Tolak Impor Beras, Prabowo Sedih Ada Anggapan Petani RI Tak Efisien

- Presiden Prabowo Subianto menolak pandangan bahwa petani Indonesia tidak efisien dan menilai anggapan impor beras lebih baik sebagai cara pikir yang keliru terhadap kedaulatan pangan nasional.
- Dalam pidatonya di Penas Petani dan Nelayan XVII Gorontalo, Prabowo menegaskan pentingnya negara hadir untuk menjamin kesejahteraan rakyat, termasuk petani dan nelayan, melalui akses pendidikan dan kebutuhan dasar.
- Prabowo mengingatkan pengalaman krisis global menunjukkan pentingnya kemandirian pangan serta menyoroti program Makan Bergizi Gratis sebagai upaya memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi.
Jakarta, IDN Times - Presiden Prabowo Subianto merasa sedih terhadap cara pikir sebagian kalangan "orang pintar" yang menilai petani Indonesia tidak efisien. Hal itu Prabowo sampaikan dalam pidatonya pada Puncak Pekan Nasional (Penas) Petani dan Nelayan XVII di Gorontalo, Rabu (24/6/2026).
Prabowo menyinggung adanya pandangan dari kalangan orang pintar dan penasihat ekonomi yang menilai petani dalam negeri tidak efisien dibandingkan negara lain. Pandangan itu, menurutnya, sempat muncul dalam diskursus kebijakan pangan nasional.
"Waktu itu banyak pakar-pakar yang pinter-pinter, sampai sekarang masih menganggap dirinya pinter, mengatakan untuk apa kita membela petani Indonesia?" ujar Prabowo.
"Kalau petani Indonesia... Ini kata-kata beliau, bukan Pak Aburizal Bakrie tapi salah satu penasehatnya, 'Kalau petani Indonesia tidak efisien', itu kata-kata beliau. 'Kalau petani Vietnam lebih efisien, lebih baik kita beli beras dari Vietnam'. Itu pandangan orang-orang pintar," sambungnya.
Prabowo menegaskan, logika tersebut tidak memahami esensi kedaulatan negara. Prabowo menyebut responsnya saat mendengar pandangan itu muncul dari kegelisahan mendalam terhadap arah kebijakan pangan yang hanya bertumpu pada efisiensi pasar.
“Saya kaget, saya kaget dan saya sedih. Saya mengatakan dalam hati saya, ini salah besar. Ini tidak mengerti apa arti negara, tidak mengerti apa arti bernegara, tidak mengerti kenapa kita mau merdeka,” ucap dia.
Prabowo kemudian mengaitkan tujuan kemerdekaan dengan kesejahteraan rakyat, termasuk petani dan nelayan. Prabowo menekankan, negara hadir untuk memastikan akses pendidikan, layanan kesehatan, dan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi secara adil.
Prabowo mengatakan, pemikiran petani Indonesia tidak efisien dan lebih baik impor adalah cara pandang sesat. Prabowo menegaskan, menolak hal tersebut.
“Kalau petani Vietnam lebih efisien, lebih baik kita beli beras dari Vietnam. Saya kira ini pemikiran yang sesat. Dan saya tetap berpendirian seperti itu dan sekarang sejarah membuktikan bahwa pendirian saya itu yang benar,” kata Prabowo.
Prabowo mengingatkan, pengalaman saat krisis global, termasuk pandemi COVID-19, ketika banyak negara membatasi ekspor pangan. Kondisi itu, menurutnya, memperlihatkan pentingnya kemandirian pangan nasional.
Lebih lanjut, Prabowo menyinggung meningkatnya ancaman kelaparan global. Berdasarkan prediksi lembaga internasional seperti FAO, jumlah penduduk dunia yang mengalami kelaparan terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Dalam kesempatan itu, Prabowo turut menyinggung program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang masih menuai perdebatan di ruang publik. Ia mempertanyakan pandangan yang menilai ada isu lain yang lebih penting dibanding kebutuhan pangan dasar.
“Katanya ada orang-orang pinter yang mengatakan ada lebih genting dari perut lapar. Saya kira tidak ada lebih genting dari perut lapar. Orang perut lapar itu kalau tidak segera diisi ya dia mati,” ujar dia.


![[QUIZ] Tebak Pekerjaan Karakter di Upin-Ipin, Penonton Setia Bisa Benar Semua?](https://image.idntimes.com/post/20240922/img-4256-7705a60071e5c91c966005914272f5fd.jpeg)


![[QUIZ] Jika Reinkarnasi Nyata, Cek Kamu akan Terlahir Jadi CEO atau Karyawan Biasa](https://image.idntimes.com/post/20250411/1000080289-5b24f5a14d3cd8dcd6ed21352b3d81b1-8e79354d356775a53c1f354e2534f81e.jpg)













