Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Blibli Tiket Kantongi Pendapatan Rp14,83 Triliun di Semester I-2026
Blibli x Tiket (Dok. Blibli)
  • Blibli Tiket membukukan pendapatan neto Rp14,83 triliun pada semester I-2026, naik 55 persen secara tahunan, didorong elektronik, gaya hidup, OTA, institusi, dan toko fisik.
  • Efisiensi operasional membaik: rasio beban terhadap TPV turun menjadi 6,3 persen dan EBITDA terhadap TPV membaik menjadi minus 0,8 persen; kas akhir Juni mencapai Rp1,63 triliun.
  • Segmen ritel, institusi, dan toko fisik tumbuh; perusahaan juga mendapat persetujuan menerbitkan maksimal 5 miliar saham baru serta fokus meningkatkan margin, efisiensi, logistik, dan layanan digital.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - PT Global Digital Niaga Tbk atau Blibli Tiket membukukan pendapatan bersih konsolidasian sebesar Rp14,83 triliun pada semester I-2026. Angka tersebut naik 55 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp9,59 triliun.

Kenaikan pendapatan berasal dari sejumlah lini usaha, terutama penjualan elektronik konsumen dan produk gaya hidup. Selain itu, bisnis agen perjalanan daring (online travel agent/OTA), segmen institusi, serta jaringan toko fisik juga mencatat peningkatan kontribusi.

CEO dan Co-Founder Blibli Tiket Kusumo Martanto mengatakan, kenaikan tersebut terjadi saat konsumen masih lebih selektif dalam berbelanja dan persaingan pasar semakin ketat. Menurut dia, pihaknya memilih menjaga pertumbuhan dengan tetap memperhatikan efisiensi biaya dan pengembangan layanan daring maupun luring.

"Semester pertama tahun 2026 semakin menunjukkan ketangguhan ekosistem omnichannel terintegrasi kami serta konsistensi kami dalam menjalankan strategi jangka panjang," kata Kusumo dalam keterangan tertulis, Sabtu (1/8/2026).

1. Biaya operasional Blibli Tiket turun

Blibli Tiket. (Dok/Humas Blibli).

Selain pendapatan yang meningkat, Blibli Tiket juga mencatat penurunan rasio beban operasional terhadap total nilai transaksi (TPV). Rasio tersebut turun dari 7,2 persen pada semester I-2025 menjadi 6,3 persen pada semester I-2026.

Penurunan tersebut berasal dari berkurangnya porsi biaya iklan dan pemasaran serta biaya umum dan administrasi terhadap TPV.

Kinerja EBITDA terhadap TPV juga membaik dari minus 2,5 persen pada semester I-2025 menjadi minus 0,8 persen pada semester I 2026. Perbaikan tersebut setara dengan 170 basis poin secara tahunan.

Dari sisi arus kas, kas bersih yang digunakan untuk aktivitas operasi tercatat Rp180 miliar pada semester I-2026. Sementara kas bersih yang digunakan untuk investasi mencapai Rp193 miliar, terutama untuk pembelian aset tetap terkait penambahan toko fisik.

Kemudian, kas bersih dari aktivitas pendanaan mencapai Rp461 miliar. Posisi kas dan setara kas perseroan per 30 Juni 2026 tercatat Rp1,63 triliun, naik dari Rp1,54 triliun pada akhir 2025.

CFO Blibli Tiket Ronald Winardi mengatakan kenaikan pendapatan didorong oleh pertumbuhan seluruh segmen usaha, terutama kategori produk dengan margin lebih tinggi.

"Pada saat yang sama, penekanan berkelanjutan pada disiplin biaya dan efisiensi operasional telah memungkinkan kami untuk semakin memperkuat profitabilitas sekaligus mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan," ujar Ronald.

2. Bisnis ritel hingga institusi ikut naik

Ilustrasi aplikasi Blibli (IDN Times/Doni Hermawan)

Segmen Ritel 1P membukukan pertumbuhan GPBD sebesar 44 persen secara tahunan menjadi Rp1,02 triliun pada semester I-2026. Kenaikan tersebut didorong penjualan produk elektronik konsumen, elektronik rumah tangga, kebutuhan sehari-hari, serta produk olahraga dan gaya hidup.

