ilustrasi isi bensin, BBM (pexels.com/cottonbro studio)
Sejarah menunjukkan dunia pernah mengalami beberapa krisis minyak besar. Krisis minyak 1973–1974 menjadi salah satu yang paling terkenal karena menyebabkan harga minyak melonjak sekitar 300%. Peristiwa tersebut membuat banyak negara sadar bahwa ketergantungan terhadap impor energi bisa sangat berbahaya.
Setelah krisis itu, International Energy Agency (IEA) dibentuk untuk membantu negara-negara anggotanya menghadapi gangguan pasokan energi. Salah satu fokus utama lembaga tersebut adalah mendorong pembentukan cadangan minyak strategis. Sejak saat itu, pelepasan stok darurat sudah beberapa kali dilakukan ketika dunia menghadapi krisis besar.
Beberapa pelepasan cadangan strategis pernah terjadi saat Perang Teluk 1991, badai Katrina 2005, perang sipil Libya 2011, hingga invasi Rusia ke Ukraina pada 2022. Pelepasan terbesar sejauh ini terjadi pada 2026 setelah penutupan Selat Hormuz memicu tekanan besar di pasar energi global. Situasi tersebut membuat semakin banyak negara berlomba memperbesar kapasitas penyimpanan minyak mereka.
Cadangan minyak strategis kini menjadi bagian penting dari keamanan nasional banyak negara. China tampil sebagai pemimpin dengan stok minyak terbesar dunia, jauh melampaui Amerika Serikat dan negara besar lainnya. Besarnya cadangan tersebut menunjukkan betapa pentingnya persiapan menghadapi krisis energi global di masa depan.
Ketegangan geopolitik, perang, hingga gangguan jalur perdagangan membuat negara-negara dunia gak bisa lagi bergantung sepenuhnya pada pasokan harian. Semakin besar stok minyak yang dimiliki, semakin kuat pula kemampuan suatu negara menghadapi gejolak pasar energi. Karena itulah persaingan membangun cadangan minyak strategis kemungkinan akan terus berlanjut dalam beberapa tahun ke depan.