Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Dampak Kebijakan Trump terhadap Harga Kebutuhan Pokok di 2026

Ilustrasi belanja bumbu dapur (freepik.com)
Ilustrasi belanja bumbu dapur (freepik.com)
Intinya sih...
  • Perubahan kebijakan perdagangan, biaya tenaga kerja, dan volatilitas harga komoditas mempengaruhi harga.
  • Gangguan produksi dan distribusi membuat rantai pasok semakin rapuh.
  • Tarif impor membuat biaya naik sebelum barang tiba di toko.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Memasuki 2026, harga bahan pangan di pasar ritel masih mencerminkan dampak lanjutan dari kebijakan dagang era pemerintahan kedua Donald Trump yang mendorong biaya impor bahan makanan dan bahan baku. Meski laju inflasi mulai melandai, tarif impor terbukti “mengunci” level harga di titik yang lebih tinggi dibandingkan sebelum kebijakan tersebut diberlakukan.

Para ahli menilai, tekanan biaya tenaga kerja, perubahan iklim, serta ongkos logistik yang belum sepenuhnya normal akan terus menjaga harga kebutuhan pokok tetap mahal sepanjang 2026. Meski demikian, ada juga beberapa komoditas yang berpotensi mengalami koreksi harga.

1. Faktor utama pendorong harga bahan pokok tetap mahal

Ilustrasi makanan siap masak (freepik.com)
Ilustrasi makanan siap masak (freepik.com)

Harga sembako di awal 2026 dipengaruhi oleh kombinasi tiga tekanan biaya utama yang saling bertumpuk, yaitu perubahan kebijakan perdagangan, mahalnya biaya tenaga kerja, serta volatilitas harga komoditas yang tidak merata di berbagai kategori. Kenaikan harga tidak hanya terjadi pada level produk akhir, tetapi juga sejak tahap hulu—mulai dari input bahan baku hingga proses distribusi.

Tarif impor, gangguan produksi akibat cuaca ekstrem, serta hambatan transportasi membuat rantai pasok semakin rapuh. Dampaknya, gangguan kecil di sisi produksi atau distribusi bisa langsung terasa di rak-rak supermarket.

Dampak tarif dan kebijakan dagang di kasir belanja

Ilustrasi belanja (freepik.com)
Ilustrasi belanja (freepik.com)

Kebijakan perdagangan global sangat memengaruhi harga kebutuhan pokok karena banyak produk pangan bergantung pada bahan impor. Tarif membuat biaya naik bahkan sebelum barang tiba di toko, sementara ruang gerak ritel untuk “menyerap” kenaikan tersebut sangat terbatas.

Sebagai contoh, harga kopi sempat melonjak tajam setelah tarif impor diterapkan pada negara pemasok utama, lalu kembali turun relatif cepat saat kebijakan tersebut dilonggarkan. Fluktuasi seperti ini membuat harga belanja terasa tidak stabil, meskipun inflasi umum terlihat lebih terkendali.

Komoditas pangan yang paling rentan naik-turun harga

Ilustrasi menyiapkan makanan (pexels.com/@punchbrandstock/)
Ilustrasi menyiapkan makanan (pexels.com/@punchbrandstock/)

Tidak semua produk pangan bereaksi sama terhadap tekanan biaya. Komoditas yang bergantung pada rantai pasok global dan sensitif terhadap cuaca cenderung lebih fluktuatif. Beberapa kategori yang paling rawan mengalami lonjakan harga antara lain daging sapi, telur, kopi, makanan berbasis gula (seperti cokelat dan permen), makanan laut, serta hasil pertanian segar.

Produk domestik memang relatif lebih “terlindungi”, namun tetap tidak kebal terhadap gejolak harga—contohnya telur dan produk susu yang sempat melonjak akibat wabah penyakit unggas.

Biaya tenaga kerja dan transportasi masih jadi beban

Ilustrasi uang (freepik.com)
Ilustrasi uang (freepik.com)

Walau harga komoditas tertentu mulai stabil, ongkos tenaga kerja dan distribusi masih menjadi sumber tekanan inflasi pangan. Kenaikan upah di sektor pertanian, pengolahan, hingga ritel memaksa pelaku usaha menyesuaikan harga jual. Akibatnya, konsumen masih harus bersiap menghadapi harga yang cenderung bertahan tinggi.

Apakah ada harga sembako yang turun di 2026?

Pergerakan harga di 2026 tidak akan seragam. Kenaikan yang dipicu gangguan pasokan sementara berpeluang terkoreksi, tetapi harga yang terdorong oleh faktor struktural—seperti dampak iklim dan masalah tenaga kerja—cenderung menetap lebih lama. Artinya, konsumen bisa menemukan beberapa harga turun di satu sisi rak, namun naik di sisi lainnya.

Cara ritel dan konsumen menyiasati volatilitas harga

Ilustrasi uang (freepik.com)
Ilustrasi uang (freepik.com)

Peritel mulai mengandalkan merek private label dan menyalurkan kenaikan harga secara selektif. Sementara itu, konsumen dapat mengelola anggaran belanja dengan strategi sederhana seperti:

  • Membeli produk tahan lama saat diskon
  • Memilih merek toko (private label)
  • Memanfaatkan program loyalitas dan cashback
  • Merencanakan menu mingguan untuk mengurangi pemborosan

Meski harga bahan pokok di 2026 belum sepenuhnya kembali ramah di kantong, konsumen tetap bisa bersikap adaptif. Dengan strategi belanja yang cerdas dan perencanaan keuangan yang lebih disiplin, lonjakan harga tidak harus selalu berujung pada tekanan besar di anggaran rumah tangga.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in Business

See More

Kenapa Banyak Bisnis Gagal di Fase Berkembang?

14 Feb 2026, 15:02 WIBBusiness