Sementara segmen Ritel 3P membukukan GPBD Rp1,45 triliun atau tumbuh 3 persen secara tahunan. Kinerja ini didukung peningkatan transaksi kategori pengalaman serta pendapatan tambahan dari bisnis OTA.

Hingga akhir Juni 2026, tiket.com menyediakan layanan penerbangan dari 151 maskapai domestik dan internasional, lebih dari 3,6 juta pilihan akomodasi, serta lebih dari 112 ribu aktivitas wisata dan destinasi.

Segmen institusi mencatat pertumbuhan GPBD 52 persen menjadi Rp658 miliar. Kenaikan tersebut didorong penjualan elektronik konsumen dan elektronik rumah tangga kepada pelanggan institusi.

Pada periode yang sama, segmen ini melayani sekitar 91.500 klien institusi dengan rata-rata belanja per klien naik 66 persen menjadi Rp106 juta.

Segmen toko fisik mencatat GPBD Rp917 miliar pada semester I 2026. Kinerja ini didukung kenaikan penjualan smartphone, pembukaan toko baru, serta perbaikan margin pada gerai supermarket premium Ranch Market.

Per akhir Juni 2026, Blibli Tiket mengoperasikan 326 toko elektronik konsumen, 14 toko elektronik rumah tangga, satu toko fesyen dan olahraga, serta 60 gerai supermarket premium Ranch Market.

3. Blibli Tiket tambah modal lewat penerbitan saham baru

ilustrasi saham (pexels.com/RDNE Stock project)

Blibli Tiket telah menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 4 Juni 2026. Rapat tersebut menyetujui laporan keuangan tahun buku 2025, penetapan remunerasi Dewan Komisaris, serta memberikan kewenangan kepada Dewan Komisaris untuk menetapkan remunerasi Direksi.

Pemegang saham juga menyetujui pengangkatan kembali anggota Dewan Komisaris dan Direksi. Dalam perubahan susunan tersebut, Imron Hendrata ditunjuk sebagai Komisaris Utama dan Cyrillus Harinowo sebagai Komisaris Independen.

Selanjutnya, dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 15 Juni 2026, pemegang saham independen menyetujui rencana penerbitan saham baru maksimal 5 miliar saham atau 3,64 persen dari modal ditempatkan dan disetor.

Penerbitan saham tersebut terdiri dari program kepemilikan saham manajemen dan karyawan (MESOP) maksimal 2 miliar saham serta penerbitan saham baru tanpa hak memesan efek terlebih dahulu selain MESOP maksimal 3 miliar saham.

4. Blibli Tiket antisipasi persaingan pasar hingga akhir 2026

ilustrasi aplikasi Blibli (dok. Blibli)

Blibli Tiket memperkirakan kondisi pasar masih kompetitif hingga akhir 2026. Perseroan melihat belanja konsumen akan pulih secara bertahap seiring perkembangan kondisi ekonomi.

Untuk menghadapi kondisi tersebut, pihaknya akan berupaya meningkatkan margin, menjaga efisiensi biaya, memperkuat jaringan pemenuhan pesanan, serta mengembangkan layanan digital.

Kusumo mengatakan perseroan akan melanjutkan pengembangan layanan Blibli, tiket.com, Ranch Market, dan Dekoruma dengan menggabungkan platform digital, toko fisik, logistik, dan teknologi.

Menurut dia, investasi pada jaringan pemenuhan pesanan, teknologi, dan integrasi layanan dilakukan untuk meningkatkan efisiensi operasional serta layanan kepada pelanggan.

"Secara paralel, kami terus memperluas pemanfaatan analitik data dan kecerdasan buatan secara bertanggung jawab untuk meningkatkan pengelolaan barang, penemuan produk, interaksi pelanggan, serta produktivitas di seluruh kegiatan operasional kami," kata Kusumo.

Curated For You

Editorial Team

Related Article