Prancis Larang Pertemuan Akbar Muslim, Cegah Ancaman Teror

- Pemerintah Prancis melarang pertemuan akbar umat Muslim ke-40 di Paris atas instruksi Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez untuk mencegah potensi ancaman teror.
- Larangan tersebut disambut positif oleh Imam Hassen Chalghoumi yang menilai keputusan itu sebagai langkah berani demi menjaga keamanan dan ketertiban publik.
- Pertemuan tahunan umat Muslim Prancis dikenal sebagai yang terbesar di Eropa, namun kerap mendapat stigma negatif setelah resolusi Dewan Nasional yang mengaitkan gerakan Muslim dengan terorisme.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Prancis resmi melarang pertemuan akbar tahunan umat Muslim Prancis ke-40 yang akan digelar di Paris. Larangan tersebut disampaikan dalam sebuah unggahan yang dirilis Kepala Kepolisian Paris, Patrice Faure, di X pada Kamis (2/4/2026). Dalam unggahan tersebut, Faure menjelaskan larangan ini merupakan instruksi langsung dari Menteri Dalam Negeri Prancis, Laurent Nunez.
"Atas permintaan Menteri Dalam Negeri, Laurent Nunez, saya telah mengeluarkan perintah yang melarang penyelenggaraan pertemuan tahunan (umat) Muslim Prancis edisi ke-40 yang dijadwalkan pada 3 hingga 6 April (2026) di Pusat Pameran Paris–Le Bourget," demikian isi unggahan Faure, seperti dilansir Jerusalem Post.
1. Keputusan diambil untuk mencegah ancaman teroris

Faure menambahkan, keputusan ini diambil untuk mencegah ancaman teroris yang belakangan sedang merebak di ibu kota Paris. Terlebih, pekan lalu, terjadi serangan teroris yang membahayakan warga yang tinggal di sana.
Kala itu, seorang yang diduga teroris berupaya melakukan serangan bom di kantor pusat Bank of America yang ada di Paris. Beruntungnya, serangan tersebut berhasil digagalkan oleh kepolisian setempat. Pelaku yang melancarkan aksi tersebut kini juga sudah ditangkap.
Usai kejadian itu, pemerintah Prancis langsung mengerahkan aparat keamanan untuk mengamankan seluruh wilayah, termasuk Paris. Ini dilakukan untuk mencegah serangan lanjutan yang bisa membahayakan warga.
2. Imam umat Muslim Prancis menyambut baik larangan yang sudah ditetapkan

Larangan ini lantas menuai respons dari seorang imam umat Muslim Prancis bernama Hassen Chalghoumi. Dalam sebuah unggahan di X, ia menghargai keputusan yang dibuat pemerintah untuk membatalkan pertemuan tahunan umat Muslim Prancis yang ke-40.
Bahkan, Chalghoumi berterima kasih kepada Menteri Dalam Negeri Prancis karena telah mengambil keputusan berani untuk melindungi warganya dari ancaman teroris yang membahayakan.
"Menghadapi ancaman keamanan dan risiko gangguan ketertiban umum, keputusan ini menunjukkan rasa tanggung jawab, kejelasan, dan keberanian politik yang sejati. Melindungi Republik dan nilai-nilainya adalah sebuah kewajiban," tulis Chalghoumi.
3. Pertemuan umat Muslim di Prancis merupakan yang terbesar di Eropa

Sebagai informasi, pertemuan umat Muslim yang dilarang Prancis tadi merupakan yang terbesar di Eropa. Pertemuan ini digelar tiap tahun untuk memperkuat tali persaudaraan seluruh umat Muslim yang tinggal di Prancis.
Sayangnya, pertemuan umat Muslim Prancis ini kerap mendapat stigma negatif dari warga. Sebab, beberapa warga Prancis menganggap umat Muslim kerap menebar teror yang bisa membahayakan mereka.
Ini juga diperparah dengan sebuah resolusi yang diadopsi Dewan Nasional Prancis pada Januari 2026 lalu. Saat itu, Dewan Nasional mengadopsi resolusi yang menetapkan seluruh gerakan umat Muslim di Prancis sebagai aksi teroris.



















