- Won Korea melemah 6,22 persen
- Yen Jepang melemah 0,06 persen
Rupiah Melemah hingga Penutupan di Level Rp17.877 per Dolar AS

- Rupiah ditutup melemah 16 poin atau 0,09 persen ke Rp17.877 per dolar AS pada perdagangan Rabu, sementara won Korea dan yen Jepang juga terkoreksi.
- Perkembangan geopolitik Timur Tengah memengaruhi rupiah, dengan sinyal beragam dari proses perdamaian dan sikap Iran terkait pembukaan Selat Hormuz.
- Pelaku pasar bersikap wait and see menjelang data inflasi AS yang memengaruhi ekspektasi suku bunga The Fed, serta menanti tinjauan MSCI domestik.
Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau kurs rupiah ditutup melemah pada akhir perdagangan, Rabu(12/8/2024). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah ke level Rp17.877 per dolar AS.
Rupiah tercatat melemah 16 poin atau 0,09 persen dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya.
1. Hanya sedikit mata uang di Asia yang melemah
Rupiah tidak melemah sendirian karena ada sejumlah mata uang di Asia yang ikut melemah, di antaranya:
2. Perkembangan geopolitik Timur Tengah jadi faktor utama pergerakan rupiah
Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan, perkembangan geopolitik di Timur Tengah masih menjadi salah satu faktor utama yang mempengaruhi pergerakan rupiah.
Menurut dia, laporan dari Pakistan mengindikasikan bahwa proses menuju kesepakatan damai kembali menunjukkan perkembangan positif. Namun, Iran menegaskan bahwa Selat Hormuz belum akan dibuka sebelum sejumlah persyaratan terpenuhi.
"Rupiah diperkirakan bergerak konsolidatif di tengah perkembangan geopolitik di Timur Tengah yang masih memberikan sinyal beragam," ujar Lukman.
3. Investor cermati jelang pengumuman MSCI
Di sisi lain, pelaku pasar cenderung mengambil sikap wait and see menjelang rilis data inflasi AS pada malam ini. Data tersebut menjadi perhatian karena dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed).
Dari dalam negeri, investor juga mencermati pengumuman tinjauan MSCI yang berpotensi memengaruhi arus dana asing ke pasar Indonesia. Sebelumnya, MSCI menjadi salah satu faktor yang diperhatikan investor dalam menentukan arah aset domestik.



















