Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Laba Bersih BNI Tumbuh 6,6 Persen Jadi Rp16,6 Triliun di Q3

3 min read
Laba Bersih BNI Tumbuh 6,6 Persen Jadi Rp16,6 Triliun di Q3
Gedung BNI. (Dok. BNI)
  • BNI membukukan laba bersih Rp16,1 triliun hingga kuartal III-2026, naik 6,6 persen tahunan, didorong NII Rp33,2 triliun dan fee-based income Rp13,9 triliun.
  • Penyaluran kredit tumbuh 22,2 persen menjadi Rp992,5 triliun per September 2026, sementara CASA naik 19,6 persen menjadi Rp733,7 triliun, didukung pertumbuhan transaksi digital.
  • NIM turun 30 basis poin menjadi 3,5 persen, tetapi kualitas aset membaik dengan NPL gross 1,9 persen dan rasio loan at risk turun menjadi 7,8 persen.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) membukukan laba bersih sebesar Rp16,1 triliun hingga kuartal III-2026, tumbuh 6,6 persen secara tahunan atau year on year (YoY).

Sementara itu, laba operasional sebelum pencadangan atau pre-provision operating profit (PPOP) BNI mencapai Rp27,5 triliun, meningkat 11,6 persen YoY.

"Capaian PPOP tersebut menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah BNI untuk periode kuartal III," ujar Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan dalam keterangannya, Selasa (27/10/2026).

Adapun, laba bersih kinerja ini ditopang pertumbuhan pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) sebesar 13,6 persen YoY menjadi Rp33,2 triliun serta pendapatan berbasis komisi atau fee-based income yang naik 8,3 persen YoY menjadi Rp13,9 triliun.

  1. 1. BNI jaga momentum pertumbuhan bisnis

    Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. (Dok. IDN Times)
    Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. (Dok. IDN Times)

    Putrama mengatakan, perseroan tetap menjaga momentum pertumbuhan bisnis di tengah dinamika pasar dan tekanan margin industri perbankan.

    Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan fundamental, peningkatan produktivitas, serta pengelolaan risiko secara disiplin.

    "Di tengah dinamika pasar yang menantang, BNI tetap menjaga momentum pertumbuhan dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian dan disiplin dalam pengelolaan risiko. Fokus kami adalah memperkuat fundamental dan produktivitas untuk menciptakan pertumbuhan yang berkualitas dan berkelanjutan," ujar Putrama.

  2. 2. Penyaluran kredit BNI tumbuh 22,2 persen YoY menjadi Rp992,5 triliun per September

    ilustrasi pertumbuhan ekonomi (IDN Times/Arief Rahmat)
    ilustrasi pertumbuhan ekonomi (IDN Times/Arief Rahmat)

    Dari sisi intermediasi, penyaluran kredit BNI tumbuh 22,2 persen YoY menjadi Rp992,5 triliun hingga September 2026. Pertumbuhan kredit tersebut diikuti peningkatan dana murah atau current account savings account (CASA) sebesar 19,6 persen YoY menjadi Rp733,7 triliun.

    Penguatan pendanaan murah turut didukung layanan perbankan transaksi melalui platform digital wondr by BNI dan BNIdirect.

    "Hingga September 2026, jumlah pengguna wondr by BNI mencapai 16,6 juta, tumbuh 58 persen YoY, dengan nilai transaksi Rp1.774 triliun atau meningkat 25 persen YoY," tegasnya.

    Sementara itu, BNIdirect mencatat nilai transaksi Rp9.324 triliun, tumbuh 16 persen YoY. Jumlah penggunanya meningkat 19 persen YoY menjadi 293.000 pengguna.

  3. 3. Pangsa pasar giro BNI meningkat 120 basis poin

    ilustrasi pertumbuhan ekonomi (IDN Times/Aditya Pratama)
    ilustrasi pertumbuhan ekonomi (IDN Times/Aditya Pratama)

    Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena mengatakan, pertumbuhan kredit dilakukan secara selektif dengan tetap menjaga kualitas aset dan struktur pendanaan.

    Dari sisi penghimpunan dana, giro BNI tumbuh 25,9 persen YoY hingga September 2026, melampaui pertumbuhan industri sebesar 9,8 persen berdasarkan data Agustus 2026.

    "Pangsa pasar giro BNI meningkat 120 basis poin (bps) menjadi 13,2 persen," tegasnya.

  4. 4. Rasio kredit bermasalah turun jadi 1,9 persen

    Ilustrasi pertumbuhan ekonomi turun. (IDN Times/Arief Rahmat)
    Ilustrasi pertumbuhan ekonomi turun. (IDN Times/Arief Rahmat)

    Meski mencatat pertumbuhan laba, BNI masih menghadapi tekanan margin bunga bersih atau net interest margin (NIM). Hingga kuartal III-2026, NIM BNI turun 30 bps menjadi 3,5 persen, terutama dipengaruhi penyesuaian imbal hasil kredit dari 7,3 persen menjadi 6,9 persen.

    Di sisi lain, biaya dana atau cost of fund (CoF) relatif terkendali, turun dari 2,83 persen menjadi 2,77 persen. Kondisi tersebut didukung pertumbuhan dana murah yang kuat.

    BNI juga mencatat perbaikan kualitas aset. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross turun dari 2 persen menjadi 1,9 persen. Sementara itu, rasio loan at risk (LaR) membaik dari 10,4 persen menjadi 7,8 persen.

    "Untuk mengantisipasi potensi risiko kredit, BNI menjaga rasio total pencadangan terhadap kredit sebesar 3,8 persen. Adapun NPL coverage ratio tercatat sebesar 193,3 persen," tegasnya.

    Dari sisi likuiditas dan permodalan, BNI mencatat rasio loan to deposit ratio (LDR) sebesar 87,9 persen, liquidity coverage ratio (LCR) 143,4 persen, serta net stable funding ratio (NSFR) 128,4 persen. Sementara itu, rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) mencapai 19,2 persen.

    Ke depan, BNI akan melanjutkan penguatan pendanaan berbasis transaksi, penyaluran kredit secara selektif, serta transformasi digital dan jaringan untuk menjaga kualitas pertumbuhan bisnis dan mendukung pembiayaan sektor produktif.

Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More