Efisiensi Perusahaan, Uber Pangkas 3.000 Pekerja dan Hapus WFH

- Uber akan memangkas sekitar 3.000 posisi, setara 10 persen tenaga kerja, dengan pemberitahuan terdampak mengikuti aturan ketenagakerjaan di masing-masing wilayah.
- Restrukturisasi dilakukan untuk menyederhanakan organisasi: lapisan manajemen dikurangi, tim dengan pekerjaan tumpang tindih digabung, dan tanggung jawab diperjelas agar keputusan lebih cepat.
- Sebagian besar pekerja remote diminta kembali ke kantor dengan pola hybrid tiga hari; penghematan restrukturisasi akan dialihkan ke pertumbuhan, inovasi, dan kendaraan otonom.
Kalau kamu mengikuti perkembangan dunia kerja, perubahan kebijakan di perusahaan teknologi besar tentu cukup menarik perhatian. Salah satunya datang dari Uber yang sedang melakukan restrukturisasi besar-besaran demi membuat organisasinya lebih sederhana dan efisien.
Dalam langkah tersebut, perusahaan berencana memangkas sekitar 3.000 posisi atau sekitar 10 persen dari total karyawannya. Gak cuma soal PHK, Uber juga meminta sebagian besar pekerja remote untuk kembali bekerja dari kantor. Perubahan ini menunjukkan bahwa setelah beberapa tahun mengandalkan pola kerja fleksibel, perusahaan mulai mengambil pendekatan yang berbeda terhadap cara karyawannya bekerja.
1. Uber pangkas sekitar 3.000 pekerja

ilustrasi perusahaan Uber, perusahaan teknologi, jasa pesan antar makanan, food delivery, kurir (unsplash.com/Robert Anasch) Uber sedang merombak struktur organisasinya dengan memangkas sekitar 10 persen tenaga kerja. Berdasarkan data yang dikutip CNBC, perusahaan memiliki sekitar 34 ribu karyawan pada akhir 2025. Artinya, jumlah pekerja yang terdampak restrukturisasi ini mencapai sekitar 3.000 orang.
Pemberitahuan mengenai posisi yang terdampak sudah disampaikan kepada sebagian besar pekerja. Namun, prosesnya bisa berbeda di sejumlah wilayah karena Uber tetap harus mengikuti aturan ketenagakerjaan setempat. Jadi, kebijakan ini gak serta-merta diterapkan dengan proses yang persis sama kepada semua karyawan di berbagai negara.
2. Struktur perusahaan dibuat lebih sederhana

ilustrasi perusahaan Uber, perusahaan teknologi, aplikasi smartphone (pexels.com/freestocks.org) CEO Uber, Dara Khosrowshahi menjelaskan bahwa pertumbuhan perusahaan dalam beberapa tahun terakhir membuat organisasi menjadi jauh lebih kompleks. Menurutnya, pendapatan utama Uber hampir tiga kali lipat dalam sekitar lima tahun terakhir. Pertumbuhan sebesar itu memang bisa membuat perusahaan membutuhkan lebih banyak koordinasi, tapi pada saat yang sama juga berpotensi menciptakan lapisan birokrasi yang semakin panjang.
Uber kemudian mengurangi sejumlah posisi yang dianggap lebih banyak berfokus pada koordinasi. Beberapa lapisan manajemen juga dipangkas, sementara tim-tim yang pekerjaannya tumpang tindih digabungkan. Dengan struktur yang lebih sederhana, perusahaan berharap setiap orang punya tanggung jawab yang lebih jelas dan proses pengambilan keputusan bisa berlangsung lebih cepat.
3. WFH hampir sepenuhnya dihapus

ilustrasi work from home, WFH, kerja remote (pexels.com/Annushka Ahuja) Buat kamu yang terbiasa bekerja dari rumah, kebijakan baru Uber ini mungkin terasa cukup mengejutkan. Perusahaan meminta sebagian besar karyawan yang selama ini bekerja secara remote untuk pindah ke kantor. Uber juga tetap menerapkan kebijakan hybrid yang mengharuskan karyawan bekerja dari kantor selama tiga hari dalam seminggu.
Ke depannya, hanya sekitar 1 persen karyawan Uber yang diperkirakan akan tetap bekerja sepenuhnya secara remote. Tim global perusahaan akan lebih banyak ditempatkan di New York dan San Francisco, meskipun Uber masih mempertahankan sejumlah pusat teknologi serta tim regional dan berbasis negara. Dengan begitu, perusahaan ingin membuat lokasi kerja menjadi lebih terkonsentrasi dibanding sebelumnya.
4. Uber ingin lebih banyak kolaborasi langsung

ilustrasi brainstorming (pexels.com/Ketut Subiyanto) Menurut Khosrowshahi, survei internal menunjukkan bahwa sebagian karyawan merasa terlalu banyak waktu tersita untuk berdiskusi mengenai persoalan dan melakukan koordinasi antartim. Kondisi tersebut dinilai membuat proses kerja menjadi lebih rumit. Karena itu, Uber memilih mengurangi fragmentasi dan menyatukan beberapa tim yang dianggap mengalami duplikasi pekerjaan.
Khosrowshahi juga menilai interaksi secara langsung punya manfaat yang semakin jelas setelah periode pandemik COVID-19. Menurut pandangannya, duduk dan bekerja bersama di satu tempat dapat membantu tim berkolaborasi serta menyelesaikan masalah dengan lebih cepat. Jadi, keputusan mengurangi kerja remote gak hanya berkaitan dengan kehadiran di kantor, tapi juga bagian dari upaya mengubah cara kerja organisasi.
5. Penghematan akan dialihkan untuk pertumbuhan

ilustrasi perusahaan Uber, perusahaan teknologi, taksi online, driver, transportasi di China (pexels.com/Neil Ni) PHK dan perubahan sistem kerja ini memang menjadi langkah yang cukup besar, tapi Uber menyebut ada tujuan bisnis yang lebih luas di baliknya. Perusahaan ingin organisasi yang lebih ramping bisa menghasilkan penghematan sekaligus memberikan lebih banyak ruang untuk investasi. Dana tersebut rencananya akan digunakan untuk pertumbuhan, inovasi, dan pengembangan kemampuan yang dianggap penting untuk beberapa tahun ke depan.
Langkah tersebut menjadi semakin menarik karena Uber sebelumnya menyatakan komitmen untuk menginvestasikan hingga 10 miliar dolar AS atau sekitar Rp177,8 triliun ke sektor kendaraan otonom. Perusahaan sendiri pernah menjual divisi kendaraan swakemudinya pada 2020, tapi kini kembali melihat teknologi tersebut sebagai peluang besar. Jadi, kalau kamu melihat keseluruhan strateginya, restrukturisasi ini bukan sekadar memangkas jumlah pekerja, melainkan juga bagian dari upaya Uber menyiapkan organisasi untuk mengejar peluang bisnis baru.
Pada akhirnya, keputusan Uber memperlihatkan bahwa pertumbuhan perusahaan gak selalu berarti jumlah karyawan harus terus bertambah. Ketika organisasi sudah terlalu kompleks, perusahaan bisa memilih merampingkan struktur agar pengambilan keputusan dan pelaksanaan pekerjaan menjadi lebih cepat.
Di sisi lain, perubahan seperti ini tentu membawa dampak besar bagi karyawan, terutama mereka yang harus meninggalkan pekerjaan remote. Langkah Uber juga menjadi gambaran bahwa kebijakan WFH yang sempat berkembang pesat setelah pandemi belum tentu menjadi pola kerja permanen di semua perusahaan.



















