Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Cara OPEC+ Mengatur dan Mengendalikan Harga Minyak Dunia
ilustrasi minyak dan OPEC (IDN Times/Arief Rahmat)
  • OPEC+ mengatur volume produksi minyak untuk memengaruhi harga global, namun efektivitasnya sering terganggu oleh perbedaan kepentingan antarnegara anggota.
  • Ketidaksepakatan antara Arab Saudi dan Rusia pada 2020 menyebabkan lonjakan pasokan dan kejatuhan harga minyak di tengah pandemi COVID-19.
  • Dalam menghadapi ancaman resesi global, OPEC+ memangkas produksi sejak 2022 hingga diperkirakan berlanjut sampai 2025 demi menjaga stabilitas harga pasar.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) merupakan kartel yang beranggotakan deretan produsen minyak terbesar. Pada 2016, mereka membentuk aliansi OPEC+ bersama negara pengekspor non-OPEC utama demi posisi yang lebih kuat.

Dilansir Investopedia, koalisi tersebut bertujuan mengendalikan harga minyak mentah dunia. Pasalnya, OPEC memegang kendali atas sekitar 40 persen pasokan global dan menguasai lebih dari 80 persen cadangan minyak yang sudah terbukti.

Dominasi tersebut memberikan pengaruh besar bagi mereka untuk memengaruhi harga dalam jangka pendek. Namun, efektivitasnya sering kali melemah dalam jangka panjang karena adanya perbedaan kepentingan antarnegara anggota di dalam internal OPEC+.

1. Pengaruh kesepakatan produksi terhadap harga pasar

Ilustrasi harga minyak naik (IDN Times/Arief Rahmat)

Negara-negara OPEC+ secara kolektif menentukan volume produksi untuk memengaruhi pasokan di pasar global. Secara alami, kartel tersebut berusaha menjaga tingkat harga tetap tinggi demi memaksimalkan keuntungan mereka.

Jika merasa tidak puas dengan harga saat itu, mereka cenderung memangkas pasokan. Namun, secara individu tiap negara enggan mengurangi produksi karena takut kehilangan pendapatan dan justru berharap produksi tetap tinggi saat harga naik.

Janji pemangkasan pasokan biasanya memicu lonjakan harga seketika. Meski begitu, harga sering kali turun kembali saat pemangkasan dianggap tidak signifikan atau ketika permintaan pasar mulai melakukan penyesuaian.

OPEC+ juga pernah sepakat meningkatkan produksi, seperti pada Juni 2018 di Vienna. Langkah tersebut diambil guna menutupi penurunan output dari Venezuela yang merupakan sesama anggota koalisi.

Arab Saudi dan Rusia menjadi pendukung utama kenaikan produksi demi menambah pundi-pundi pendapatan. Di sisi lain, anggota yang sudah mencapai kapasitas maksimal produksinya cenderung menolak kebijakan tersebut.

Pada akhirnya, mekanisme penawaran dan permintaan tetap menjadi penentu harga yang utama. Apalagi saat ini pangsa pasar OPEC+ mulai tersaingi oleh kehadiran produsen baru seperti Amerika Serikat dan Kanada.

2. Sesama anggota tidak selalu satu suara

Ilustrasi kenaikan harga minyak (IDN Times/Arief Rahmat)

Pada Maret 2020, Arab Saudi dan Rusia gagal mencapai kesepakatan mengenai pemangkasan produksi. Arab Saudi kemudian merespons kegagalan tersebut dengan meningkatkan jumlah produksinya secara besar-besaran.

Lonjakan pasokan tersebut berbarengan dengan anjloknya permintaan global akibat pandemik COVID-19. Akibatnya, hukum pasar mengalahkan upaya kartel untuk menjaga stabilitas harga tetap tinggi.

Krisis tersebut membuktikan kekuatan pasar bebas lebih dominan daripada kepentingan kartel. Agenda masing-masing negara sering kali berada di atas kesepakatan kolektif saat menghadapi situasi yang mendesak.

Dampaknya, pada April 2020 harga minyak Brent jatuh di bawah 20 dolar AS per barel untuk pertama kalinya sejak 2001. Sementara itu, jenis WTI menyentuh angka 17 dolar AS per barel, level terendah sejak 2002.

3. Langkah pemangkasan produksi ketika ada isu resesi

Ilustrasi produksi minyak (IDN Times/Arief Rahmat)

Harga minyak sempat pulih hingga menembus 115 dolar AS pada Juni 2022 akibat invasi Rusia ke Ukraina. Konflik tersebut sempat memicu kekhawatiran besar terhadap stabilitas pasokan energi dunia dan ketegangan dengan negara Barat.

Namun, harga kembali melandai pada paruh kedua tahun 2022. WTI bergerak mendekati angka 100 dolar AS per barel seiring munculnya kekhawatiran terkait potensi resesi global yang membayangi permintaan.

Menanggapi hal itu, OPEC+ memangkas produksi sebesar 2 juta barel per hari. Meski ditentang Presiden AS kala itu yang menyebutnya kebijakan berpandangan pendek, langkah tersebut tetap diambil untuk menstabilkan harga.

Tren pengurangan produksi terus berlanjut hingga 2024 dan diprediksi tetap berjalan sampai 2025. Hal itu dilakukan guna memperkuat pasar yang sedang lesu akibat bunga tinggi dan lonjakan produksi dari Amerika Serikat.

Editorial Team