Purbaya Klaim Bisa Bikin Rupiah Menguat dalam Semalam

- Hingga siang ini rupiah melemah ke Rp16.967 per dolar AS
- Tak ada alasan rupiah melemah karena aliran inflow masih masuk ke pasar keuangan
- Tekanan rupiah tidak serta merta cerminkan memburuknya fundamental ekonomi
Jakarta, IDN Times - Menteri Keuangan Republik Indonesia, Purbaya Yudhi Sadewa, mengklaim dapat membalikkan tekanan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menjadi penguatan dalam waktu singkat. Bahkan, menurutnya, hal tersebut bisa dilakukan hanya dalam semalam.
Meski demikian, Purbaya menegaskan stabilisasi nilai tukar rupiah bukan menjadi kewenangannya, melainkan otoritas Bank Indonesia (BI) sebagai bank sentral Republik Indonesia.
"Saya tahu betul alasannya kenapa rupiah melemah dan bisa memperbaikinya dalam dua hari. Bahkan, semalam dua malam selesai. Tapi, saya bukan bank sentral," ujar Purbaya saat ditemui di kawasan Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, dikutip Rabu (21/1/2025).
1. Hingga siang ini rupiah melemah ke Rp16.967 per dolar AS

Bila mengacu pada data Bloomberg pada pukul 11.25 WIB, pergerakan rupiah berada di level Rp16.967 per dolar AS atau melemah 11 poin atau 0,06 persen dari penutupan kemarin, seiring meningkatnya tekanan eksternal dan sikap pelaku pasar yang cenderung berhati-hati terhadap dinamika global.
Purbaya meminta agar pertanyaan terkait kondisi rupiah diarahkan kepada Bank Indonesia (BI) sebagai otoritas moneter. Dia enggan memberikan penjelasan lebih jauh karena khawatir menimbulkan polemik di ruang publik.
"Silakan tanya ke bank sentral. Nanti saya terus dipancing masuk ke wilayah itu. Kalau saya kelepasan bicara, bisa ribut lagi di luar. Yang jelas, saya tahu alasannya," kata Purbaya.
2. Tak ada alasan rupiah melemah karena aliran inflow masih masuk ke pasar keuangan

Meski demikian, Purbaya menilai nilai tukar rupiah saat ini telah melemah jauh dari fundamentalnya atau berada dalam kondisi undervalued. Oleh karena itu, dia menilai bank sentral sudah seharusnya mengambil peran untuk merespons kondisi tersebut.
"Tidak ada alasan rupiah melemah ketika modal justru masuk ke Indonesia. Menurut Anda bagaimana? Makanya ada yang aneh, kan? Itu yang sebaiknya ditanyakan ke bank sentral," kata Purbaya.
3. Tekanan rupiah tidak serta merta cerminkan memburuknya fundamental ekonomi

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet, mengatakan pelemahan rupiah tidak serta-merta mencerminkan memburuknya fundamental ekonomi Indonesia. Sebab, tekanan terhadap nilai tukar saat ini lebih banyak dipicu faktor global yang sangat kuat, mulai dari penguatan dolar AS, arah kebijakan suku bunga The Fed, ketegangan geopolitik, hingga perubahan selera risiko investor.
"Dalam konteks ini, rupiah lebih banyak bereaksi terhadap sentimen eksternal, meskipun memang terdapat faktor domestik yang membuatnya lebih sensitif," kata Yusuf.
Dari sisi struktural, tekanan juga datang dari arus modal asing dan tingginya ketergantungan impor. Ketika investor global menarik dana dari pasar obligasi dan saham domestik, permintaan terhadap dolar AS meningkat sehingga rupiah langsung tertekan. Pada saat yang sama, struktur ekonomi Indonesia masih bergantung pada impor energi, pangan, dan bahan baku, yang membuat kebutuhan devisa tetap tinggi.
“l"Kombinasi arus keluar modal dan kebutuhan impor inilah yang membuat rupiah rentan melemah ketika sentimen global memburuk," ujarnya.
Terkait asumsi kurs dalam APBN sebesar Rp16.500 per dolar AS, Yusuf menilai angka tersebut terlihat cukup optimistis ketika pergerakan pasar uang sudah mendekati Rp16.900 per dolar AS.
"Masalahnya bukan hanya selisih angka, tetapi risiko fiskalnya. Dalam skenario pelemahan rupiah, kenaikan belanja pemerintah cenderung lebih besar dibandingkan tambahan penerimaan yang mungkin muncul," jelasnya.
Subsidi energi, pembayaran bunga utang valas, serta belanja pemerintah yang berbasis impor berpotensi meningkat, sementara potensi windfall di sisi penerimaan relatif terbatas. Jika pelemahan rupiah berlangsung dalam jangka waktu lama, tekanan terhadap APBN akan semakin nyata.
Dari sisi kebijakan moneter, Bank Indonesia (BI) dinilai masih memiliki kredibilitas yang kuat. Keputusan menahan suku bunga acuan di level saat ini membantu menjaga daya tarik aset berdenominasi rupiah. Selain itu, BI juga aktif melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk meredam volatilitas.
Namun, intervensi pada dasarnya hanya mampu menahan gejolak jangka pendek dan tidak serta-merta membalikkan arah tren apabila tekanan global sangat kuat. Dari sisi keberlanjutan, BI juga perlu memastikan cadangan devisa tidak terkuras hanya untuk melawan sentimen pasar.


















