Capital One: Penutupan Rekening Bisnis Trump Dipicu Isu Pencucian Uang

- Capital One menyatakan penutupan sekitar 385 rekening Organisasi Trump dan Eric Trump pada 2021 didasarkan evaluasi anti-pencucian uang serta hak kontraktual bank.
- Bank menegaskan tidak pernah menuduh Organisasi Trump melakukan pencucian uang, sementara pihak Trump mengklaim alasan AML digunakan untuk menutupi tindakan bernuansa politik.
- Capital One meminta pengadilan federal Florida menghentikan gugatan secara permanen; sengketa berlangsung di tengah pengawasan AS terhadap praktik penutupan rekening yang dinilai diskriminatif.
Jakarta, IDN Times – Langkah hukum Capital One di pengadilan federal Florida menandai babak baru dalam dinamika sektor perbankan dan politik Amerika Serikat (AS). Bank raksasa tersebut resmi mengaitkan evaluasi tim anti-money laundering (AML) atau anti-pencucian uang dengan keputusan penutupan sekitar 385 rekening milik Organisasi Trump dan Eric Trump pada 2021.
Dalam berkas mosi penghentian kasus, Capital One menegaskan bahwa langkah pengakhiran layanan telah sesuai regulasi serta klausul kontrak yang memberi hak kepada bank untuk menutup akun kapan saja. Hakim Roy Altman yang sebelumnya membatalkan gugatan awal kini diminta untuk menghentikan gugatan tersebut secara permanen.
1. Analisis risiko keuangan internal

Keputusan pengakhiran layanan perbankan ini diambil setelah tim kejahatan keuangan internal Capital One, yang diperkuat mantan penegak hukum berpengalaman, melakukan evaluasi mendalam selama berbulan-bulan. Meski demikian, pihak bank menegaskan tidak pernah menuduh Organisasi Trump secara langsung terlibat dalam tindak pidana pencucian uang.
Menurut laporan Al Jazeera, seluruh tindakan manajemen akun telah selaras dengan kebijakan internal serta panduan ketat regulator perbankan federal. Dokumen pengadilan juga mencatat bahwa bukti dan paparan dari pihak penggugat sendiri mengonfirmasi alasan utama penutupan rekening berfokus pada pertimbangan AML.
2. Implikasi bagi ratusan lini usaha

Sebagaimana dilaporkan NPR, portofolio akun yang ditutup mencakup sekitar 385 rekening bisnis afiliasi Organisasi Trump dan Eric Trump, mulai dari produsen anggur, air kemasan, hingga pengembang lapangan golf. Hubungan perbankan yang telah terjalin lebih dari satu dekade tersebut diakhiri pada 2021 dengan pemberian tenggat pemindahan dana tanpa mekanisme klarifikasi awal.
Pihak Organisasi Trump merespons melalui pembaruan gugatan pada 2025 dengan mengklaim isu AML sekadar alasan pembenar atas tindakan penutupan bernuansa politik pasca-insiden Capitol. Capital One menepis tuduhan diskriminasi politik tersebut dan menilai narasi penggugat hanya didasarkan pada pemotongan dokumen secara parsial.
3. Tekanan regulasi dan lanskap perbankan

Sengketa hukum ini mengemuka di tengah meningkatnya pengawasan pemerintah AS terhadap praktik perbankan yang dinilai merugikan kelompok konservatif pada masa jabatan kedua Trump. Perintah eksekutif larangan debanking diskriminatif telah ditandatangani pada 2025, disusul gugatan serupa terhadap JPMorgan Chase atas penutupan rekening di periode yang sama.
Konflik perbankan yang melibatkan Trump bukan pertama kali terjadi, mengingat gugatan terhadap Capital One dan Deutsche Bank pernah dilayangkan pada 2019 terkait kerahasiaan data keuangan. Saat ini proses hukum masih berfokus pada penyegelan dokumen sensitif, sementara Undang-Undang Kerahasiaan Bank tetap membatasi pemaparan hasil analisis internal kepada publik.


















