ilustrasi gempa bumi (freepik.com/user189
Sebelumnya, Arif Satria mengungkap ironi yang terjadi di lingkungan lembaga riset negara. Saat anggaran riset justru bertambah hingga Rp1,9 triliun, proposal penelitian yang masuk masih jauh dari harapan, sehingga perlu adanya upaya untuk meningkatkan kualitas proposal penelitian.
“Pemerintah telah memberikan tambahan anggaran riset yang cukup besar. Namun, hingga saat ini jumlah proposal penelitian yang masuk masih jauh di bawah target yang diharapkan,” ungkap Kepala BRIN di hadapan para peneliti membuka kegiatan Capacity Building Organisasi Riset Tata Kelola Pemerintahan dan Ekonomi Makro (OR TKPEM) di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Sarwono Prawirohardjo, BRIN Gatot Subroto, Jakarta, Rabu (10/6/2026).
Menurutnya, tantangan BRIN saat ini bukan lagi sekadar keterbatasan dana, melainkan ketersediaan gagasan riset yang kuat, terukur, dan berdampak. “Dana riset sudah tersedia. Yang kita butuhkan sekarang adalah proposal-proposal berkualitas yang mampu menghasilkan terobosan dan memberikan manfaat nyata,” tegasnya saat
Menurutnya, dari tambahan anggaran yang berhasil diperoleh, proposal yang masuk baru mencapai sekitar Rp600 miliar. Setelah melalui proses evaluasi, nilai proposal yang dinilai layak bahkan baru sekitar Rp150 miliar. Angka tersebut masih sangat jauh dari target penyerapan yang diharapkan mencapai lebih dari Rp1 triliun.
Situasi ini membuka pertanyaan besar mengenai kesiapan komunitas riset nasional dalam memanfaatkan dukungan fiskal yang semakin besar. Kepala BRIN menilai banyak proposal yang masih lemah, baik dari sisi perencanaan anggaran maupun dampak yang dihasilkan.