Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Doom Spending: 7 Alasan Orang Makin Boros Saat Masa Depan Tak Pasti
ilustrasi belanja (pexels.com/Max Fischer)
  • Doom spending adalah belanja impulsif untuk meredakan kecemasan, stres, atau ketidakpastian masa depan; rasa lega sesaat sering berganti penyesalan saat kondisi keuangan disadari.
  • Media sosial, FOMO, kenaikan biaya hidup, serta pembayaran digital dan paylater memperkuat dorongan konsumtif karena keinginan mudah muncul dan konsekuensi uang keluar terasa kurang nyata.
  • Tandanya meliputi belanja saat stres, membeli barang tak dibutuhkan, menyesal setelah transaksi, hingga memakai utang; pengendalian dapat dimulai dengan jeda 24 jam dan anggaran.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Ketika kondisi ekonomi terasa tidak menentu, sebagian orang memilih memperketat pengeluaran dan menambah simpanan. Namun, ada pula yang justru lebih sering berbelanja meski menyadari kondisi keuangannya sedang tidak ideal. Kebiasaan tersebut bisa muncul ketika seseorang menggunakan aktivitas belanja untuk meredakan kecemasan, stres, kebosanan, atau kekhawatiran terhadap masa depan.

Fenomena ini dikenal dengan istilah doom spending, yakni perilaku membelanjakan uang secara impulsif sebagai respons terhadap perasaan negatif mengenai kondisi saat ini atau masa depan. Masalahnya, rasa lega yang muncul setelah berbelanja biasanya hanya bertahan sebentar dan dapat digantikan oleh penyesalan ketika kondisi keuangan kembali disadari. Lantas, mengapa doom spending begitu mudah terjadi dan apa saja tanda yang perlu kamu waspadai?

1. Kecemasan terhadap masa depan dapat memicu perilaku konsumtif

ilustrasi cemas (pexels.com/jcomp)

Ketidakpastian mengenai pekerjaan, pendapatan, harga kebutuhan, maupun kondisi ekonomi dapat membuat seseorang merasa tidak memiliki kendali atas kehidupannya. Saat berbagai persoalan tersebut sulit dikendalikan, belanja menjadi salah satu aktivitas yang masih terasa mudah untuk diputuskan sendiri. Membeli pakaian, makanan, gawai, kosmetik, atau barang lain dapat memberikan perasaan bahwa setidaknya ada sesuatu yang bisa dinikmati sekarang.

Dalam kondisi emosional yang berat, keputusan membeli juga dapat terasa seperti hadiah setelah melewati hari yang melelahkan. Seseorang mungkin berpikir bahwa masa depan belum tentu sesuai harapan sehingga uang yang dimiliki lebih baik digunakan untuk menikmati sesuatu saat ini. Pola pikir semacam itu dapat berkembang menjadi doom spending apabila pembelian dilakukan berulang kali tanpa mempertimbangkan kemampuan finansial.

2. Media sosial membuat keinginan belanja semakin sulit dikendalikan

ilustrasi media sosial (pexels.com/Sanket Mishra)

Media sosial tidak hanya menjadi tempat untuk mencari informasi dan hiburan, tetapi juga dipenuhi berbagai konten yang mendorong keinginan untuk membeli. Video haul, ulasan produk, rekomendasi barang, hingga unggahan gaya hidup dapat membuat seseorang terus menemukan hal baru yang terlihat menarik. Paparan semacam ini berpotensi membuat kebutuhan dan keinginan menjadi semakin sulit dibedakan.

Situasinya bisa semakin rumit ketika muncul fear of missing out atau FOMO, yaitu rasa takut tertinggal dari tren maupun lingkungan sosial. Ketika banyak orang terlihat memiliki produk tertentu, seseorang dapat merasa perlu ikut membeli agar tidak merasa berbeda atau ketinggalan. Jika dilakukan saat kondisi emosional sedang tidak stabil, dorongan tersebut dapat berubah menjadi keputusan impulsif yang kemudian disesali.

3. Belanja memberikan kesenangan cepat ketika pikiran sedang tertekan

ilustrasi belanja (pexels.com/Sora Shimazaki)

Ada alasan psikologis mengapa aktivitas belanja terasa menyenangkan bagi sebagian orang ketika sedang stres. Proses mencari barang, memilih produk, lalu menyelesaikan transaksi dapat memberikan pengalaman yang mengalihkan perhatian dari masalah yang sedang dipikirkan. Sensasi positif tersebut membuat belanja berpotensi digunakan sebagai cara untuk mengelola emosi, meskipun hanya memberikan kelegaan sementara.

Persoalannya muncul ketika seseorang mulai menjadikan transaksi sebagai respons otomatis terhadap emosi negatif. Sedih sedikit, membuka aplikasi belanja; bosan, mencari promo; cemas memikirkan masa depan, lalu membeli sesuatu yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Jika pola tersebut terus berulang, masalah emosional belum terselesaikan sementara kondisi keuangan justru dapat semakin tertekan.

4. Kenaikan biaya hidup dapat mengubah cara seseorang memandang uang

ilustrasi belanja (pexels.com/Max Fischer)

Tekanan biaya hidup juga dapat memengaruhi cara seseorang mengambil keputusan finansial. Ketika harga kebutuhan terus terasa meningkat sementara pendapatan tidak mengalami perubahan yang sebanding, masa depan bisa terlihat semakin sulit direncanakan. Dalam kondisi seperti itu, sebagian orang dapat kehilangan motivasi untuk menabung karena merasa target finansial mereka terlalu jauh untuk dicapai.

