Jakarta, IDN Times - Pejabat Gubernur Sementara (PGS) Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengatakan, pendekatan kebijakan yang berjalan secara sektoral tidak lagi memadai di tengah fragmentasi geoekonomi, transformasi digital, dan meningkatnya risiko sistemik.
Menurutnya, bank sentral kini dituntut mengintegrasikan kebijakan moneter, makroprudensial, sistem pembayaran, pasar keuangan, hingga koordinasi dengan kebijakan fiskal. Hal ini disampaikan Destry saat membuka Konferensi Internasional Bulletin of Monetary Economics and Banking (BMEB) ke-20 dan Call for Papers di Bali, 31 Juli 2026.
"Bank Indonesia berkomitmen untuk terus memperkuat ekosistem riset yang berkualitas dan relevan bagi kebijakan guna mendukung perumusan kebijakan berbasis bukti (evidence-based policymaking) di tengah perubahan lanskap ekonomi dan keuangan global," katanya, dikutip dari keterangan resmi BI, Rabu (5/8/2026).
