Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

BI Perluas Underlying Operasi Moneter, Ini Hasil Capaiannya

3 min read
BI Perluas Underlying Operasi Moneter, Ini Hasil Capaiannya
Gubernur BI Destry Damayanti. (Dok/Bank Indonesia)
  • Bank Indonesia memperluas underlying operasi moneter dengan obligasi dan sukuk korporasi berkualitas tinggi untuk memperkuat transmisi kebijakan melalui pasar uang dan valuta asing.
  • Sejak November 2025 hingga September 2026, transaksi repo berbasis surat berharga SMF mencapai Rp1,25 triliun; BI juga menggelar lelang repo perdana surat berharga PT SMI Rp60 miliar.
  • Volume transaksi sekunder surat berharga SMF naik dari Rp31,9 miliar menjadi Rp179,9 miliar per hari, sementara kepemilikan bank meningkat 18 persen; BI memperkuat koordinasi dengan otoritas terkait.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Bank Indonesia (BI) memperluas surat berharga yang dapat digunakan sebagai underlying dalam operasi moneter dengan memasukkan obligasi dan sukuk korporasi berkualitas tinggi.

"Perluasan ini merupakan salah satu upaya penguatan pelaksanaan kebijakan moneter melalui operasi moneter pro-market yaitu operasi moneter yang terintegrasi dengan pengembangan Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing (PUVA)," ungkap Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti dalam keterangan tertulis, Senin (5/9/2026).

  1. 1. Efektivitas kebijakan moneter sangat bergantung pada transmisi melalui pasar keuangan

    Ilustrasi Obligasi/Surat Berharga (IDN Times/Aditya Pratama)
    Ilustrasi Obligasi/Surat Berharga (IDN Times/Aditya Pratama)

    Destry menjelaskan, sinyal kebijakan moneter perlu mengalir melalui Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing (PUVA) agar dapat memengaruhi transaksi dan pembiayaan dunia usaha dan rumah tangga.

    Melalui operasi moneter pro-market, Bank Indonesia tidak hanya mengelola likuiditas, suku bunga, dan nilai tukar, tetapi juga mendorong aktivitas transaksi di pasar keuangan, yang kemudian mendukung kegiatan ekonomi di sektor riil.

    Sejalan dengan pengembangan ekosistem pasar keuangan yang semakin terintegrasi, perluasan underlying ini diharapkan dapat terus berkembang, mendorong transaksi pasar sekunder, memperkuat pembentukan harga, dan pada akhirnya mendukung pembiayaan bagi sektor riil, termasuk perumahan dan infrastruktur.

    “Efektivitas kebijakan moneter sangat bergantung pada transmisi melalui pasar keuangan yang dalam, likuid, dan efisien," ujar Destry.

  2. 2. Capaian dari kebijakan perluasan surat berharga sebagai underlying operasi moneter

    Ilustrasi obligasi (IDN Times/Aditya Pratama)
    Ilustrasi obligasi (IDN Times/Aditya Pratama)

    Bank Indonesia menyebut perluasan tersebut mulai menunjukkan realisasi. Sejak diluncurkan pada 10 November 2025 hingga 30 September 2026, total transaksi repo operasi moneter dengan underlying obligasi dan sukuk korporasi PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF telah mencapai Rp1,25 triliun.

    "Perluasan underlying tersebut kemudian dilakukan dengan menambahkan obligasi dan sukuk korporasi PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) atau PT SMI, dengan lelang repo perdana pada 28 September 2026 sebesar Rp60 miliar," ujarnya.

  3. 3. Terjadi peningkatan volume transaksi surat berharga SMF di pasar sekunder

    Logo Bank Indonesia
    Logo Bank Indonesia

    Kebijakan ini juga memberikan dampak positif terhadap aktivitas di pasar keuangan, tercermin dari peningkatan volume transaksi surat berharga PT SMF di pasar sekunder dari rata-rata Rp31,9 miliar per hari pada Oktober 2025 menjadi Rp179,9 miliar per hari pada akhir Agustus 2026.

    Pada periode yang sama, kepemilikan bank atas obligasi PT SMF meningkat 18 persen, dari Rp8,69 triliun menjadi Rp10,22 triliun. Perkembangan tersebut menunjukkan respons positif pasar yang perlu terus didorong untuk mendukung pendalaman pasar keuangan di Indonesia.

    Dengan demikian, Bank Indonesia akan terus memperkuat sinergi dan koordinasi dengan Kementerian Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan, serta lembaga terkait untuk mendukung implementasi operasi moneter pro-market.

    "Perluasan underlying operasi moneter tersebut diharapkan dapat meningkatkan fleksibilitas pengelolaan likuiditas perbankan, mendorong aktivitas transaksi surat berharga korporasi di pasar sekunder, dan mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berkelanjutan," ujar Destry.

  4. 4. Kemenkeu komitmen jaga kredbilitas di mata investor

    Screenshot_20261005_171815_Samsung Browser.jpg
    Bank Indonesia lakukan peresmian Perluasan Surat Berharga sebagai Underlying Operasi Moneter oleh Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti dan Menteri Keuangan Republik Indonesia Suahasil Nazara. (Dok/Istimewa).

    Menteri Keuangan (Menkeu) Suahasil Nazara menegaskan komitmen Pemerintah untuk menjaga perekonomian Indonesia dan memperkuat kredibilitas kebijakan di mata investor.

    “Kami di Kementerian Keuangan, bersama LPS dan Danantara selaku sovereign wealth fund, akan terus menjaga perekonomian Indonesia dan membangun kredibilitas kebijakan bagi seluruh investor, dimanapun mereka berada," ucapnya.

Share Article
Editorial Team

Ambang Batas Jelang Pemilu 2029

Related Articles

See More