Dari sinilah muncul pola pikir untuk menikmati uang selagi masih bisa digunakan. Menabung atau berinvestasi dianggap tidak terlalu memberikan manfaat dalam jangka pendek, sedangkan membeli sesuatu memberikan kepuasan yang dapat dirasakan langsung. Cara berpikir tersebut memang dapat membuat seseorang merasa lebih tenang sesaat, tetapi berisiko memperlemah kemampuan finansial ketika dilakukan tanpa batas.

5. Sistem pembayaran digital membuat proses belanja terasa sangat mudah

ilustrasi order barang (pexels.com/rawpixel.com)

Perkembangan teknologi membuat seseorang tidak perlu lagi membawa uang tunai atau pergi ke toko untuk melakukan pembelian. Dengan dompet digital, kartu pembayaran, dan layanan buy now, pay later atau paylater, transaksi dapat dilakukan hanya melalui beberapa sentuhan pada layar. Kemudahan tersebut membuat jarak antara munculnya keinginan dan terjadinya pembelian menjadi semakin pendek.

Masalahnya, kemudahan pembayaran dapat membuat seseorang kurang merasakan konsekuensi langsung dari uang yang keluar. Ketika transaksi tidak terasa seperti kehilangan uang secara nyata, keputusan membeli bisa menjadi lebih impulsif. Jika kebiasaan tersebut dilakukan menggunakan fasilitas kredit atau paylater, pengeluaran hari ini juga dapat berubah menjadi kewajiban yang harus dibayar pada masa mendatang.

6. Ada tanda-tanda yang menunjukkan belanja mulai menjadi pelarian

ilustrasi belanja (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Doom spending tidak selalu terlihat dari satu transaksi besar karena kebiasaan tersebut juga dapat muncul melalui pembelian kecil yang dilakukan berulang kali. Karena nilainya terlihat ringan, seseorang mungkin tidak menyadari bahwa akumulasi pengeluaran tersebut sudah mengambil porsi besar dari pendapatan. Perubahan perilaku biasanya lebih mudah dikenali jika kamu memperhatikan alasan dan kondisi emosional sebelum melakukan pembelian.

Beberapa tanda berikut patut diperhatikan jika mulai muncul dalam keseharian:

  • Sering membuka aplikasi belanja ketika sedang stres atau bosan. Aktivitas belanja mulai digunakan untuk mengalihkan pikiran dari emosi yang tidak menyenangkan.

  • Merasa senang saat membeli, tetapi menyesal setelahnya. Rasa puas berlangsung singkat dan segera digantikan oleh rasa bersalah atau khawatir melihat kondisi rekening.

  • Membeli barang tanpa benar-benar membutuhkannya. Keputusan lebih banyak didorong oleh keinginan sesaat daripada kebutuhan yang sudah direncanakan.

  • Mulai menggunakan utang untuk memenuhi keinginan konsumtif. Kartu kredit, paylater, atau bentuk pinjaman lainnya digunakan agar kebiasaan belanja tetap bisa berjalan.

  • Kaget ketika melihat total pengeluaran bulanan. Banyak transaksi kecil yang dilakukan tanpa perencanaan ternyata menghasilkan jumlah pengeluaran yang cukup besar.

Jika beberapa tanda tersebut terasa familiar, kondisi tersebut bukan berarti tidak bisa diperbaiki. Hal terpenting adalah mengenali pola sebelum kebiasaan belanja berkembang menjadi persoalan finansial yang lebih berat. Kesadaran terhadap pemicu emosional juga dapat membantu kamu mencari cara lain untuk menghadapi stres tanpa selalu mengandalkan transaksi.

7. Menghentikan doom spending dimulai dari memberi jeda sebelum membeli

ilustrasi purchase order (freepik.com/rawpixel.com)

Langkah pertama untuk mengurangi doom spending bukan sekadar melarang diri sendiri berbelanja, melainkan memahami alasan di balik keinginan tersebut. Ketika dorongan membeli muncul, coba tanyakan apakah barang tersebut memang dibutuhkan atau hanya digunakan untuk memperbaiki suasana hati. Memberikan jeda, misalnya dengan menerapkan aturan menunggu 24 jam untuk pembelian yang tidak direncanakan, dapat membantu emosi mereda sebelum keputusan dibuat.

Selain itu, kamu dapat membuat anggaran yang memisahkan kebutuhan, keinginan, tabungan, dan kewajiban pembayaran. Notifikasi promosi juga bisa dinonaktifkan, sementara akun yang terus mendorong gaya hidup konsumtif dapat dibatasi agar godaan tidak muncul terlalu sering. Jika kebiasaan belanja sudah mengganggu kondisi finansial atau membuat tekanan emosional semakin berat, mencari bantuan dari perencana keuangan maupun tenaga profesional kesehatan mental dapat menjadi langkah yang lebih tepat.

Pada akhirnya, doom spending bukan sekadar persoalan seseorang terlalu suka berbelanja. Kebiasaan ini dapat berkaitan dengan kecemasan, tekanan ekonomi, kebutuhan akan kepuasan instan, hingga kemudahan teknologi yang membuat transaksi semakin tidak terasa. Dengan mengenali pemicu dan membangun jeda sebelum membeli, kamu bisa mulai mengembalikan keputusan finansial dari dorongan sesaat ke pertimbangan yang lebih sehat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article