Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kalau Rupiah Melemah, Apa Dampak Langsung yang Kita Rasakan?
ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama)
  • Pelemahan rupiah hingga sekitar Rp17.300 per dolar AS membuat harga barang impor naik dan menekan pelaku usaha karena biaya pengadaan serta pengiriman meningkat.
  • Depresiasi rupiah memengaruhi harga saham, laba rugi, dan arus kas perusahaan akibat perubahan nilai tukar yang berdampak pada operasional serta daya saing di pasar internasional.
  • Kenaikan harga minyak mentah dan BBM akibat kurs melemah memicu lonjakan biaya transportasi, menekan daya beli masyarakat, serta memperlambat konsumsi domestik dan pertumbuhan ekonomi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pergerakan nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat dalam beberapa waktu terakhir tidak hanya memengaruhi pelaku usaha besar, tetapi juga dirasakan langsung oleh masyarakat luas.

Dilansir dari laman resmi Axa Mandiri, dalam beberapa waktu terakhir, rupiah melemah signfikan bahkan sempat menyentuh level terlemah sepanjang sejarah di kisaran Rp17.300 per dolar AS akibat tekanan global dan kenaikan harga komoditas seperti minyak dunia.

1. Harga barang impor naik dan pengusaha tertekan

ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama)

Ketika rupiah terdepresiasi dan dolar menguat, harga barang impor seperti elektronik, gadget, pakaian, dan kosmetik cenderung meningkat. Hal ini terjadi karena distributor harus membayar lebih mahal saat membeli barang dari luar negeri.

Selain itu, pelaku usaha di sektor ekspor-impor juga terdampak. Kenaikan biaya pengadaan dan pengiriman dapat menekan keuntungan, bahkan berpotensi menimbulkan kerugian.

2. Harga saham perusahaan mengalami perubahan

Ilustrasi pasar saham (freepik.com)

Tidak hanya membuat pengusaha mengalami kerugian, depresiasi rupiah juga dapat berpengaruh pada harga saham perusahaan. Hal ini dikarenakan nilai tukar yang mengalami perubahan bisa berdampak pada kegiatan operasional perusahaan sekaligus daya saing mereka di pasar internasional.

Saat depresiasi nilai rupiah terjadi, maka ekonomi perdagangan internasional juga mengalami ketidakseimbangan. Inilah yang membuat harga saham perusahaan dan daya saing perusahaan tersebut turut mengalami perubahan.

3. Perubahan laba rugi perusahaan

ilustrasi rugi besar (freepik.com/rawpixel)

Selain membuat harga saham perusahaan berubah, depresiasi nilai rupiah juga dapat berpengaruh pada berubahnya besaran laba dan rugi perusahaan yang bersangkutan. Hal ini karena berubahnya nilai tukar mata uang dapat mengakibatkan adanya perubahan pada penerimaan dan pengeluaran perusahaan.

Bukan hanya laba rugi, arus kas masuk dan keluar perusahaan juga bisa mengalami perubahan yang berdampak pada operasional perusahaan. Inilah yang membuat adanya kemungkinan perusahaan harus bersiap menerima laba dan rugi yang berbeda dibandingkan sebelumnya.

4. Harga minyak mentah meningkat dan menyebabkan kenaikan harga BBM

ilustrasi bahan bakar mobil (pexels.com/Engin Akyurt)

Depresiasi nilai rupiah juga akan berdampak pada harga minyak mentah. Alasannya karena pembelian minyak mentah tersebut masih didasarkan pada kurs. Terlebih lagi saat rupiah sedang tidak stabil, maka harga minyak mentah akan mengikuti kurs yang tengah berlaku.

Ketika harga minyak meningkat, maka otomatis harga BBM pun ikut melonjak meski harga BBM domestik dapat dikendalikan dengan subsidi. Ketika harga BBM melonjak, maka biaya transportasi umum dan logistik, maka harga barang-barang kebutuhan sehari-hari pun akan ikut meningkat.

5. Menghambat konsumsi domestik

ilustrasi belanja di pasar tradisional (unsplash.com/Fauzan)

Depresiasi nilai tukar rupiah juga mampu menciptakan efek domino yang berkaitan dengan sektor ekonomi, termasuk kecenderungan konsumsi secara domestik. Depresiasi rupiah ini membuat daya beli masyarakat cenderung lesu, salah satu penyebabnya dikarenakan harga yang berfluktuasi melebihi ekspektasi.

Saat perubahan harga yang tiba-tiba dan penuh ketidakpastian membuat pelaku pasar mau tidak mau harus menyesuaikannya. Terlebih lagi saat kenaikan biaya hidup yang meningkat, mampu berpengaruh pada daya beli konsumen yang pada akhirnya berdampak bagi pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

6. Nilai investasi dan tabungan menurun sedangkan utang menanjak

ilustrasi tabungan (unsplash.com/Andre Taissin)

Nilai tabungan dalam rupiah terhadap mata uang asing akan otomatis menurun dan mengurangi daya beli dalam skala internasional. Di sisi lain, investasi tertentu seperti saham, obligasi, atau reksa dana berpotensi menjadi lebih fluktuatif, tergantung pada kondisi pasar global.

Oleh karena itu, kamu perlu lebih berhati-hati dan melakukan diversifikasi portofolio untuk mengurangi risiko kerugian.

Sementara itu, saat terjadi depresiasi nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing justru membuat utang pemerintah Indonesia terhadap luar negeri mengalami pembengkakan. Terlebih lagi situasi tersebut membuat nilai ekspor barang menjadi lebih murah, sedangkan nilai impor lebih mahal.

Editorial Team