Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Ekonom Soroti Ekspor Melesat, Surplus Neraca Dagang Menipis

Ekonom Soroti Ekspor Melesat, Surplus Neraca Dagang Menipis
Ilustrasi ekspor-impor. (Dok. Kementerian Keuangan)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • Ekspor Indonesia melonjak 21,98 persen yoy pada April 2026 hingga mencapai 25,3 miliar dolar AS, namun surplus neraca perdagangan menipis menjadi hanya 90 juta dolar AS.
  • Prasasti Center menilai depresiasi rupiah dan hilirisasi industri mendorong ekspor, terutama nikel olahan ke China yang naik 73 persen, meski tekanan inflasi perlu diwaspadai.
  • Pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) diharapkan memperkuat devisa negara, sementara koordinasi kebijakan moneter dan fiskal diperlukan untuk menjaga stabilitas rupiah serta mengendalikan inflasi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Jakarta, IDN Times - Prasasti Center for Policy Studies menyoroti lonjakan ekspor pada April 2026 yang mencapai 21,98 persen secarar (yoy year on year) menurut data Badan Pusat Statistik (BPS).

Tercatat, nilai ekspor Indonesia pada periode tersebut sebesar 25,3 miliar dolar Amerika Serikat (AS). Angka tersebut terdiri dari ekspor migas senilai 1,15 miliar dolar AS yang turun 1,2 persen (yoy), dan ekspor nonmigas 24,15 miliar dolar AS (tumbuh 23,36 persen secara tahunan).

Di saat ekspor melonjak, surplus neraca perdagangan pada April 2026 hanya senilai 90 juta dolar AS, terendah dalam 6 tahun terakhir atau selama 72 bulan.

1. Lonjakan nilai ekspor didorong depresiasi rupiah

ilustrasi ekspor (pexels.com/id-id/@tomfisk)
ilustrasi ekspor (pexels.com/id-id/@tomfisk)

Board of Experts Prasasti, Halim Alamsyah, melihat kenaikan ekspor ini selain tidak lepas dari pengaruh depresiasi rupiah, tetapi juga menunjukkan adanya respons positif dari produksi olahan manufaktur dan barang yang terkait dengan program hilirisasi. Namun, kecenderungan naiknya tekanan inflasi serta menipisnya surplus dagang adalah sinyal yang perlu dicermati dan ditangani secara cepat dan tepat.

“Akselerasi ekspor pada April yang melonjak hampir 22 persen, dan kenaikan ekspor nikel olahan ke China hingga 73 persen, adalah kabar yang layak disyukuri. Ini bukti hilirisasi mampu meningkatkan nilai tambah di dalam negeri dan kita harapkan juga menambah pasokan devisa justru ketika surplus dagang kita sedang menipis,” kata Halim dikutip dari keterangan resmi, Jumat (5/6/2026).

2. DSI bisa kerek devisa negara

ekspor SDA, DSI, airlangga hartarto
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dalam konferensi pers PT Danantara Sumberdaya Indonesia di Wisma Danantara, Jakarta Selatan, Minggu (31/5/2025).

Prasasti juga menyoroti pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (Persero) atau DSI untuk mendongkrak devisa negara melalui pemberantasan praktik under-invoicing, transfer pricing, dan pelarian devisa hasil ekspor.

“Hal itu tentu memerlukan langkah lanjutan yang cepat dan tepat agar kita tidak kehilangan arah dan momentum perbaikan kondisi ekonomi kita dewasa ini,” ujar Halim.

3. Perlu koordinasi kuat buat hadang pelemahan rupiah

ilustrasi rupiah (unsplash.com/Mufid Majnun)
ilustrasi rupiah (unsplash.com/Mufid Majnun)

Prasasti juga menyoroti inflasi secara bulanan atau month-to-month (mtm) pada April 2026 yang mencapai 0,28 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibanding catatan per April 2026 sebesar 0,13 persen.

Halim mengatakan, kenaikan tekanan inflasi selain bersumber dari kelangkaan beberapa pasokan akibat perang Iran vs Amerika Serikat (AS) dan komponen volatile foods, juga tidak dapat dilepaskan dari  depresiasi rupiah akhir-akhir ini.

Oleh karena itu, pengendalian nilai tukar dan inflasi menuntut perhatian yang lebih cermat mengingat ruang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi akan menjadi lebih sempit dan memerlukan koordinasi yang lebih ketat antara otoritas kebijakan moneter dan keuangan serta fiskal.

“Strategi pemerintah untuk terus mendorong kegiatan ekonomi akan diuji oleh pasar dengan kemampuan pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas rupiah dan inflasi,” kata Halim.

Halim menekankan pentingnya langkah-langkah untuk meningkatkan pasokan valas di dalam negeri dan koordinasi kebijakan makroekonomi untuk menjaga fundamental ekonomi Indonesia.

“Jangan sampai langkah-langkah yang diambil justru menambah ketidakpastian itu sendiri. Bagi pelaku ekonomi, kredibilitas kebijakan menuntut adanya kejelasan sasaran, insentif yang terarah, serta pelaksanaan yang konsisten,” ucap Halim.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Deti Mega Purnamasari
EditorDeti Mega Purnamasari

Related Articles

See More