Chateau Ksara, adalah kebun anggur (vineyard) tertua di wilayah Lembah Bekaa (commons.wikimedia.org/Philippe48)
Turunnya permintaan anggur di dunia saat ini disebabkan oleh perubahan gaya hidup masyarakat, terutama generasi muda yang mulai mengurangi konsumsi alkohol tradisional. Selain itu, masalah ekonomi dunia dan tarif pajak perdagangan yang tinggi membuat ekspor ke negara besar seperti Amerika Serikat dan China menjadi sulit.
Akibatnya, jumlah ekspor anggur Prancis jatuh ke level terendah dalam 20 tahun terakhir. Padahal, Prancis sudah mencoba mengurangi produksi dengan menutup 35 ribu hektar lahan anggur sejak tahun 2023. Namun, stok tetap saja berlebih karena penurunan jumlah orang yang minum anggur jauh lebih cepat dibandingkan pengurangan luas lahan.
Anggota Parlemen Eropa, Esther Herranz García, menjelaskan bagaimana kebijakan ini membantu petani menghadapi krisis ekonomi sekaligus perubahan iklim.
"Aturan ini adalah jawaban yang tepat untuk krisis di sektor anggur. Eropa memberikan bantuan nyata berupa dana darurat untuk membantu petani beradaptasi lebih cepat terhadap perubahan pasar dan tantangan iklim," kata García.
Melalui bantuan nyata ini, pihak berwenang di Eropa berharap para produsen anggur bisa mengatur ulang produksi mereka dan mencari peluang di pasar ekspor baru agar usaha mereka bisa bertahan dalam jangka panjang.