Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Mengapa Omzet Besar Tidak Selalu Berarti Bisnis Untung Banyak?

Mengapa Omzet Besar Tidak Selalu Berarti Bisnis Untung Banyak?
ilustrasi menjalani bisnis dengan saudara (pexels.com/Antoni Shkraba Studio)
  • Omzet hanyalah total pendapatan kotor, sedangkan laba adalah sisa uang bersih setelah dikurangi seluruh biaya.

  • Pengeluaran operasional yang membengkak, diskon besar, dan biaya kecil tak terdata dapat menggerus margin keuntungan.

  • Bisnis beromzet tinggi tetap bisa bangkrut jika pembayaran konsumen tertunda sehingga arus kas terganggu.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Banyak orang mengira bisnis dengan omzet besar berarti sang pemilik otomatis mendapatkan keuntungan yang besar juga. Padahal, kenyataannya tidak selalu demikian. Ada bisnis yang mampu mencatat penjualan hingga ratusan juta rupiah setiap bulan, tetapi uang yang benar-benar tersisa setelah semua biaya dibayar ternyata tidak seberapa.

Hal ini penting dipahami, terutama bagi pemilik usaha yang sedang melihat perkembangan bisnis mereka. Jangan sampai merasa bisnis sudah sangat sukses hanya karena angka omzet terlihat tinggi, padahal kondisi keuangan sebenarnya masih belum sehat. Lantas, mengapa omzet besar tidak selalu berarti bisnis untung?

  1. 1. Omzet dan laba merupakan dua hal yang berbeda

    ilustrasi bisnis pakaian
    ilustrasi bisnis pakaian (pexels.com/Liza Summer)

    Hal pertama yang perlu dipahami ialah perbedaan antara omzet dan laba. Omzet merupakan total pendapatan yang diperoleh bisnis dari penjualan dalam periode tertentu. Sementara itu, laba adalah uang yang tersisa setelah pendapatan dikurangi berbagai biaya yang dikeluarkan untuk menjalankan bisnis.

    Sebuah toko, misalnya, berhasil mendapatkan omzet Rp100 juta dalam 1 bulan. Angka tersebut memang terlihat besar. Namun, pemilik usaha masih harus membayar biaya bahan baku, gaji karyawan, sewa tempat, listrik, biaya pengiriman, pemasaran, pajak, hingga biaya operasional lainnya.

    Jika seluruh biaya tersebut mencapai Rp90 juta, laba yang tersisa hanya Rp10 juta. Jadi, omzetnya Rp100 juta, tetapi keuntungan sebenarnya hanya 10 persen dari omzet. Itulah sebabnya, omzet tidak bisa dijadikan satu-satunya patokan untuk menilai apakah bisnis benar-benar menguntungkan.

  2. 2. Biaya operasional bisa menggerus keuntungan

    ilustrasi menjalani bisnis dengan saudara
    ilustrasi menjalani bisnis dengan saudara (pexels.com/Kampus Production)

    Salah satu alasan bisnis dengan omzet besar belum tentu menghasilkan laba besar ialah biaya operasional yang juga tinggi. Semakin besar bisnis, biasanya semakin banyak kebutuhan yang harus dibiayai. Sebagai contoh, bisnis kuliner dengan banyak pesanan mungkin harus membeli bahan baku dalam jumlah besar. Di sisi lain, bisnis juga membutuhkan lebih banyak karyawan untuk mengurus produksi dan pengiriman. Selain itu, ada biaya sewa tempat, listrik, internet, kemasan, transportasi, hingga biaya promosi.

    Jika pengeluaran tersebut tidak dikontrol dengan baik, peningkatan penjualan justru bisa diikuti dengan peningkatan biaya yang hampir sama besarnya. Karena itu, pemilik bisnis sebaiknya tidak hanya bertanya, "Berapa omzet bulan ini?" Namun, pemilik bisnis juga perlu memikirkan, "Berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan omzet tersebut?"

  3. 3. Diskon dan promo bisa membuat omzet terlihat besar

    ilustrasi promo beli 1 gratis 1
    ilustrasi promo beli 1 gratis 1 (freepik.com/freepik)

    Strategi diskon memang bisa membantu meningkatkan penjualan. Namun, terlalu sering memberikan potongan harga juga dapat membuat margin keuntungan semakin tipis. Sebagai contoh, sebuah produk sebenarnya bisa memberikan keuntungan Rp30 ribu per item. Namun, saat ada promo besar-besaran, keuntungan tersebut mungkin turun menjadi hanya Rp10 ribu. Penjualan memang meningkat, tetapi keuntungan per produk justru berkurang.

    Kondisi seperti ini sering membuat bisnis terlihat ramai karena transaksi terus masuk. Padahal, saat semua biaya dihitung, keuntungan yang diperoleh belum tentu sebanding dengan jumlah penjualannya. Ini bukan berarti promo itu buruk untuk bisnis. Hanya saja, bisnis perlu menghitung apakah peningkatan omzet dari promo benar-benar menghasilkan tambahan laba yang sehat.

  4. 4. Ada biaya yang sering tidak terasa

    ilustrasi bisnis kuliner
    ilustrasi bisnis kuliner (pexels.com/Elle Hughes)

    Pengeluaran kecil juga bisa menjadi masalah jika terjadi terus-menerus. Biaya admin marketplace, ongkos transaksi, biaya kemasan, langganan aplikasi, iklan digital, hingga biaya pengiriman subsidi mungkin terlihat kecil jika dilihat satu per satu. Namun, ketika dikumpulkan selama 1 bulan, jumlahnya bisa cukup besar.

    Sebagai contoh, bisnis mengeluarkan Rp50 ribu untuk berbagai kebutuhan kecil setiap hari. Dalam sebulan, angka tersebut bisa mencapai sekitar Rp1,5 juta. Jika tidak dicatat dengan baik, pemilik usaha bisa merasa uang terus berputar tanpa menyadari ke mana sebagian pendapatannya pergi. Karena itu, pencatatan keuangan sederhana tetap penting, bahkan untuk bisnis yang masih berskala kecil.

  5. 5. Arus kas juga perlu diperhatikan

    ilustrasi perempuan sedang memikirkan ide bisnis
    ilustrasi perempuan sedang memikirkan bisnis (freepik.com/marymarkevich)

    Bisnis bisa saja terlihat untung di atas kertas, tetapi tetap mengalami kesulitan membayar kebutuhan sehari-hari. Penyebabnya bisa karena masalah arus kas atau cash flow. Sebagai contoh, sebuah usaha mendapatkan pesanan dalam jumlah besar dengan sistem pembayaran 30 atau 60 hari. Secara pencatatan, penjualan tersebut sudah menghasilkan pendapatan. Namun, uangnya belum masuk ke rekening bisnis.

    Pemilik usaha tetap harus membayar gaji karyawan, membeli bahan baku, membayar listrik, dan memenuhi berbagai kebutuhan operasional lain. Karena itu, kondisi keuangan bisnis tidak cukup dinilai dari omzet dan laba. Pemilik bisnis juga perlu memperhatikan kapan uang masuk dan berbagai pengeluaran harus dibayarkan.

    Pada akhirnya, bisnis yang sehat bukan sekadar bisnis dengan angka penjualan yang besar. Yang tidak kalah penting ialah seberapa efisien suatu bisnis mengelola pendapatan dan pengeluaran. Jadi, kalau ingin mengetahui bisnis benar-benar berkembang atau tidak, jangan hanya terpaku pada omzet. Hitung juga laba bersih setiap bulannya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team
Yudha ‎
EditorYudha ‎

Related Articles

See More