Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
BI: Rupiah Relatif Stabil, Sempat Menguat ke Rp 17.885 per Dolar AS
ilustrasi cadangan devisa (unsplash.com/ Viacheslav Bublyk)
  • Rupiah sempat menguat ke Rp17.885 per dolar AS pada 21 Juli 2026 sebelum kembali melemah tipis, namun BI menilai nilainya tetap relatif stabil dibanding akhir Juni 2026.
  • Bank Indonesia menjaga stabilitas rupiah lewat intervensi di pasar valas dan peningkatan suku bunga SRBI yang berhasil menarik minat investor nonresiden secara signifikan.
  • BI juga memberi insentif tambahan seperti penurunan tingkat buy swap dan memperluas instrumen operasi moneter untuk meningkatkan daya tarik investasi asing di pasar keuangan domestik.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Bank Indonesia (BI) menyebut nilai tukar rupiah menguat ke level Rp17.885 per dolar Amerika Serikat (AS) pada 21 Juli 2026. Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar atau kurs rupiah tercatat mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Rabu (22/7/2026).

Nilai tukar rupiah melemah 29 poin atau 0,16 persen ke level Rp17.917 per dolar AS. Posisi tersebut merosot dari penutupan sebelumnya yang berada di level Rp17.888 per dolar AS.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, meski sempat mengalami tekanan, pergerakan rupiah kini kembali stabil dibandingkan posisi akhir Juni 2026.

"Rupiah telah menguat ke Rp 17.885 per dolar Amerika Serikat pada 21 Juli 2026, setelah sempat melemah sejak akhir Juni 2026 akibat meningkatnya konflik di Timur Tengah dan menguatnya ekspektasi pasar terhadap kenaikan Fed Fund Rate (FFR)," ujar Perry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur BI, Rabu (22/7/2026).

1. Rupiah diklaim relatif stabil

Ilustrasi dolar AS (freepik.com/jcomp)

Menurut Perry, stabilitas rupiah juga tercermin dari posisinya yang relatif tidak berubah dibandingkan akhir Juni 2026.

"Dengan perkembangan tersebut, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat relatif stabil dibandingkan dengan level akhir Juni 2026 sebesar Rp17.880 per dolar AS," katanya.

2. BI optimalkan intervensi untuk stabilkan rupiah

ilustrasi 100 dolar AS (pexels.com/Engin Akyurt)

Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, BI terus mengoptimalkan bauran kebijakan melalui intervensi di pasar valuta asing, baik di pasar domestik maupun internasional. Selain melakukan intervensi di pasar valas, BI juga memperkuat daya tarik aset keuangan domestik dengan menaikkan suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Kebijakan tersebut mulai membuahkan hasil. Perry mengungkapkan, kepemilikan investor nonresiden pada instrumen SRBI meningkat signifikan dalam satu bulan terakhir.

"Kepemilikan nonresiden di SRBI meningkat dari Rp238,1 triliun pada 15 Juni 2026 menjadi Rp288,7 triliun, atau mencapai 27,1 persen dari total outstanding," ungkapnya.

3. BI tebar insentif tambahan untuk dorong minat asing investasi di pasar keuangan

Petugas menghitung uang pecahan dolar AS dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Rabu (6/11/2024). ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga

Di sisi lain, BI juga memberikan insentif tambahan guna meningkatkan minat investor asing berinvestasi di pasar keuangan domestik.

"Bank Indonesia mengoptimalkan seluruh instrumen moneter dan memberikan insentif berupa penurunan tingkat buy swap pada instrumen BI FX Swap sebesar 10 persen bagi investor asing. Langkah ini dilakukan untuk semakin meningkatkan daya tarik aliran modal asing sekaligus mengompensasi biaya yang selama ini ditanggung investor," jelas Perry.

Lebih lanjut, BI juga memperluas instrumen operasi moneter di pasar valuta asing guna meningkatkan efektivitas kebijakan stabilisasi nilai tukar.

"BI juga memperluas instrumen operasi moneter valuta asing melalui instrumen swap serta swap dalam valuta offshore Chinese Renminbi terhadap rupiah," tutupnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article