Danantara Masuk Bisnis Tekstil, Siap Bangun Industri Sendiri

- BPI Danantara akan membangun industri tekstil sendiri sebagai bagian percepatan industrialisasi dan penciptaan lapangan kerja, karena sektor ini dinilai mampu menyerap banyak tenaga kerja.
- Danantara membuka peluang kolaborasi dengan perusahaan swasta domestik maupun asing, sebab percepatan industrialisasi tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah dan Danantara.
- Pemerintah mendorong transformasi dari ekonomi berbasis komoditas ke industri melalui deregulasi, pemilihan mitra berkapasitas, serta evaluasi kebijakan impor barang bekas.
Jakarta, IDN Times - Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara akan masuk langsung ke industri tekstil dengan membangun industri baru di sektor tersebut. Langkah ini menjadi bagian dari upaya pemerintah mendorong industrialisasi dan menciptakan lebih banyak lapangan kerja.
Chief Operating Officer (COO) BPI Danantara Dony Oskaria mengatakan, industri tekstil menjadi salah satu sektor yang dipilih karena memiliki kemampuan menyerap banyak tenaga kerja.
“Untuk mendorong terjadinya percepatan dari industrialization kita. Beberapa contoh misalkan kita sudah mengetahui tekstil kita akan masuk. Danantara akan masuk sendiri. Jadi Danantara akan mulai membangun industri tekstil kita sendiri," ujar Dony di Jakarta Pusat, Kamis (8/10/2026).
1. Buka kolaborasi dengan swasta untuk ciptakan lapangan kerja

ilustrasi pabrik tekstil (pexels.com/Pixabay) Meski Danantara akan masuk dan membangun industri tekstil sendiri, Dony membuka peluang kolaborasi dengan pelaku usaha swasta. Kerja sama tersebut dapat melibatkan perusahaan swasta dalam negeri maupun asing yang memiliki kapasitas sesuai kebutuhan industri.
“Ini membuka lapangan pekerjaan yang banyak. Tetapi kita tidak tahu, jujur, kemungkinan kemudian berkolaborasi dengan swasta untuk bisa mendorong karya,” katanya.
2. Peran swasta perlu diperbesar untuk dorong industrialisasi

Wakil Menteri BUMN (II), Dony Oskaria. (IDN Times/Vadhia Lidyana) Menurut Dony, pengembangan industri tekstil tidak bisa hanya mengandalkan Danantara maupun pemerintah. Peran sektor swasta perlu diperbesar agar industrialisasi dapat berjalan lebih cepat.
“Tidak mungkin itu dibebankan seluruhnya kepada Danantara maupun kepada pemerintah. Peran sektor swasta harus kita dorong semaksimal mungkin,” ujar Dony.
3. Ubah ketergantungan komoditas menjadi ke industri

ilustrasi pekerja industri (pexels.com/Chevanon Photography) Menurut Dony, pemerintah ingin mendorong transformasi ekonomi Indonesia dari yang selama ini bertumpu pada komoditas menuju ekonomi berbasis industri. Langkah ini dinilai penting untuk memperluas penciptaan lapangan kerja di dalam negeri.
Oleh karena itu, pemerintah akan mempercepat industrialisasi melalui deregulasi dan pemilihan mitra yang sesuai dengan kapasitas industri yang dikembangkan.
"Ekonomi tadi kan saya sampaikan bahwa kita ingin bertransformasi, tidak lagi hanya berdasarkan t, tetapi kita ingin industrial based. Industrial ini kan pasti ujung-ujungnya adalah pembukaan lapangan pekerjaan," ujar Dony.
Menurutnya, pemerintah tengah mendorong sektor-sektor industri yang mampu menciptakan banyak lapangan kerja. Industrialisasi yang dilakukan juga diharapkan memberikan dampak lebih besar terhadap perekonomian domestik.
Ia menilai percepatan industrialisasi diperlukan agar Indonesia tidak lagi terlalu bergantung pada ekspor komoditas. Karena itu, pemerintah juga akan memastikan pengembangan industri dilakukan bersama mitra yang memiliki kapasitas sesuai dengan kebutuhan.
4. Sudah bertemu dengan asosiasi tekstil

Ilustrasi aktivitas pekerja di lini produksi industri tekstil dan pakaian jadi. (dok. Kementerian Perindustrian/bbt.kemenperin.go.id) Ia mengatakan Danantara saat ini telah berkolaborasi dengan sejumlah pihak swasta untuk mendorong percepatan industrialisasi. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperkuat kapasitas industri nasional sekaligus membuka lapangan pekerjaan.
Di sisi lain, pemerintah juga akan memberikan dukungan melalui deregulasi dan penyesuaian sejumlah kebijakan yang dinilai memengaruhi perkembangan industri tekstil.
Dony mengatakan, pihaknya telah beberapa kali bertemu dengan asosiasi tekstil, pelaku usaha tekstil, hingga asosiasi pengusaha sepatu untuk membahas persoalan yang dihadapi industri.
“Kita sudah berbicara dan saya sudah rapat beberapa kali dengan asosiasi tekstil, pengusaha tekstil dan juga dengan asosiasi pengusaha sepatu. Pemerintah hari ini menyadari bahwa selama ini industri kita tidak tumbuh,” jelasnya.
Salah satu kebijakan yang akan dievaluasi berkaitan dengan impor barang bekas. Menurut Dony, pemerintah akan meninjau kembali kebijakan impor tersebut agar tidak menghambat perkembangan industri dalam negeri.
“Kita mencari contohnya di industri tekstil. Impor barang bekas yang kita lakukan dengan kebijakan cross-border misalkan dan sebagainya. Ini akan direview oleh pemerintah,” katanya.






















