Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Cara Pedagang Bikin Toko Makin Untung, Teknologi Permudah Usaha!
ilustrasi toko HP (unsplash.com/@olva)
  • Riko Febriansyah mengembangkan Virza Ponsel di Simalungun dari penjualan pulsa menjadi layanan tarik tunai dan transfer, setelah melihat kebutuhan pekerja pabrik yang ingin mengambil gaji serta mengirim uang.
  • Pencatatan digital membantu pemilik toko mengamankan data utang, memantau arus uang, dan menagih pelanggan; pembayaran QRIS juga mengatasi kekurangan uang kecil serta pembayaran yang terlewat.
  • Pemilik usaha disarankan memakai modal untuk stok barang cepat laku dan beragam, lalu rutin mengevaluasi penjualan, stok, pengeluaran, serta utang pelanggan agar usaha lebih terkontrol.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Membuat usaha berkembang tidak selalu harus dimulai dengan perubahan besar. Peluang justru sering datang dari persoalan sehari-hari, seperti pelanggan mencari layanan yang belum tersedia, catatan utang hilang, uang kembalian habis, atau modal yang belum digunakan dengan tepat.

Berdasarkan Loan Impact Report BukuWarung terhadap 1.839 pemilik usaha di 33 provinsi, sebanyak 72 persen responden mengalami pertumbuhan usaha dengan kenaikan pendapatan sebesar 58 persen. Selain itu, 43 persen di antaranya berhasil memperbesar skala usahanya.

Dari pengalaman mereka, berikut lima langkah sederhana yang bisa dicoba pemilik toko.

1. Tambahkan layanan yang dibutuhkan warga

Kisah Rahmat Jadi BukuAgen di Makassar hingga Sekolahkan Anak di Kairo. (Dok. Istimewa)

Riko Febriansyah, pemilik Virza Ponsel di Simalungun awalnya hanya berjualan pulsa dan voucher. “Setelah sejumlah pabrik baru berdiri di wilayah saya, banyak pekerja dari luar Sumatra membutuhkan layanan untuk mengambil gaji dan mengirim uang kepada keluarga,” ceritanya.

Riko kemudian menyediakan tarik tunai dan transfer melalui BukuAgen. “Konter saya kini menjadi tempat warga memenuhi kebutuhan transaksi keuangan,’ ujar Riko. Penghasilannya pun meningkat. Virza Ponsel bahkan dua kali tercatat sebagai BukuAgen dengan transaksi terbanyak di kabupatennya.

2. Catatan utang jangan sampai hilang

dok. PT Buku Usaha Digital/BukuWarung

Buku catatan mudah rusak atau hilang. Jika itu terjadi, pemilik toko bisa kehilangan informasi tentang penjualan dan utang pelanggan. Indah Setiawati, pemilik Indah Ponsel di Simalungun, pernah kehilangan seluruh catatan utang pelanggannya karena buku yang digunakannya tersiram teh. “Saya sampai menangis karena datanya hilang semua,” tuturnya.

Setelah beralih ke pencatatan digital melalui ponsel, catatan Indah menjadi lebih rapi. “Saya jadi bisa mengetahui berapa uang yang masuk dan keluar, serta utang pelanggan yang belum dibayar,’ ujar Indah.

3. Sediakan pembayaran digital agar tak perlu beri kembalian permen

Ilustrasi pembayaran melalui QRIS (dok. QRIS Interactive.co.id)

Uang pecahan kecil sering habis saat dibutuhkan. Tua Pangoluan Sitorus, pemilik toko THS Siantar di Pematang Siantar dulu mengganti uang kembalian dengan permen, meskipun tidak semua pelanggan bersedia menerimanya.

Ketika toko ramai, ia juga pernah terlewat dalam meminta pembayaran kepada pelanggan. Untuk mengatasinya, “Saya menyediakan pembayaran digital melalui QRIS BukuPay. Pelanggan sekarang bisa membayar dengan jumlah yang tepat tanpa menunggu kembalian. Tidak ada lagi yang komplain diberi kembalian permen,” cerita Tua.

4. Gunakan modal untuk barang yang cepat laku

ilustrasi toko kelontong yang ramai (pexels.com/Lie, Ellyta Geralda Christian)

Tambahan modal sebaiknya digunakan sesuai kebutuhan toko, bukan sekadar untuk menumpuk barang. Pujiono, pemilik toko kelontong di Sragen, menggunakan tambahan modal untuk memperbanyak jenis barang yang dijual. Dari semula hanya sekitar lima sampai enam jenis barang, tokonya kini menyediakan 10 sampai 15 jenis.

“Lebih baik stok sedikit, tetapi jenisnya beragam,” kata Pujiono. Ia menentukan barang yang akan dibeli dengan melihat catatan penjualan. Barang yang cepat laku dan cepat menghasilkan uang menjadi prioritas. “Tambahan modal seperti BukuModal dapat membantu usaha berkembang, tetapi jumlahnya tetap perlu disesuaikan dengan kemampuan usaha agar pembayaran kembali tidak menjadi beban,” tambahnya.

5. Periksa catatan usaha secara rutin

dok. PT Buku Usaha Digital/BukuWarung

Mencatat saja belum cukup. Pemilik toko perlu memeriksa kembali catatannya secara rutin. Perhatikan barang yang paling laku, stok yang terlalu lama tersimpan, pengeluaran yang bisa dikurangi, serta utang pelanggan yang belum dibayar.

Kebiasaan tersebut membantu Indah Setiawati mengetahui pelanggan yang sering terlambat membayar. Ia pun lebih berani menolak permintaan utang karena memiliki catatan yang jelas. “Dulu saya jadi tempat orang berutang. Sekarang saya berani menolak karena ada datanya,” ujar Indah.

Pengalaman para pemilik toko tersebut menunjukkan usaha dapat berkembang melalui langkah sederhana. Dan kini semua bisa diselesaikan dengan teknologi. Mulai dari penambahan layanan, cara pembayaran yang baik, menyediakan kebutuhan yang paling dicari, hingga trik menolak utang.

Editorial Team

Related Article