Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
DPR Optimistis Pertamina Beri Nilai Tambah Besar di Blok Masela
Ilustrasi industri gas alam cair (LNG). (pexels.com/Diego F. Parra)
  • Pertamina Hulu Energi resmi memegang 20 persen saham di Proyek LNG Abadi Blok Masela sejak 2023, diharapkan mempercepat pengembangan dan meningkatkan nilai tambah nasional.
  • Proyek dengan cadangan gas 18,54 TCF dan kapasitas produksi 9,5 juta ton per tahun ini ditargetkan memperkuat ketahanan energi serta mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan timur Indonesia.
  • Keterlibatan Pertamina dinilai mampu tingkatkan produksi migas nasional dan penerimaan negara, dengan total investasi sekitar 20,9 miliar dolar AS serta potensi penerimaan pajak besar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Anggota Komisi XII DPR RI Sartono Hutomo menilai keterlibatan PT Pertamina Hulu Energi (PHE) dalam pengembangan Proyek LNG Abadi Blok Masela menjadi momentum untuk meningkatkan peran perusahaan pelat merah tersebut dalam proyek migas strategis nasional.

Menurut Sartono, kehadiran PHE sebagai pemegang hak partisipasi (participating interest/PI) sebesar 20 persen sejak 2023 menjadi salah satu faktor yang mendorong percepatan pengembangan proyek. Masuknya Pertamina juga diikuti persetujuan revisi Plan of Development (POD) oleh pemerintah pada November 2023.

"PHE berpotensi memberi kontribusi besar karena memiliki pengalaman mengelola proyek hulu migas nasional," ujar Sartono dalam keterangannya, Senin (20/7/2026).

1. Kepemilikan 20 persen di Blok Masela bisa berikan nilai tambah

PGN LNG Indonesia

Ia menegaskan, kepemilikan PHE 20 persen di Blok Masela harus menghasilkan manfaat yang terukur, bukan sekadar menjadi pemegang saham.

Pada tahap konstruksi, PHE diharapkan mampu meningkatkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), memperluas keterlibatan industri nasional, mendorong transfer teknologi, serta menjaga efisiensi proyek yang bernilai investasi sekitar 20,9 miliar dolar AS.

Dengan demikian, ia berharap PHE mempunyai kemampuan mengembangkan aspek teknis, lingkungan, dan komersial.

2. Blok Masela diharapkan dapat memperkuat ketahanan energi nasional

PT Pertamina Hulu Energi Binaiya bersama mitra konsorsium Petronas Energy Binaiya Sdn. Bhd. dan EO Binaiya Pte. Ltd. melakukan penandatanganan KKS di WK Binaiya dengan (SKK Migas). Penandatanganan PSC WK Binaiya dilakukan saat perhelatan The 49th IPA Convention & Exhibition di ICE BSD, Tangerang, pada Rabu (21/5). (dok. Pertamina)

Selain itu, Sartono menilai PHE memiliki sumber daya manusia yang memadai untuk mengembangkan aspek teknis, komersial, hingga pengelolaan lingkungan proyek.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa Blok Masela merupakan proyek LNG berskala global yang menuntut standar environmental, social, and governance (ESG) tinggi serta daya saing komersial. Karena itu, kolaborasi teknologi dan tata kelola dinilai menjadi faktor penting agar proyek tetap kompetitif di pasar LNG dunia.

Dengan cadangan gas mencapai 18,54 triliun kaki kubik (TCF) dan kapasitas produksi LNG sebesar 9,5 juta ton per tahun, Sartono berharap Blok Masela dapat memperkuat ketahanan energi nasional, meningkatkan penerimaan negara, serta mendorong pertumbuhan ekonomi di Indonesia bagian timur.

"Kita tentu bangga. Namun, kebanggaan itu harus dibuktikan melalui manfaat nyata bagi rakyat, yaitu pasokan gas untuk industri dan kelistrikan dalam negeri. Bukan hanya keberhasilan membangun proyek atau meningkatkan ekspor LNG,” ujarnya

3. Bisa tingkatkan produksi migas nasional

Indonesia tengah memasuki babak baru dalam sektor hulu minyak dan gas melalui pengembangan Lapangan Gas Abadi di Blok Masela, yang terletak di Laut Arafura, Maluku. ( jernih.co)

Senada, Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Satya Widya Yudha menilai keterlibatan Pertamina melalui PHE akan memberikan keuntungan ganda bagi Indonesia. Selain berpotensi meningkatkan produksi migas nasional, negara juga memperoleh manfaat dari penerimaan negara serta bagian keuntungan yang diterima Pertamina sebagai peserta proyek.

Satya berharap proyek yang sempat tertunda hampir tiga dekade atau 27 tahun dapat berjalan sesuai jadwal hingga mulai berproduksi.

“Ya, kita doakan lancar. Karena kan sudah terlambat lama,” ucapnya.

Sebagai informasi, Presiden Prabowo Subianto meresmikan groundbreaking Proyek Strategis Nasional LNG Abadi Masela di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, pada 16 Juli 2026.

Tak hanya itu, proyek tersebut diproyeksikan memberikan penerimaan langsung kepada negara sekitar 37,8 miliar dolar AS, dengan tambahan potensi penerimaan pajak tidak langsung sebesar 6,43 miliar dolar AS. Nilai investasi proyek diperkirakan mencapai 20,9 miliar dolar AS atau sekitar Rp352 triliun.

Curated For You

Editorial Team

Related Article