Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Bos BGN Sebut Dapur MBG Terima Rp500 Juta per 12 Hari

Bos BGN Sebut Dapur MBG Terima Rp500 Juta per 12 Hari
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana (IDN Times/Aryodamar)
Intinya Sih
  • Kepala BGN, Dadan Hindayana, menyebut setiap dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) menerima sekitar Rp500 juta tiap 12 hari dari total anggaran Rp268 triliun yang sebagian besar disalurkan ke daerah.
  • Program MBG mendorong penyerapan produk lokal secara masif, meningkatkan kesejahteraan petani dengan kenaikan Nilai Tukar Petani rata-rata menjadi 125 berkat jaminan pasar dari pemerintah.
  • Peredaran dana BGN mencapai puluhan triliun rupiah dan menjadi stimulus ekonomi signifikan, memperkuat likuiditas serta pemerataan ekonomi di berbagai wilayah Indonesia sejak awal tahun.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Para pemilik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) alias dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) memperoleh jatah pendanaan setidaknya Rp500 juta lewat alokasi dana dari pemerintah guna menjalankan Program MBG.

Pernyataan terkait hal tersebut disampaikan langsung oleh Kepala BGN, Dadan Hindayana kala memberikan arahan pada acara Sosialisasi Regulasi Kepegawaian di lingkungan Badan Gizi Nasional (BGN) di Jakarta, Rabu (25/2/2026).

Menurut Dadan, angka itu menunjukkan, dari total anggaran Rp268 triliun yang disiapkan, sebesar 93 persennya atau Rp240 triliun beredar langsung di daerah. Setiap SPPG rata-rata menerima alokasi sekitar Rp500 juta per hari untuk menjalankan Program MBG.

“BGN hadir menghadirkan pola baru, di mana 93 persen dana BGN itu disalurkan langsung ke SPPG-SPPG. Jadi, kalau ada dana Rp268 triliun, kurang lebih Rp240 triliun uang beredar dari Sabang sampai Merauke dan setiap 12 hari, setiap SPPG menerima Rp500 juta. Saya kira ini adalah model baru, tidak ada satu rupiah pun uang yang disalurkan dari pusat ke daerah (pemda),” tutur Dadan, dikutip Jumat (27/2/2026).

1. Uang yang beredar saat ini mencapai Rp36 triliun

IMG_1949.jpeg
SPPG Gagaksipat, Ngemplak, Boyolali. (IDN Times/Larasati Rey)

Dadan menjelaskan, uang yang telah beredar dari Sabang sampai Merauke hingga hari ini mencapai kurang lebih Rp36 triliun.

Dadan mengklaim, perputaran dana tersebut menjadi penggerak roda ekonomi yang luar biasa karena mendorong pemerataan secara nyata di seluruh wilayah Indonesia. Adapun jumlah SPPG menentukan jumlah dana yang beredar di daerah tersebut.

"Dengan demikian, semakin banyak SPPG yang beroperasi di suatu daerah, semakin besar pula dana yang beredar di wilayah tersebut." kata dia.

2. Penyerapan produk lokal oleh BGN

Sejumlah pekerja menyiapkan paket makanan untuk program makan bergizi gratis (MBG) di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG)
Ilustrasi sejumlah pekerja menyiapkan paket makanan untuk program makan bergizi gratis (MBG) di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). (ANTARA FOTO/Muhammad Mada)

Dadan pun dengan percaya diri bilang, kebijakan MBG juga memberikan dampak langsung terhadap sektor produksi lokal. Dalam Program MBG, produk-produk lokal dijamin penyerapannya oleh BGN. Hal ini menciptakan kepastian pasar bagi para petani dan pelaku usaha daerah.

“Belum pernah terjadi dalam era mana pun, produksi lokal dijamin penyerapannya oleh negara seperti sekarang. Tidak heran jika ada petani wortel di Nusa Tenggara Timur yang senang karena harga wortelnya bisa naik hingga tiga kali lipat,” ujarnya.

Kenaikan serapan hasil produksi tersebut berdampak pada peningkatan Nilai Tukar Petani (NTP). Dia menyebutkan, rata-rata NTP saat ini mencapai angka 125, meningkat dari sebelumnya sekitar 102.

Jika NTP berada pada kisaran 100–102, hasil produksi petani hanya cukup untuk kebutuhan hidup tanpa ruang untuk investasi. Namun, dengan capaian 125, petani memiliki ruang 25 poin untuk investasi dan peningkatan kesejahteraan keluarga.

“Saya yakin dengan program MBG ini, Nilai Tukar Petani akan bisa naik hingga 150,” kata Dadan.

3. MBG jadi stimulus ekonomi signifikan

Ilustrasi MBG. (IDN Times/Tunggul Damarjati)
Ilustrasi MBG. (IDN Times/Tunggul Damarjati)

Dadan menekankan, perputaran uang dalam jumlah besar pada awal tahun merupakan hal yang belum pernah terjadi sebelumnya di Indonesia.

Pada tahun lalu, pemerintah menggelontorkan stimulus ekonomi sebesar Rp37 triliun pada kuartal pertama yang mendorong pertumbuhan ekonomi sebesar 4,7 persen. Sementara tahun ini, hingga Maret, peredaran dana BGN diprediksi mencapai Rp62 triliun.

"Dengan besarnya peredaran dana tersebut, apa yang dilakukan BGN telah menjadi stimulus ekonomi yang signifikan. Banyak pelaku usaha melaporkan bahwa likuiditas di lapangan kini lebih mudah ditemukan karena perputaran uang yang masif dan merata," tutur Dadan.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Jujuk Ernawati
EditorJujuk Ernawati
Follow Us

Latest in Business

See More