Konflik AS-Iran Kembali Memanas, KSSK Waspadai Risiko Global

- KSSK menilai konflik AS-Iran yang berlanjut pada Juli 2026 kembali meningkatkan risiko ekonomi global, termasuk gangguan pelayaran di Selat Hormuz.
- Konflik Timur Tengah mengganggu pasokan energi, menaikkan harga minyak dan komoditas, memicu inflasi, serta mempersempit ruang pelonggaran moneter negara maju.
- Volatilitas pasar global dan flight to safety menguat; KSSK akan memantau risiko eksternal serta menjalankan mitigasi terkoordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait.
Jakarta, IDN Times - Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menilai risiko ekonomi global kembali meningkat seiring berlanjutnya konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Hal itu kembali menambah tekanan terhadap perekonomian dan pasar keuangan dunia.
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan, arus pelayaran di Selat Hormuz yang sempat membaik setelah kesepakatan sementara antara AS dan Iran pada pertengahan Juni 2026 kembali terganggu.
"Memasuki bulan Juli 2026, risiko global kembali meningkat seiring berlanjutnya konflik AS-Iran," kata Purbaya dalam konferensi pers KSSK di Jakarta, Senin (3/8/2026).
1. Konflik Timur Tengah picu tekanan ekonomi global

Sepanjang kuartal II, perekonomian global masih dibayangi ketidakpastian akibat konflik geopolitik di Timur Tengah. Situasi itu mengganggu pasokan energi, mendorong kenaikan harga minyak dan komoditas strategis, serta meningkatkan risiko terhadap perdagangan dan rantai pasok global.
"Kondisi tersebut mendorong tekanan inflasi dan mempersempit ruang pelonggaran kebijakan moneter di sejumlah negara maju," ujar Purbaya.
2. Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed meningkat

Di Amerika Serikat, ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral atau Fed Funds Rate ikut meningkat seiring bertambahnya risiko inflasi dan ketidakpastian arah kebijakan perdagangan maupun fiskal. Pada saat yang sama, volatilitas pasar keuangan global masih tinggi.
"Di pasar keuangan, volatilitas masih cukup tinggi dan perilaku flight to safety kembali menguat, tercermin dari penguatan dolar AS, kenaikan imbal hasil obligasi, serta tekanan terhadap aliran modal di negara berkembang," tuturnya.
3. KSSK terus pantau dampak risiko eksternal

Purbaya mengatakan, tekanan dari luar negeri kembali meningkat pada kuartal II akibat eskalasi konflik geopolitik, kenaikan harga energi, volatilitas pasar keuangan global, serta tekanan terhadap nilai tukar dan arus modal.
"Dengan perkembangan tersebut, risiko eksternal terhadap stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan perlu terus diwaspadai untuk tetap menjaga momentum pertumbuhan ekonomi yang tinggi," paparnya.
Untuk mengantisipasi, KSSK akan terus memantau kondisi perekonomian dan sektor keuangan melalui asesmen yang bersifat ke depan. Langkah mitigasi juga akan dilakukan secara terkoordinasi oleh seluruh anggota KSSK bersama kementerian dan lembaga terkait.


















