Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Core Ungkap Biang Kerok Rupiah Lesu, 70 Persen Berasal dari Domestik

Core Ungkap Biang Kerok Rupiah Lesu, 70 Persen Berasal dari Domestik
Logo Bank Indonesia
Intinya Sih
  • Core Indonesia menilai 60–70 persen pelemahan rupiah dipicu faktor domestik, terutama ketidakpastian kebijakan, naiknya risiko investor, dan defisit perdagangan; faktor global berkontribusi 30–40 persen.
  • Rupiah berada di Rp18.073 per dolar AS dan melemah lebih dalam dibanding sejumlah mata uang regional. CDS Indonesia naik dari sekitar 70 menjadi sempat 100 basis poin, menandakan risiko investor meningkat.
  • Defisit perdagangan Mei 2026 mencapai 1,6 miliar dolar AS, pertama dalam enam tahun. BI merespons lewat suku bunga, intervensi devisa, SRBI, DNDF, dan swap, meski tiap langkah memiliki biaya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Center of Reform on Economics (Core) Indonesia menilai pelemahan rupiah tidak hanya dipicu oleh gejolak global. Tekanan terhadap mata uang Garuda saat ini dinilai lebih banyak berasal dari faktor domestik, seperti ketidakpastian kebijakan, meningkatnya persepsi risiko investor, hingga berbaliknya neraca perdagangan ke zona defisit.

Ekonom Core Indonesia Dipo Satria Ramli menjelaskan faktor global seperti konflik geopolitik di Timur Tengah memang sempat memicu gejolak di pasar keuangan. Namun, kontribusinya diperkirakan hanya sekitar 30 persen–40 persen, sedangkan faktor domestik mencapai 60 persen–70 persen.

"Tetapi yang menjadi masalah hari ini adalah si faktor domestik itu. Mungkin faktor global itu mungkin 30-40 persen, domestik mungkin 60-70 persen dari masalah. Kenapa saya bilang begitu? Karena kalau kita lihat trendnya, itu memang rupiah yang melemah paling dalam di Asia," ungkapnya dalam Core Mid Year Economic Review 2026 di Jakarta pada Rabu (29/7/2026).

1. Persepsi investor alami peningkatan

ilustrasi investor (freepik.com/drobotdean)
ilustrasi investor (freepik.com/drobotdean)

Bila mengacu data Bloomberg, mata uang Garuda parkir di level 18.073 per dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan rupiah juga lebih rendah dari mata uang negara tetangga seperti ringgit Malaysia, baht Thailand, hingga peso Filipina mulai kembali menguat.

Selain nilai tukar, peningkatan Credit Default Swap (CDS) Indonesia juga menunjukkan persepsi risiko investor terhadap Indonesia meningkat. CDS Indonesia naik dari sekitar 70 basis poin di awal tahun dan sempat menyentuh 100 basis poin.

Menurutnya, kenaikan CDS mengindikasikan investor semakin mencermati risiko investasi di Indonesia. Salah satu perhatian utama adalah kebijakan pemerintah yang dinilai sering berubah sehingga menciptakan ketidakpastian.

"Isu unpredictability policy selalu muncul, termasuk dalam laporan lembaga pemeringkat. Walaupun peringkat kredit Indonesia tetap terjaga, risiko kebijakan yang berubah-ubah masih menjadi sorotan," katanya.

2. Waspadai neraca dagang defisit

Ilustrasi ekspor-impor (Pixabay)
Ilustrasi ekspor-impor (Pixabay)

Di sisi lain, defisit neraca perdagangan pada Mei 2026 sebesar 1,6 miliar dolar AS juga menjadi sinyal yang perlu diwaspadai. Defisit tersebut merupakan yang pertama dalam enam tahun terakhir. Meski belum mencerminkan krisis, kondisi itu dinilai menjadi peringatan dini bahwa bantalan eksternal Indonesia mulai menipis akibat pertumbuhan impor yang lebih tinggi dibandingkan ekspor.

"Ini bukan tanda kita krisis, tapi ini memang adalah early warning. Bahwa memang bantalan eksternal kita menipis karena impornya naik lebih tinggi daripada ekspor. Jadi ini sesuatu yang mungkin kita perlu harus berhati-hati dan selalu mungkin ini dimonitor oleh orang, banyak investor," tegasnya.

3. Sejumlah langkah moneter sudah dilakukan BI untuk kuatkan rupiah

Ilustrasi cadangan devisa (IDN Times/Arief Rahmat)
Ilustrasi cadangan devisa (IDN Times/Arief Rahmat)

Untuk menjaga stabilitas rupiah, Bank Indonesia telah menempuh sejumlah langkah, mulai dari menaikkan suku bunga acuan, melakukan intervensi menggunakan cadangan devisa, hingga memperkuat instrumen moneter non-suku bunga.

Kenaikan BI Rate dinilai dapat membantu menjaga stabilitas nilai tukar, tetapi berisiko menekan permintaan kredit karena biaya pinjaman menjadi lebih mahal.

4. Cadangan devisa tidak bisa digunakan secara agresif

ilustrasi cadangan devisa (unsplash.com/ Viacheslav Bublyk)
ilustrasi cadangan devisa (unsplash.com/ Viacheslav Bublyk)

Sementara itu, intervensi di pasar valas melalui penggunaan cadangan devisa dinilai efektif meredam volatilitas rupiah. Namun, strategi tersebut tidak dapat dilakukan secara agresif karena berpotensi menggerus cadangan devisa. Tercatat, cadangan devisa telah berkurang sekitar 11 miliar dolar AS.

"Si cadangan devisa ini kalau dipakai sebenarnya ini yang paling efektif untuk intervensi pasar. Tetapi di lain sisi ini sangat menguras si cadangan devisa karena itu kan dipakai buat ekspor atau impor. Jadi ini tidak bisa terlalu agresif juga," tegasnya.

Selain itu, BI juga meningkatkan daya tarik instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dengan menaikkan imbal hasil hingga sekitar 7,5 persen guna menarik aliran dana asing. Di sisi lain, kebijakan ini meningkatkan beban bunga yang harus ditanggung bank sentral.

BI juga memperluas instrumen lindung nilai (hedging) melalui transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dan skema swap. Batas perlindungan untuk transaksi swap dinaikkan menjadi 12,5 persen dari sebelumnya 10 persen, sementara fasilitas DNDF kini diberikan hingga 15 persen.

Menurut Dipo, langkah-langkah tersebut dapat membantu menahan tekanan terhadap rupiah dalam jangka pendek. Namun, penguatan nilai tukar yang berkelanjutan tetap bergantung pada perbaikan fundamental domestik, terutama konsistensi kebijakan pemerintah dan meningkatnya kepercayaan investor.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More