Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
BIG: Inflasi Mei 2026 Diproyeksi Naik, Dipicu Harga Pangan Energi
Dok. Bisnis Indonesia
  • Inflasi Indonesia Mei 2026 diproyeksikan naik ke 0,2 persen MoM, lebih tinggi dari April yang sebesar 0,13 persen.
  • Kenaikan harga pangan dan energi disebut sebagai faktor utama pendorong inflasi, disertai pengaruh administered prices dan pelemahan rupiah.
  • Proyeksi ekonom bervariasi, dari deflasi 0,4 persen hingga inflasi 0,75 persen, mencerminkan ketidakpastian kondisi ekonomi domestik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Laju inflasi Indonesia pada Mei 2026 diproyeksikan meningkat dibandingkan bulan sebelumnya. Berdasarkan hasil BIG Consensus Insights yang menghimpun proyeksi dari para ekonom dan analis, kenaikan harga pangan dan energi menjadi faktor utama yang mendorong inflasi bulan lalu. Berikut tiga poin pentingnya.

Inflasi Mei 2026 diperkirakan lebih tinggi dari April

BIG Consensus Insights memperkirakan inflasi Mei 2026 mencapai 0,2 persen secara bulanan (month-on-month/MoM). Angka ini lebih tinggi dibandingkan realisasi inflasi April 2026 yang tercatat sebesar 0,13 persen.

Secara tahunan (year-on-year/YoY), median proyeksi inflasi Mei 2026 mencapai 2,93 persen, juga lebih tinggi dibandingkan inflasi Mei tahun sebelumnya yang berada di level 1,6 persen.

Harga pangan dan energi jadi pendorong utama

Mayoritas ekonom yang berpartisipasi dalam survei menilai kenaikan harga pangan (volatile food) dan komoditas energi menjadi faktor utama yang memengaruhi laju inflasi.

Selain itu, harga yang diatur pemerintah (administered prices) serta pelemahan nilai tukar rupiah juga disebut berkontribusi terhadap tekanan inflasi pada Mei 2026.

Proyeksi ekonom masih cukup beragam

Meski median proyeksi inflasi bulanan berada di angka 0,2 persen, pandangan para ekonom masih bervariasi. Proyeksi tertinggi datang dari Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto yang memperkirakan inflasi mencapai 0,75 persen secara bulanan.

Sebaliknya, Head of Research KB Valbury Sekuritas Fikri C. Permana memperkirakan masih terjadi deflasi sebesar 0,4 persen pada periode yang sama. Perbedaan ini menunjukkan ketidakpastian yang masih membayangi kondisi ekonomi dan pergerakan harga di dalam negeri.

Editorial Team

Related Article