Fakta Pahit di Balik Klaim Prabowo Naikkan Pendapatan Ojol 2 Kali Lipat

- Presiden Prabowo mengklaim pendapatan ojol naik dua kali lipat setelah potongan komisi aplikator diturunkan dari 20 persen menjadi 8 persen.
- Pengemudi Grab dan Gojek menyatakan pendapatan tidak naik, bahkan turun pada sejumlah tarif perjalanan, meski kebijakan disebut berlaku sejak 1 Juli 2026.
- Pengemudi menilai penghapusan biaya paket hemat tidak memberi dampak nyata dan sebagian mengaku tidak lagi percaya janji pemerintah terkait pemotongan tarif.
Jakarta, IDN Times - Klaim menaikkan pendapatan ojek online (ojol) menjadi dua kali lipat kembali dilontarkan Presiden Prabowo Subianto.
Dalam tayangan program Presiden Prabowo Menjawab di akun YouTube Prabowo Subianto, dia menyatakan pendapatan ojol meningkat pesat usai pemerintah menurunkan potongan komisi pengemudi yang dikenakan aplikator, dari 20 persen menjadi 8 persen.
“Lu tanya ojol, yang tadinya dia harus nyetor 20 persen, saya turunkan jadi 8 persen. Penghasilan mereka naik 2 kali katanya, ya kan? Bagaimana?” ucap Prabowo.
Cuplikan tersebut tengah ramai diperbincangkan di media sosial. Bagaimana faktanya di lapangan?
1. Pendapatan pengemudi ojol tak berubah

Ilustrasi pengemudi ojek online (ojol). (IDN Times/Vadhia Lidyana) Adapun klaim itu dilontarkan Prabowo usai menjanjikan penurunan potongan tarif pengemudi ojol pada perayaan Hari Buruh 1 Mei 2026 lalu.
Kebijakan itu berlaku mulai 1 Juli 2026. Pemerintah menyatakan kebijakan itu dituangkan dalam Peraturan Presiden (Perpres) nomor 27 tahun 2026 tentang Perlindungan Pekerja Transportasi Online. Namun, hingga saat ini Perpres tersebut belum diterbitkan untuk publik.
Merespons klaim Prabowo yang kembali viral, Yudi, pengemudi Grab Bike mengatakan kebijakan itu tidak berpengaruh pada kenaikan pendapatan ojol.
“Sama saja, malah berkurang. Jarak dekat sebelumnya saya dapat Rp10.400, sekarang Rp10.200, itu jarak maksimal 4 km,” kata Yudi.
Senada, Maskup, pengemudi Gojek mengatakan meski potongan tarif tak lagi 20 persen, secara pendapatan, yang diterima pengemudi tak mengalami kenaikan.
“Sama saja, malah turun. Hitungannya sama saja. Kan diturunin 20 persen. Tapi misal kalau dapat 20 trip, yang dipotong Rp20 ribu, sama saja,” tutur Maskup.
2. Tak ditarik biaya langganan paket hemat

Ilustrasi pengemudi ojek online (ojol). (IDN Times/Vadhia Lidyana) Maskup mengatakan, kebijakan pemerintah itu hanya menghilangkan biaya langganan paket hemat.
“Biasanya bayar Rp20 ribu paket hemat, itu udah enggak ada. Tapi pendapatannya malah turun. Misalnya saya biasanya terima Rp11 ribu, sekarang cuma Rp10.200,” ucap Maskup.
Perhitungan itu menyebabkan pengemudi ojol tak merasakan adanya perbedaan meski pemerintah memangkas potongan tarif menjadi 8 persen.
“Sama aja, gak berasa ada perubahan. Ya kan kalau itu pinter-pinteran aplikasi aja lah,” ujar dia.
3. Tak percaya dengan janji pemerintah

Ilustrasi driver ojol. IDN Times/Sunariyah Kembali ke Yudi, dengan kondisi ini, dia mengatakan mayoritas pengemudi ojol yang telah lama berkecimpung pada profesi tersebut tak lagi mempercayai janji pemerintah.
“Kebanyakan ojol, apalagi pemain lama, kalau udah denger pemerintah ngomong turun berapa persen pun, bodo amat. Karena pasti yg punya aplikasi Grab sama Gojek gimana caranya biar sama kayak peraturan sebelumnya,” kata Yudi.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)






















