Kata Elon Musk 20 Tahun Lagi Manusia Tak Wajib Kerja, Uang Tak Relevan

- Pekerjaan akan menjadi pilihan, bukan kewajiban.
- Robot dan AI sebagai tulang punggung produktivitas.
- Dunia tanpa uang dan konsep kelangkaan.
Pernah kebayang hidup di dunia di mana kamu gak wajib kerja untuk bertahan hidup? Bagi sebagian orang, itu terdengar seperti mimpi besar, tapi bagi Elon Musk, hal ini justru dianggap sangat mungkin terjadi.
Dilansir fortune.com, CEO Tesla dan SpaceX tersebut memprediksi bahwa dalam 10 hingga 20 tahun ke depan, pekerjaan akan bersifat opsional. Bukan karena manusia jadi malas, tapi karena AI dan robot mengambil alih hampir semua pekerjaan.
Dalam visinya, uang bahkan dianggap gak lagi relevan. Lalu, seberapa realistis masa depan seperti ini dan apa dampaknya buat kehidupan kamu nanti?
1. Pekerjaan akan menjadi pilihan, bukan kewajiban

Elon Musk melihat masa depan di mana bekerja gak lagi menjadi keharusan untuk bertahan hidup. Menurut pandangannya, pekerjaan akan lebih mirip aktivitas hobi, seperti bermain game atau olahraga. Kamu bekerja karena ingin, bukan karena terpaksa membayar kebutuhan hidup.
Ia menggambarkan pilihan bekerja seperti menanam sayur sendiri di rumah. Kamu bisa membeli sayuran dengan mudah, tapi tetap memilih menanam karena menikmatinya. Dalam konteks ini, bekerja adalah soal kepuasan pribadi, bukan soal kebutuhan ekonomi.
2. Robot dan AI sebagai tulang punggung produktivitas

Visi pekerjaan opsional ini gak muncul tanpa alasan. Musk memperkirakan jutaan robot akan menjadi bagian utama tenaga kerja global. Robot-robot ini dianggap mampu meningkatkan produktivitas secara besar-besaran dalam berbagai sektor.
Ia bahkan menargetkan sebagian besar nilai Tesla di masa depan berasal dari robot humanoid Optimus. Meski masih menghadapi tantangan produksi, Musk tetap yakin bahwa otomatisasi adalah fondasi utama dunia tanpa kewajiban kerja.
3. Dunia tanpa uang dan konsep kelangkaan

Dalam skenario Musk, uang perlahan kehilangan relevansinya. Cara pandangnya dipengaruhi oleh gambaran dunia masa depan dalam fiksi ilmiah, di mana teknologi mampu menyediakan barang dan jasa secara melimpah. Jika semua kebutuhan bisa diproduksi oleh AI dan robot tanpa batasan berarti, maka uang gak lagi berfungsi sebagai alat tukar utama.
Musk membayangkan masa depan di mana gak ada kekurangan barang atau layanan. Kalau semua bisa diproduksi oleh AI dan robot, maka sistem ekonomi berbasis uang akan terasa usang dan gak lagi dibutuhkan.
4. Kesehatan super canggih dan usia hidup lebih panjang

Selain soal pekerjaan, Musk juga memprediksi lonjakan besar di bidang kesehatan. Ia menyampaikan bahwa robot medis berpotensi melampaui jumlah dokter bedah manusia dalam satu dekade ke depan. Kualitas layanan medis bahkan disebut bisa melebihi standar yang diterima pemimpin negara.
Menurut pandangannya, keterbatasan usia manusia adalah masalah “pemrograman”. Dengan bantuan AI, ia percaya manusia bisa hidup jauh lebih lama. Teknologi dianggap mampu mengubah batas biologis yang selama ini dianggap tak tergoyahkan.
5. Kekhawatiran tentang ketimpangan dan kesiapan teknologi

Meski terdengar futuristik, banyak ekonom menilai visi ini gak gampang diwujudkan. Salah satunya menyoroti bahwa robot fisik masih sangat mahal dan sulit diskalakan. AI memang berkembang cepat, tapi penerapannya di dunia kerja belum semasif yang dibayangkan.
Ada juga kekhawatiran soal ketimpangan ekonomi. Saat ini saja, perkembangan AI sudah memperlebar jarak antara kelompok kaya dan miskin. Tanpa sistem distribusi yang inklusif, dunia tanpa kerja justru bisa memperparah kesenjangan sosial.
6. Makna hidup di dunia tanpa kerja

Tantangan terbesar mungkin bukan teknologi, melainkan makna hidup manusia. Beberapa akademisi ekonomi menilai bahwa jika nilai kerja menurun drastis, struktur sosial manusia harus dirombak total. Selama ini, banyak hubungan sosial terbentuk dari lingkungan kerja.
Penelitian lama dari Harvard University pada 1938 menunjukkan bahwa manusia mendapatkan kepuasan hidup dari hubungan yang bermakna. Apabila pekerjaan gak lagi menjadi sumber utama relasi sosial, generasi mendatang harus menemukan cara baru untuk membangun makna hidup. Musk sendiri mempertanyakan hal ini, sambil menyiratkan bahwa manusia mungkin berperan memberi makna pada AI, bukan sebaliknya.
Visi Elon Musk tentang dunia tanpa kewajiban kerja memang terdengar radikal. Di satu sisi, ia menawarkan gambaran masa depan yang penuh kebebasan dan kelimpahan. Di sisi lain, ada tantangan besar soal teknologi, politik, dan makna hidup manusia.
Terlepas dari apakah prediksi ini akan terwujud atau enggak, satu hal jelas: masa depan kerja gak akan sama seperti hari ini. Dan kamu mungkin akan menjadi saksi perubahan besar itu.


















