Diancam AS, Kenya Tunda Perjanjian Perdagangan Bebas dengan China

- Kenya menunda perjanjian perdagangan bebas dengan China atas tekanan AS
- AGOA menjadi prioritas untuk akses pasar AS bagi produk Kenya
- Produk Kenya terancam tanpa perpanjangan perjanjian AGOA dan pentingnya perjanjian perdagangan bebas dengan China
Jakarta, IDN Times - Presiden Kenya, William Ruto memutuskan untuk menunda peresmian perjanjian perdagangan bebas dengan China. Keputusan Nairobi ini imbas tekanan besar dari Amerika Serikat (AS) atas hubungannya dengan Beijing.
Pada September, Kenya berusaha mendorong penguatan hubungan dagang dengan AS. Negara Afrika Timur itu berusaha untuk memperpanjang perjanjian perdagangan African Growth and Opportunity Act (AGOA).
1. Kenya lebih mengutamakan AGOA untuk memastikan akses ke pasar AS

Kementerian Perdagangan Kenya menyatakan, proposal perjanjian perdagangan bebas dengan China ini masih tahap awal. Karena itu, masih dibutuhkan persetujuan dari Parlemen Kenya dan Presiden Ruto.
Dilansir The Kenya Times, penundaan perjanjian ini disebabkan oleh rencana Kenya untuk mempertahankan AGOA. Sebab, perjanjian itu akan membuat produk Kenya dapat dipasarkan secara luas dan kompetitif di pasar AS.
Selama 25 tahun terakhir, AGOA sudah memperbolehkan masuknya produk ekspor Kenya di AS. Produk andalan Kenya adalah tekstil dan pertanian untuk dapat masuk ke AS tanpa bea masuk.
2. Produk Kenya terancam tanpa adanya AGOA

Perjanjian AGOA sudah berakhir pada 30 September 2025 dan perpanjangan perjanjian itu belum disetujui oleh Parlemen AS. Sejak perjanjian itu berakhir, produk impor asal Kenya terdampak tarif bea masuk sebesar 28 persen.
Dilansir Business Insider Africa, Asosiasi Manufaktur Kenya memperingatkan lebih dari 66 ribu pekerjaan di Kenya terancam pemberhentian massal. Sebab, ekspor produk aparel ke AS nilainya mencapai lebih dari 600 juta dolar AS (Rp10,1 triliun) setiap tahunnya.
3. Perjanjian Perdagangan Bebas China penting untuk perjanjian Kenya

Sementara itu, rencana Perjanjian Perdagangan Bebas China-Kenya berfungsi memangkas tarif bea masuk produk pertanian Kenya di pasar China. Perjanjian tersebut penting untuk mengurangi tarif sejumlah produk, seperti teh, kopi, avokad, dan ikan.
Negosiasi soal perjanjian ini sudah diungkapkan pada April 2025 saat Ruto berkunjung ke Beijing. Pada Oktober, China dan Kenya sudah membicarakan soal standar sanitasi produk pertanian dari Kenya untuk memenuhi standar di China.


















