Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
BI Ubah Pendekatan Hadapi Perubahan Lanskap Ekonomi-Keuangan Global
Ilustrasi Kantor Bank Indonesia. (IDN Times/Hana Adi Perdana)
  • Bank Indonesia menilai pendekatan kebijakan sektoral tidak lagi memadai di tengah fragmentasi geoekonomi, transformasi digital, dan risiko sistemik.
  • Bank sentral didorong mengintegrasikan kebijakan moneter, makroprudensial, sistem pembayaran, pasar keuangan, serta koordinasi fiskal.
  • Konferensi BMEB membahas AI, inovasi keuangan, uang digital, dan kebutuhan koordinasi kebijakan yang lebih erat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
31 Juli 2026

Destry Damayanti membuka Konferensi Internasional BMEB ke-20 dan Call for Papers di Bali.

Rabu (5/8/2026)

Pernyataan Destry mengenai komitmen BI memperkuat ekosistem riset dikutip dari keterangan resmi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Bank Indonesia mengubah pendekatan untuk menghadapi perubahan lanskap ekonomi-keuangan global dan menetapkan prioritas riset.
  • Who?
    Destry Damayanti, Bank Indonesia, Juda Agung, peneliti, akademisi, pembuat kebijakan, dan lembaga internasional.
  • Where?
    Konferensi Internasional BMEB ke-20 dan Call for Papers digelar di Bali.
  • When?
    Destry membuka konferensi pada 31 Juli 2026. Pernyataannya dikutip dari keterangan resmi pada Rabu (5/8/2026).
  • Why?
    Fragmentasi geoekonomi, transformasi digital, ketidakpastian global, dan risiko sistemik membuat pendekatan sektoral dinilai tidak lagi memadai.
  • How?
    Melalui integrasi kebijakan moneter, makroprudensial, sistem pembayaran, pasar keuangan, koordinasi fiskal, serta penguatan riset berbasis bukti.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bu Destry dari Bank Indonesia bilang aturan bank tidak bisa jalan sendiri. Bank perlu bekerja bersama aturan uang negara dan sistem pembayaran. Mereka juga membahas komputer pintar, uang digital, dan kripto. Banyak peneliti dan orang dari banyak negara ikut konferensi di Bali.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Penguatan ekosistem riset yang berkualitas dan relevan dapat mendukung perumusan kebijakan berbasis bukti. Pembahasan bersama peneliti, akademisi, pembuat kebijakan, dan lembaga internasional juga membuka ruang pertukaran pandangan mengenai perubahan digital, risiko sistemik, serta kebutuhan koordinasi untuk menjaga stabilitas ekonomi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Pejabat Gubernur Sementara (PGS) Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengatakan, pendekatan kebijakan yang berjalan secara sektoral tidak lagi memadai di tengah fragmentasi geoekonomi, transformasi digital, dan meningkatnya risiko sistemik.

Menurutnya, bank sentral kini dituntut mengintegrasikan kebijakan moneter, makroprudensial, sistem pembayaran, pasar keuangan, hingga koordinasi dengan kebijakan fiskal. Hal ini disampaikan Destry saat membuka Konferensi Internasional Bulletin of Monetary Economics and Banking (BMEB) ke-20 dan Call for Papers di Bali, 31 Juli 2026.

"Bank Indonesia berkomitmen untuk terus memperkuat ekosistem riset yang berkualitas dan relevan bagi kebijakan guna mendukung perumusan kebijakan berbasis bukti (evidence-based policymaking) di tengah perubahan lanskap ekonomi dan keuangan global," katanya, dikutip dari keterangan resmi BI, Rabu (5/8/2026).

1. BI tetapkan empat prioritas riset

ilustrasi dokumen analisis data riset pasar dengan batang grafik (pexels.com/Proyek Saham RDNE) merah dan pensil

Destry mengatakan, riset bank sentral perlu diarahkan pada empat agenda utama agar mampu menjawab tantangan yang terus berkembang. Prioritas pertama adalah memperkuat pemahaman mengenai transmisi kebijakan moneter di tengah fragmentasi geoekonomi.

Kedua, memperdalam analisis mengenai perkembangan keuangan digital, termasuk sistem pembayaran digital, akal imitasi (AI), fintech, aset kripto, dan mata uang digital beserta dampaknya terhadap kebijakan bank sentral.

Prioritas ketiga ialah mengembangkan pengukuran risiko sistemik dan pengawasan makrofinansial yang mampu mengantisipasi risiko siber, perubahan iklim, likuiditas, hingga risiko lintas negara. Sementara prioritas keempat berfokus pada penguatan kredibilitas kelembagaan serta komunikasi kebijakan untuk menjaga kepercayaan publik.

2. Kebijakan moneter tidak bisa berjalan sendiri

ilustrasi kebijakan moneter (Freepik.com/nafan1980)

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung mengatakan, ketidakpastian global yang semakin kompleks menuntut koordinasi kebijakan yang lebih kuat.

Menurutnya, kebijakan moneter tidak bisa bekerja sendiri dalam menghadapi trilema antara stabilitas nilai tukar, mobilitas arus modal, dan independensi kebijakan moneter. Kebijakan tersebut perlu didukung kebijakan fiskal, makroprudensial, serta pengelolaan likuiditas yang saling melengkapi.

Dia menilai, koordinasi antarlembaga menjadi faktor penting untuk menjaga stabilitas makroekonomi sekaligus mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi.

3. AI, kripto dan uang digital ikut jadi sorotan

ilustrasi AI (vecteezy.com/Muchlis Nugroho)

Konferensi BMEB juga membahas berbagai isu yang dinilai semakin mempengaruhi kebijakan bank sentral. Pada aspek fragmentasi geoekonomi, para akademisi menyoroti besarnya pengaruh guncangan global terhadap kebijakan moneter, perdagangan, dan investasi.

Kondisi tersebut dinilai membutuhkan koordinasi kebijakan yang lebih erat, pemanfaatan analisis berbasis skenario, serta kerja sama internasional untuk menjaga stabilitas ekonomi dan ketahanan investasi. Sementara pada transformasi digital, pembahasan berfokus pada perkembangan AI dan inovasi keuangan yang mengubah sistem pembayaran, uang, dan pasar keuangan.

Forum itu juga mengulas berbagai bentuk uang digital, seperti stablecoins, tokenized deposits, dan wholesale central bank digital currencies (CBDC), serta pentingnya membangun ekosistem keuangan digital yang efisien, saling terhubung, dan tangguh. Konferensi BMEB diikuti peneliti, akademisi, pembuat kebijakan, dan lembaga internasional. Tahun ini, Call for Papers BMEB menerima 354 naskah dari 34 negara.

Curated For You

Editorial Team

Related Article