkan Masyarakat?

- Proyek WTE Danantara menekankan pentingnya pelibatan masyarakat sejak tahap perencanaan agar proyek memiliki legitimasi sosial dan memberi manfaat ekologi, ekonomi, serta sosial bagi warga sekitar.
- Keberhasilan teknologi WTE bergantung pada kontribusi aktif masyarakat dalam memilah sampah dari sumbernya karena karakteristik sampah Indonesia didominasi bahan organik berkadar air tinggi.
- DENERA berkomitmen melibatkan pemulung dan tenaga kerja lokal dalam operasional proyek untuk menciptakan manfaat ekonomi langsung serta menjaga kolaborasi dengan pemerintah daerah dan pihak setempat.
Jakarta, IDN Times - Teknologi Waste-to-Energy (WTE) atau pengelolaan sampah menjadi energi listrik kini tengah dikembangkan oleh PT Daya Energi Bersih Nusantara (DENERA), anak perusahaan di bawah Danantara Indonesia.
Proyek itu disebut-sebut sebagai salah satu solusi mengatasi masalah sampah nasional. Namun, muncul pertanyaan apakah proyek sebesar ini bisa melibatkan masyarakat? Cek faktanya.
1. Masyarakat harus dilibatkan

Pelibatan masyarakat terdampak bukan sekadar formalitas dalam proses perizinan, melainkan bagian integral yang menjadi fondasi keberlanjutan proyek. Sustainability Provocateur dan Founder Social Investment Indonesia, Jalal mengatakan warga sekitar harus dilibatkan sejak awal agar proyek tidak kehilangan legitimasi sosialnya.
“Masyarakat juga harus mendapatkan manfaat ekologi, ekonomi dan sosial dari keberadaan proyek tersebut. Warga sekitar harus dilibatkan sejak tahap perencanaan, mendapatkan akses terhadap informasi emisi secara terbuka, serta memperoleh manfaat nyata dari proyek yang dibangun," ujar Jalal dalam keterangannya.
Melihat bentuk kontribusi yang bisa diberikan masyarakat, maka benar bahwa proyek WTE juga bisa melibatkan masyarakat demi kelancarannya.
2. Kontribusi nyata masyarakat sangat dibutuhkan untuk memilah sampah di hulu

Teknologi WTE tidak bisa berjalan sendiri sebagai solusi tunggal tanpa adanya peran aktif masyarakat dalam memilah sampah dari sumbernya (rumah tangga, komersial, dan industri). Kontribusi itu sangat krusial karena karakteristik sampah di Indonesia didominasi oleh bahan organik yang memiliki kadar air tinggi.
Chief Executive Officer DENERA sekaligus Director Investment Danantara Investment Management (DIM), Fadli Rahman mengajak masyarakat berkontribusi nyata dari hulu hingga hilir.
"Kami dengan kerendahan hati mengajak seluruh masyarakat untuk mendukung setiap upaya penanganan sampah, baik di skala kecil maupun skala besar, dari hulu hingga hilir, mulai dari pemilahan sampah hingga penerapan berbagai teknologi... Karena isu sampah bukan lagi sekadar persoalan hari ini. Persoalan ini sudah menjadi isu generasional dan telah berkembang menjadi isu sosial," kata Fadli.
3. Selain pemilahan, masyarakat dan pekerja lokal dilibatkan dalam operasional proyek

Bentuk kontribusi dan keterlibatan masyarakat tidak berhenti di hulu saja. Dalam pelaksanaannya, proyek itu dirancang untuk mengintegrasikan pemulung serta memaksimalkan penyerapan tenaga kerja lokal di wilayah sekitar proyek agar masyarakat mendapatkan manfaat ekonomi langsung.
Fadli Rahman menjelaskan bahwa Denera berkomitmen menjaga tata kelola (governance) yang ketat, termasuk berkolaborasi erat dengan pihak setempat.
"Kami memastikan kolaborasi dengan pemerintah daerah dan pihak lokal berjalan dengan baik, termasuk memaksimalkan penggunaan tenaga kerja lokal," ucap Fadli.


















