ilustrasi BBM (IDN Times/Aditya Pratama)
Lonjakan harga minyak dunia akibat konflik geopolitik di Timur Tengah dinilai membuat kenaikan harga BBM di dalam negeri semakin sulit dihindari. Dalam situasi tersebut, penyesuaian harga disebut sebagai langkah rasional untuk menjaga stabilitas fiskal dan menghindari tekanan lebih dalam terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Ekonom Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Hendry Cahyono, menilai tekanan global saat ini telah melampaui asumsi dasar ekonomi yang digunakan pemerintah. Dia menyebut, harga minyak dunia berpotensi menembus di atas 100 dolar AS per barel, jauh dari asumsi harga minyak mentah Indonesia (ICP) dalam APBN 2026 sebesar 70 dolar AS per barel.
“Kondisi geopolitik sekarang membawa pemerintah dalam dilema yang sulit. Akan mempertahankan daya beli dengan risiko disiplin fiskal terabaikan atau menaikkan BBM dengan risiko inflasi bahkan stagflasi,” ujar Hendry saat dihubungi, Kamis (26/3).