Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Dua Bulan Beruntun, Neraca Dagang Juni Defisit 450 Juta Dolar AS
Ilustrasi neraca perdagangan. (IDN Times/Mardya Shakti)
  • Neraca dagang Indonesia defisit 450 juta dolar AS pada Juni 2026, melanjutkan defisit Mei 1,61 miliar dolar AS setelah surplus 72 bulan beruntun.
  • Defisit Juni dipicu neraca migas minus 3,49 miliar dolar AS, melampaui surplus nonmigas 3,04 miliar dolar AS; impor melonjak 34,27 persen menjadi 25,91 miliar dolar AS.
  • Ekspor Juni mencapai 25,46 miliar dolar AS, naik 8,84 persen tahunan. Surplus Januari–Juni tersisa 3,58 miliar dolar AS, jauh di bawah 19,60 miliar dolar AS tahun sebelumnya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Pada Juni 2026, Indonesia membeli barang lebih banyak daripada menjualnya, jadi kekurangan 450 juta dolar AS. BPS bilang ini terjadi dua bulan terus. Minyak dan gas yang dibeli sangat banyak. Tetapi dari Januari sampai Juni, Indonesia masih punya lebih uang dagang 3,58 miliar dolar AS.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Neraca perdagangan Indonesia kembali mencatat defisit sebesar 450 juta dolar AS pada Juni 2026. Ini menjadi defisit dua bulan beruntun, setelah pada Mei 2026 neraca perdagangan juga mencatat defisit 1,61 miliar dolar AS yang mengakhiri tren surplus selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

Defisit ini terjadi karena besarnya defisit perdagangan minyak dan gas (migas) yang belum mampu ditutupi oleh surplus perdagangan nonmigas.

1. Penyebab terjadi defisit neraca dagang

Deputi Bidang Distribusi dan Jasa, Ateng Hartono. (IDN Times/Triyan).

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono mengatakan, neraca perdagangan migas pada Juni 2026 mengalami defisit sebesar 3,49 miliar dolar AS. Defisit terutama berasal dari perdagangan hasil minyak dan minyak mentah.

Di sisi lain, neraca perdagangan nonmigas masih mencatat surplus 3,04 miliar dolar AS.

"Kondisi ini ditopang oleh komoditas lemak dan minyak hewan nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja," ungkap Ateng dalam konferensi pers di Kantor BPS, Senin (3/8/2026).

Secara kumulatif sepanjang Januari–Juni 2026, neraca perdagangan Indonesia masih membukukan surplus sebesar 3,58 miliar dolar AS. Namun, capaian tersebut jauh lebih rendah dibandingkan surplus pada periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 19,60 miliar dolar .

2. Laju ekspor capai 25,46 miliar dolar AS

Ilustrasi ekspor-impor (Pixabay)

BPS mencatat nilai ekspor Juni 2026 mencapai 25,46 miliar dolar AS, naik 8,84 persen dibandingkan Juni 2025. Kenaikan ekspor terutama ditopang oleh peningkatan ekspor nonmigas.

Nilai ekspor nonmigas pada Juni 2026 mencapai 24,39 miliar dolar AS, naik 9,46 persen dibandingkan Juni 2025 yang sebesar 22,28 miliar dolar AS. Sementara itu, nilai ekspor migas tercatat 0,76 miliar dolar AS, turun 31,76 persen dari 1,11 miliar dolar AS pada Juni 2025.

"Peningkatan ekspor nonmigas terutama didorong oleh komoditas nikel dan barang darinya (HS75), lemak dan minyak hewan atau nabati (HS15), serta bahan bakar mineral (HS27)," ujar Ateng.

Secara kumulatif, total nilai ekspor sepanjang Januari–Juni 2026 mencapai 140,81 miliar dolar AS, naik 4,13 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 135,23 miliar dolar AS.

"Secara kumulatif, nilai ekspor meningkat 4,13 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu," kata Ateng.

Sepanjang Januari–Juni 2026, nilai ekspor migas turun 10,11 persen menjadi 6,23 miliar dolar AS dari 6,93 miliar dolar AS pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Sebaliknya, nilai ekspor nonmigas pada Januari–Juni 2026 naik 4,90 persen menjadi 134,58 miliar dolar AS dari 128,29 miliar dolar AS pada periode yang sama tahun sebelumnya 1

Sementara itu, nilai impor mencapai 25,91 miliar dolar AS, atau melonjak 34,27 persen secara tahunan. Lonjakan impor tersebut menyebabkan neraca perdagangan kembali berada di zona defisit.

3. Impor Juni tercatat 25,91 miliar dolar AS

ilustrasi ekspor (pixabay.com/michaelgaida)

Di sisi lain, nilai impor Indonesia pada Juni 2026 mencapai 25,91 miliar dolar AS, meningkat 34,27 persen dibandingkan Juni 2025 yang sebesar 19,29 miliar dolar AS.

Nilai impor nonmigas tercatat 21,35 miliar dolar AS, naik 25,05 persen dibandingkan Juni 2025 sebesar 17,07 miliar dolar AS. Adapun impor migas melonjak 105,15 persen menjadi 4,56 miliar dolar AS dari 2,22 miliar dolar AS pada Juni 2025.

Secara kumulatif, total nilai impor sepanjang Januari–Juni 2026 mencapai 137,24 miliar dolar AS, meningkat 18,69 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 115,63 miliar dolar AS.

Sementara itu, nilai impor migas sepanjang Januari–Juni 2026 naik 38,71 persen menjadi 22 miliar dolar AS dari 15,86 miliar dolar AS pada periode yang sama tahun sebelumnya.

"Sedangkan nilai impor nonmigas tercatat 115,23 miliar dolar AS, atau naik 15,50 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu," jelasnya.

3. Daftar negara yang catatkan surplus dan defisit perdagangan dengan Indonesia

Ilustrasi ekspor (ANTARA FOTO/Didik Suhartono)

Surplus neraca perdagangan terbesar (seluruh komoditas):

  • Amerika Serikat: 8,55 miliar dolar AS

  • India: 6,68 miliar dolar AS

  • Filipina: 4,24 miliar dolar AS

Defisit neraca perdagangan terbesar (seluruh komoditas):

  • China: 13,61 miliar dolar AS

  • Australia: 4,40 miliar dolar AS

  • Singapura: 4,33 miliar dolar AS

Surplus perdagangan nonmigas terbesar:

  • Amerika Serikat: 10,44 miliar dolar AS

  • India: 6,73 miliar dolar AS

  • Filipina: 4,02 miliar dolar AS

Defisit perdagangan nonmigas terbesar:

  • China: 14,26 miliar dolar AS

  • Australia: 3,97 miliar dolar AS

  • Prancis: 1,49 miliar dolar AS

Curated For You

Editorial Team

Related Article