Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Produksi Beras Januari-September Diproyeksi Naik Jadi 28,71 Juta

Produksi Beras Januari-September Diproyeksi Naik Jadi 28,71 Juta
Ilustrasi Bantuan Pangan Beras dari Perum Bulog. (Dok. Bapanas)
Intinya Sih
  • BPS memproyeksikan produksi beras konsumsi Januari-September 2026 mencapai 28,71 juta ton, naik tipis 0,01 persen dibandingkan periode sama 2025.
  • Produksi padi Januari-September diperkirakan 49,84 juta ton GKG dari luas panen 9,46 juta hektare; masing-masing meningkat 0,01 persen dan 0,11 persen secara tahunan.
  • Potensi produksi beras Juli-September mencapai 9,36 juta ton, turun 0,88 persen; panen terkonsentrasi di Jawa, sementara proyeksi dapat berubah karena OPT, banjir, kekeringan, dan realisasi petani.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan produksi beras untuk konsumsi pangan masyarakat pada Januari-September 2026 mencapai 28,71 juta ton. Angka tersebut meningkat tipis 0,01 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 28,70 juta ton.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan, produksi beras pada Juni 2026 diperkirakan mencapai 2,47 juta ton, naik 6,9 persen dibandingkan Juni 2025 yang sebesar 2,31 juta ton.

"Produksi beras untuk konsumsi pangan masyarakat pada Juni 2026 diperkirakan sebesar 2,47 juta ton atau meningkat 6,9 persen dibandingkan Juni tahun lalu," jelas Ateng dalam Konferensi Pers BPS, Senin (3/8/2026).

1. Potensi produksi beras selama Juli hingga September 2026 diperkirakan mencapai 9,36 juta ton

Ilustrasi beras premium.
Ilustrasi beras premium. (IDN Times/Anata Siregar)

Sementara itu, potensi produksi beras selama Juli hingga September 2026 diperkirakan mencapai 9,36 juta ton. Jumlah tersebut turun sekitar 80 ribu ton atau 0,88 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.

Meski demikian, secara kumulatif produksi beras sepanjang Januari-September 2026 masih diperkirakan mencatatkan kenaikan tipis dibandingkan tahun sebelumnya.

"Potensi panen padi pada Juli-September 2026 masih terkonsentrasi di Pulau Jawa, terutama di Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, dan Banten," tegasnya.

2. Potensi panen padi di luar Jawa

Pedagang beras di Pasar Al Mahirah, Kota Banda Aceh, Aceh. (IDN Times/Mhd Saifullah)
Pedagang beras di Pasar Al Mahirah, Kota Banda Aceh, Aceh. (IDN Times/Mhd Saifullah)

Jika di luar Pulau Jawa, potensi panen terbesar berada di Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Lampung, Sumatera Barat, Aceh, Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, serta Nusa Tenggara Barat.

Pada tingkat kabupaten, sentra panen terbesar diperkirakan berada di Kebumen, Grobogan, Demak, dan Cilacap di Jawa Tengah. Sementara di Jawa Barat meliputi Karawang, Majalengka, Subang, dan Indramayu, sedangkan di Jawa Timur berada di Ngawi, Lamongan, Nganjuk, dan Jember.

Adapun sentra panen lainnya berada di Lebak (Banten), Banyuasin, OKU Timur, Ogan Komering Ilir (Sumatera Selatan), Lampung Tengah, Tulang Bawang, Lampung Selatan, Bone, Wajo, Sidenreng Rappang (Sidrap), Pinrang di Sulawesi Selatan, serta Barito Kuala di Kalimantan Selatan.

"Angka potensi luas panen masih dapat berubah mengikuti kondisi di lapangan, seperti serangan organisme pengganggu tanaman (OPT), banjir, kekeringan, maupun perubahan realisasi panen oleh petani," tegasnya.

3. Produksi padi diproyeksikan mencapai 49,84 juta ton gabah kering giling (GKG)

IMG-20250813-WA0109.jpg
Salah satu kendaraan yang digunakan untuk memanen padi di Desa Tepakyang, Kecamatan Adimulyo, Kabupaten Kebumen. (IDN Times/Dok Pendam Diponegoro)

Adapun luas panen padi sepanjang Januari-September 2026 mencapai 9,46 juta hektare, naik 0,11 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sejalan dengan itu, produksi padi diproyeksikan mencapai 49,84 juta ton gabah kering giling (GKG) atau meningkat tipis 0,01 persen secara tahunan.

Berdasarkan hasil Survei Kerangka Sampel Area (KSA) pada Juni 2026 menunjukkan mayoritas lahan pertanian masih berada pada fase ditanami padi (standing crop), yakni 40,27 persen dari total lahan yang diamati.

"Hasil amatan juga menunjukkan lahan yang ditanami selain padi sebesar 28,89 persen, lahan bera 11,78 persen, telah dipanen 10,66 persen, dan sedang dalam persiapan lahan 8,16 persen," ujar Ateng.

Dari total lahan yang berada pada fase standing crop, sekitar 13,34 persen berada pada fase generatif. Menurut BPS, tanaman pada fase ini umumnya akan dipanen dalam waktu satu bulan, sehingga berpotensi menopang panen pada Juli 2026.

Sementara tanaman pada fase vegetatif akhir diperkirakan dipanen dua bulan berikutnya, sedangkan fase vegetatif awal sekitar tiga bulan ke depan.

4. Luas panen padi pada Juni 2026 capai 0,84 juta hektare

IMG-20260521-WA0052.jpg
Aktivitas menggarap sawah saat padi menguning. (IDN Times/Dok Humas Pemprov Jateng)

BPS mencatat, luas panen padi pada Juni 2026 mencapai 0,84 juta hektare, meningkat 6,93 persen dibandingkan Juni 2025 yang sebesar 0,79 juta hektare. Adapun potensi luas panen pada Juli hingga September 2026 diperkirakan mencapai 3,15 juta hektare, turun 40 ribu hektare atau 1,26 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

"Dengan perkembangan tersebut, luas panen padi sepanjang Januari-September 2026 diperkirakan mencapai 9,46 juta hektare, atau bertambah sekitar 10 ribu hektare dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya," tegasnya.

Sejalan dengan luas panen, produksi padi pada Juni 2026 diperkirakan mencapai 4,29 juta ton GKG, naik 7,02 persen dibandingkan Juni 2025 yang sebesar 4,01 juta ton GKG.

Sementara itu, potensi produksi padi selama Juli-September 2026 diperkirakan sebesar 16,25 juta ton GKG, turun 150 ribu ton GKG atau 0,90 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

"Secara kumulatif, produksi padi sepanjang Januari-September 2026 diperkirakan mencapai 49,84 juta ton GKG, meningkat tipis sekitar 10 ribu ton GKG atau 0,01 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025", jelasnya.

Meski demikian, angka potensi luas panen dan produksi masih dapat berubah bergantung pada perkembangan kondisi pertanaman hingga September 2026. Perubahan tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti serangan organisme pengganggu tanaman (OPT), banjir, kekeringan, maupun perubahan waktu panen oleh petani.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More