Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
3 Cara Mendapatkan Pelanggan Pertama saat Baru Memulai Jualan
ilustrasi usaha coffee shop (Pexels.com/Wendy Wei)
  • Bisnis baru dapat mencari pelanggan pertama melalui teman, keluarga, tetangga, komunitas, dan relasi relevan, dengan menawarkan produk secara jelas tanpa mengirim pesan massal yang memaksa.
  • Media sosial serta Google Business Profile membantu bisnis lebih mudah ditemukan melalui foto, video, harga, informasi layanan, jam operasional, dan ulasan pelanggan.
  • Harga perkenalan, sampel, atau paket percobaan dapat mendorong pembelian awal; setelah pelanggan puas, minta rekomendasi tanpa memberi insentif untuk ulasan positif.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Memulai jualan sering kali terasa lebih mudah daripada mendapatkan pembeli pertama. Produk sudah siap, harga sudah ditentukan, media sosial sudah dibuat, tetapi belum ada yang melakukan transaksi. Situasi tersebut cukup wajar. Bisnis baru biasanya belum memiliki pelanggan tetap, ulasan, maupun reputasi yang membuat orang langsung percaya.

Karena itu, mendapatkan pelanggan pertama tidak selalu harus dimulai dengan memasang iklan mahal. Justru, orang-orang yang sudah berada di sekitar kita bisa menjadi pintu masuk untuk menemukan pembeli pertama. Dilansir U.S. Small Business Administration (SBA), ada sejumlah cara untuk mendapatkan pelanggan pertama, mulai dari memanfaatkan jaringan yang sudah dimiliki, meminta referensi, bekerja sama dengan bisnis lain, hingga membangun kehadiran secara online. Lantas, apa saja yang bisa dilakukan?

1. Mulai dari orang-orang di sekitar

ilustrasi usaha cofee shop (Pexels.com/Quang Nguyen Vinh)

Mulailah dengan membuat daftar orang yang kemungkinan membutuhkan produk atau jasa yang kamu jual. Mereka bisa berasal dari teman, keluarga, tetangga, mantan rekan kerja, komunitas, hingga orang-orang yang pernah berinteraksi denganmu di media sosial. Manfaatkan jaringan yang sudah dimiliki untuk mencari pembeli pertama. Jaringan tersebut juga dapat membantu memberikan referensi kepada orang lain yang mungkin membutuhkan produk yang ditawarkan.

Namun, bukan berarti semua orang harus langsung dikirimi pesan jualan. Pendekatan yang lebih baik adalah menawarkan produk kepada orang yang memang berpotensi membutuhkannya. Misalnya, jika baru membuka usaha makanan rumahan, kamu bisa mulai dari tetangga atau komunitas sekitar yang memang sesuai dengan target pasar.

Hindari mengirim pesan massal seperti, "Tolong beli produk saya." Sebaliknya, jelaskan secara singkat apa yang dijual, manfaatnya, harganya, dan bagaimana cara memesannya. Dengan begitu, orang tidak merasa sedang dipaksa membeli.

2. Manfaatkan media sosial dan kehadiran online

ilustrasi jualan online (Pexels.com/Shoper .pl)

Bisnis baru juga perlu membuat calon pelanggan mudah menemukan dan mengenali produk. Media sosial bisa menjadi salah satu cara paling murah untuk memperkenalkan bisnis. Tidak harus langsung membuat konten yang rumit. Foto produk, video singkat mengenai proses pembuatan, informasi harga, cara penggunaan, hingga testimoni pelanggan pertama bisa menjadi materi awal.

Selain media sosial, bisnis yang memiliki lokasi atau melayani pelanggan di area tertentu juga dapat memanfaatkan Google Business Profile. Google menyediakan layanan ini secara gratis agar bisnis dapat muncul di Google Search dan Google Maps. Pelaku usaha dapat menambahkan informasi seperti jam operasional, foto, produk atau layanan, serta merespons ulasan pelanggan.

Ini penting karena calon pelanggan tidak selalu menemukan bisnis melalui iklan. Bisa saja mereka sedang mencari sesuatu di Google atau Maps, kemudian menemukan bisnis yang sesuai dengan kebutuhannya. Semakin mudah sebuah bisnis ditemukan, semakin besar pula peluang mendapatkan pelanggan baru.

3. Berikan alasan untuk mencoba dan minta referensi

ilustrasi toko roti (Pexels.com/Madison Inouye)

Masalah bisnis baru adalah calon pelanggan belum memiliki pengalaman menggunakan produknya. Mereka mungkin masih bertanya-tanya: apakah produknya bagus, apakah sesuai dengan harga, dan apakah penjualnya bisa dipercaya? Karena itu, berikan alasan yang cukup kuat untuk mencoba.

Misalnya, kamu bisa menawarkan harga perkenalan, paket percobaan, ukuran sampel, atau promo khusus pelanggan baru—selama perhitungannya tetap masuk akal bagi bisnis. Setelah mendapatkan pelanggan pertama, jangan berhenti di transaksi tersebut. Berikan pengalaman yang baik dan, jika pelanggan puas, mintalah mereka memberikan rekomendasi kepada orang lain.

Namun, ada satu hal yang perlu diperhatikan: jangan memberikan imbalan kepada pelanggan sebagai kompensasi untuk membuat ulasan positif di Google. Google secara tegas melarang pemberian insentif untuk ulasan, perubahan ulasan, atau penghapusan ulasan negatif. Jadi, fokuslah pada pengalaman pelanggan yang memang layak mendapatkan rekomendasi.

Mendapatkan pelanggan pertama memang tidak selalu mudah. Namun, bisnis baru tidak harus langsung memiliki ribuan pembeli. Mulailah dari orang-orang yang paling dekat dengan target pasar, buat bisnis mudah ditemukan secara online, kemudian berikan pengalaman yang membuat pelanggan pertama bersedia merekomendasikan produk kepada orang lain.

Dengan cara tersebut, satu pelanggan pertama bisa menjadi awal dari pelanggan kedua, ketiga, dan seterusnya. Yang terpenting, jangan menunggu sampai bisnis terlihat besar untuk mulai mencari pelanggan. Justru pelanggan pertama itulah yang membantu bisnis mulai terlihat besar.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article