KSSK Pede Ekonomi RI Tumbuh 5,6-6 Persen di Tengah Tekanan Global

- KSSK memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5,6-6 persen pada 2026, meski tekanan global berlanjut, melalui koordinasi pemerintah, BI, OJK, dan LPS.
- Pertumbuhan kuartal II-2026 diperkirakan kuat karena daya beli terjaga, didukung APBN lewat perlindungan sosial, stabilisasi harga, penciptaan kerja, dan stimulus libur sekolah.
- Investasi hilirisasi dan infrastruktur serta belanja pemerintah menopang ekonomi; likuiditas terjaga, uang primer tumbuh 15,4 persen, dan PMI manufaktur Juli kembali ekspansi ke 50,2.
Jakarta, IDN Times - Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di kisaran 5,6 hingga 6 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Proyeksi tersebut dipertahankan meski perekonomian global masih dibayangi berbagai tantangan.
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, pemerintah bersama anggota KSSK akan terus memperkuat koordinasi kebijakan untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi, melibatkan pemerintah, Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
"Dengan sinergi kebijakan tersebut, pertumbuhan ekonomi untuk keseluruhan tahun 2026 diprakirakan berada dalam kisaran 5,6 sampai 6 persen year-on-year," kata Purbaya dalam konferensi pers KSSK di Jakarta, Senin (3/8/2026).
1. Daya beli masih menopang pertumbuhan

Purbaya menyampaikan, perekonomian Indonesia pada kuartal II-2026 diperkirakan tetap tumbuh kuat di tengah tekanan ekonomi global. Konsumsi rumah tangga masih ditopang daya beli masyarakat yang terjaga.
Kondisi tersebut didukung peran Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebagai peredam gejolak (shock absorber) melalui program perlindungan sosial, stabilisasi harga pangan dan energi, penciptaan lapangan kerja, serta stimulus pada masa libur sekolah.
"Perekonomian Indonesia pada triwulan kedua tahun 2026 diperkirakan tetap tumbuh kuat di tengah tantangan ekonomi global," ujar dia.
2. Pertumbuhan didukung investasi dan belanja pemerintah

Selain konsumsi rumah tangga, Purbaya menjelaskan investasi diperkirakan tetap tumbuh seiring berlanjutnya proyek hilirisasi bernilai tambah dan pembangunan infrastruktur dalam program prioritas pemerintah.
"Konsumsi pemerintah diprakirakan tumbuh positif sejalan dengan kecepatan belanja program prioritas, pembayaran gaji ke-13 bagi aparatur sipil negara, dan penyaluran bantuan sosial," paparnya.
3. Likuiditas terjaga dan manufaktur kembali ekspansi

Purbaya mengatakan, koordinasi kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia terus diperkuat untuk menjaga kecukupan likuiditas di perekonomian dan sektor perbankan.
Hal itu tercermin dari pertumbuhan uang primer yang tetap tinggi sepanjang triwulan II dan masih tumbuh 15,4 persen pada pekan ketiga Juli 2026. Fungsi intermediasi perbankan juga disebut terus membaik.
"Aktivitas manufaktur sempat termoderasi pada akhir triwulan kedua, namun kembali melanjutkan ekspansi pada bulan Juli 2026 dengan PMI manufaktur di level 50,2 menunjukkan pemulihan optimisme pelaku usaha," kata dia.
















