Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

China Pangkas Target PDB 2026 Tumbuh ke 4,5–5 Persen, Terendah sejak 1991

China Pangkas Target PDB 2026 Tumbuh ke 4,5–5 Persen, Terendah sejak 1991
Bendera China (pexels.com/aboodi vesakaran)
Intinya Sih
  • Pemerintah China menurunkan target pertumbuhan PDB 2026 menjadi 4,5–5 persen, level terendah sejak 1991, sebagai respons terhadap kondisi ekonomi global dan domestik yang semakin kompleks.
  • Strategi ekonomi difokuskan pada pertumbuhan berkualitas tinggi dengan penguatan industri teknologi, reformasi struktural mendalam, serta peningkatan ketahanan terhadap tekanan eksternal dan tantangan demografis.
  • Pemerintah menargetkan penciptaan lebih dari 12 juta pekerjaan baru, menjaga defisit sekitar 4 persen PDB, serta mengendalikan inflasi di kisaran 2 persen melalui kebijakan fiskal ekspansif.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times – Perdana Menteri China Li Qiang mengumumkan target pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) negara tersebut pada 2026 berada di kisaran 4,5–5 persen. Pernyataan itu disampaikan dalam laporan kerja pemerintah saat pembukaan sidang Kongres Rakyat Nasional (NPC) pada Kamis (5/3/2026).

Penetapan tersebut menjadi penurunan pertama sejak 2023. Dalam tiga tahun sebelumnya pemerintah selalu menargetkan pertumbuhan sekitar 5 persen, sementara kisaran 4,5–5 persen kini tercatat sebagai target resmi terendah yang pernah ditetapkan China sejak 1991.

1. Pemerintah menilai kondisi ekonomi semakin kompleks

ilustrasi portofolio investasi (pexels.com/Artem Podrez)
ilustrasi portofolio investasi (pexels.com/Artem Podrez)

Li Qiang menggambarkan situasi ekonomi yang tengah dihadapi negaranya sebagai kondisi yang tidak sederhana.

“Jarang sekali dalam banyak tahun kita menghadapi lanskap yang begitu serius dan kompleks, di mana guncangan eksternal dan tantangan saling terjalin dengan kesulitan domestik dan pilihan kebijakan yang sulit,” katanya, dikutip dari CNA.

Ia juga menilai 2025 sebagai periode yang sangat tidak biasa karena dinamika ekonomi yang rumit baik di dalam negeri maupun di tingkat global. Catatan resmi menunjukkan ekonomi China hanya tumbuh 5 persen sepanjang 2025, salah satu laju tahunan paling lambat dalam beberapa dekade terakhir, sementara total PDB melampaui 140 triliun yuan (setara Rp343 kuadriliun).

Pemerintah sengaja memilih target yang lebih rendah dan lebih berhati-hati untuk 2026. Li menjelaskan rentang 4,5–5 persen dimaksudkan memberi ruang bagi penyesuaian struktural, mitigasi risiko, serta reformasi pada tahun awal periode rencana lima tahunan, sekaligus menjadi fondasi bagi kinerja ekonomi yang lebih baik pada tahun-tahun berikutnya, sementara 2026 juga menandai dimulainya Rencana Lima Tahun ke-15 yang akan berlangsung hingga 2030.

2. Pemerintah mengarahkan strategi ekonomi ke pertumbuhan berkualitas

ilustrasi barang ekspor dari China (pexels.com/DuaEnam KosongLima)
ilustrasi barang ekspor dari China (pexels.com/DuaEnam KosongLima)

Dilansir dari The Guardian, penurunan target tersebut mencerminkan perubahan pendekatan menuju model yang oleh pemerintah disebut sebagai pertumbuhan berkualitas tinggi. Strategi ini menitikberatkan pada pengembangan industri berteknologi tinggi, reformasi struktural yang lebih mendalam, serta ketahanan ekonomi terhadap tekanan eksternal, bukan lagi bertumpu terutama pada sektor konstruksi dan ekspor.

China juga masih menghadapi sejumlah tantangan jangka panjang yang signifikan. Faktor tersebut mencakup populasi yang terus menua, permintaan domestik yang belum pulih sepenuhnya, serta perlambatan pertumbuhan ekonomi yang lazim terjadi ketika suatu negara mencapai tingkat pendapatan yang lebih tinggi.

3. Pemerintah menargetkan stabilitas lapangan kerja dan kebijakan fiskal

ilustrasi pekerja pabrik (pexels.com/Tiger Lily)
ilustrasi pekerja pabrik (pexels.com/Tiger Lily)

Pemerintah menetapkan sasaran penciptaan lebih dari 12 juta pekerjaan baru di wilayah perkotaan pada 2026. Tingkat pengangguran perkotaan juga dipertahankan sekitar 5,5 persen, sama seperti target yang digunakan dalam beberapa tahun terakhir.

Di sisi fiskal, pemerintah tetap menjalankan kebijakan ekspansif dengan mempertahankan rasio defisit anggaran terhadap PDB di sekitar 4 persen. Belanja anggaran publik umum diperkirakan menembus 30 triliun yuan (setara Rp73,5 kuadriliun) untuk pertama kalinya, meningkat sekitar 1,27 triliun yuan (setara Rp3,11 kuadriliun) dibandingkan 2025, dengan fokus utama pada peningkatan konsumsi domestik serta dorongan investasi.

Target inflasi melalui Indeks Harga Konsumen tetap dijaga di sekitar 2 persen. Namun tekanan deflasi masih terasa karena indeks harga produsen turun 1,4 persen pada Januari 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dan telah mengalami penurunan selama 40 bulan berturut-turut, sementara harga konsumen stagnan sepanjang 2025 serta hanya naik 0,2 persen pada Januari 2026, sehingga pemerintah berupaya mengembalikan tingkat harga umum ke wilayah positif serta menciptakan pemulihan harga konsumen yang wajar dan moderat guna mendukung siklus ekonomi yang sehat.

Sektor properti masih menjadi salah satu tekanan terbesar bagi perekonomian. Investasi real estat sepanjang 2025 merosot 17,2 persen dan penjualan rumah komersial berdasarkan luas lantai turun 8,7 persen, sementara pembangunan rumah baru tertinggal jauh dari masa puncaknya dan kelebihan stok hunian terus menekan harga di banyak kota, sehingga pemerintah berencana menerapkan kebijakan berbeda di setiap kota untuk mengendalikan proyek baru, menekan inventaris, serta menambah pasokan perumahan.

Pemerintah juga akan mempercepat pembelian unit rumah yang belum terjual agar dapat dialihkan menjadi perumahan bersubsidi pemerintah. Selain itu, pemanfaatan mekanisme daftar putih akan diperkuat guna memastikan proyek perumahan selesai tepat waktu sekaligus mencegah risiko gagal bayar utang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in Business

See More