Jepang Gandeng AS Selamatkan Yen, Beri Sinyal Intervensi Berikutnya

- Jepang dan AS menjalankan pembelian yen terkoordinasi setelah yen melemah ke level terendah empat dekade terhadap dolar AS, demi meredam gejolak pasar dan menjaga stabilitas ekonomi global.
- Tokyo dan Washington menegaskan kesiapan melakukan intervensi bersama lagi. Yen sempat menyentuh 163,73 per dolar sebelum menguat, sementara Jepang diduga menjual hingga 58,97 miliar dolar AS.
- BoJ mempertahankan suku bunga sambil memberi sinyal peluang kenaikan lebih cepat. Jepang juga mempertimbangkan fasilitas repo Fed, sedangkan pelemahan yen menaikkan biaya impor dan inflasi rumah tangga.
Jakarta, IDN Times – Pemerintah Jepang dan Amerika Serikat (AS) memastikan telah menjalankan operasi pasar secara terkoordinasi untuk membendung pelemahan yen. Pembelian yen dalam jumlah besar itu dilakukan setelah mata uang Jepang tersebut jatuh ke posisi terendah terhadap dolar AS dalam empat dekade terakhir.
Presiden AS Donald Trump menyampaikan keterlibatan Washington dalam aksi pasar tersebut dilakukan untuk menjaga stabilitas ekonomi global sekaligus mendukung sekutu strategisnya.
"Mata uang yen mereka melemah, dan mereka menginginkan sedikit bantuan. Dan kami selalu ada untuk Jepang," ujar Trump kepada wartawan di atas Air Force One pada Minggu (2/8/2026), dikutip Al Jazeera.
1. Jepang menyiapkan langkah lanjutan menghadapi pelemahan yen

Kementerian Keuangan Jepang menjelaskan operasi bersama Departemen Keuangan AS mengacu pada Pernyataan Bersama Menteri Keuangan kedua negara sejak September 2025. Otoritas menyebut langkah itu ditujukan untuk meredam gejolak tajam yen sekaligus memberi sinyal bahwa intervensi lanjutan tetap menjadi opsi.
Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama mengatakan pemerintah terus bersiaga penuh sambil menjaga komunikasi erat dengan mitra di AS. Aksi terkoordinasi tersebut menjadi yang pertama sejak gempa besar di Jepang timur pada 2011.
Pelemahan yen yang berkepanjangan ini terus mendorong kenaikan biaya impor dan inflasi rumah tangga. Kondisi tersebut pada akhirnya memicu tekanan pada tingkat kepuasan publik terhadap Perdana Menteri Sanae Takaichi.
2. Pergerakan yen memicu respons otoritas Jepang dan AS

Berdasarkan rincian CNBC, yen sempat menyentuh 163,73 per dolar AS sebelum menguat ke 157,57 per dolar AS dan kemudian diperdagangkan di kisaran 157,70 per dolar AS. Data Bank of Japan (BoJ) menunjukkan Tokyo diduga menjual hingga 58,97 miliar dolar AS untuk membeli yen di pasar New York sebelum operasi bersama dikonfirmasi, yang sempat membawa dolar bergerak ke 157,07 yen setelah pernyataan Trump.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengonfirmasi negaranya ikut terlibat dalam upaya meredam pergerakan pasar valuta asing yang tak teratur. Ia menegaskan kesiapan AS untuk kembali mengambil tindakan bersama jika pasar memerlukan.
"Departemen Keuangan tetap waspada dan berkomunikasi erat dengan mitra kami di MoF dan BoJ. Kami tidak akan ragu untuk berpartisipasi dalam intervensi bersama lebih lanjut," kata Bessent, dikutip CNBC.
Ia juga menyatakan AS mendukung langkah tegas Jepang untuk memperbaiki penilaian yen yang terdistorsi, seraya kembali mendorong BoJ menaikkan suku bunga lebih lanjut.
3. BoJ mempertahankan suku bunga di tengah evaluasi intervensi

Di sisi moneter, BoJ memutuskan mempertahankan suku bunga sembari memberikan sinyal paling kuat mengenai peluang kenaikan yang lebih cepat. Kementerian Keuangan Jepang juga berencana memanfaatkan fasilitas repo Otoritas Moneter Luar Negeri dan Internasional (FIMA) milik Federal Reserve (Fed) untuk memperoleh dolar AS jangka pendek dengan menukarkan surat utang Treasury AS.
Fellow senior di Peterson Institute for International Economics, Robin Brooks, menilai efektivitas intervensi AS dapat berkurang setelah muncul laporan bahwa Washington menjual euro, bukan dolar AS, untuk membeli yen. Menurut Brooks, pola transaksi itu berpotensi memunculkan pertanyaan dari pelaku pasar mengenai alasan AS tidak langsung menggunakan dolar AS.
Sementara itu, Korea Selatan juga bertindak membeli mata uang won di pasar pasca-intervensi mandiri Jepang. Langkah tersebut diambil mengingat kenaikan suku bunga BoJ ke level 1 persen pada Juni lalu terbukti hanya memberikan dampak penyegaran sementara bagi mata uang yen.



















