Fandom Tak Lagi Sekadar Hobi, Kini Jadi Mesin Ekonomi Baru

- Fandom kini berkembang jadi ekosistem ekonomi yang digerakkan oleh generasi muda, di mana pengeluaran untuk merchandise dan konser menjadi bagian dari identitas serta investasi emosional.
- Komunitas penggemar melahirkan aktivitas ekonomi baru seperti jasa war tiket, penjualan merchandise luar negeri, hingga produksi fan art yang menciptakan peluang pendapatan bagi anggotanya.
- Pemerintah menyoroti potensi ekonomi fandom dengan rencana meningkatkan frekuensi konser K-Pop di Indonesia, menegaskan peran fandom sebagai mesin ekonomi baru di era digital.
Jakarta, IDN Times - Fandom kini tak lagi bisa dipandang sebagai aktivitas hiburan semata. Di tengah tekanan daya beli dan ketidakpastian ekonomi, komunitas penggemar justru berkembang menjadi ekosistem ekonomi yang menggerakkan konsumsi, menciptakan peluang usaha, hingga melahirkan model bisnis baru.
Laporan Indonesia Millennial and Gen Z Report (IMGR) 2026 mencatat keterlibatan fandom telah berkembang menjadi bagian dari identitas dan gaya hidup generasi muda. Pengeluaran untuk membeli merchandise resmi, menghadiri konser, hingga mendukung kreator favorit tidak lagi sekadar konsumsi biasa, melainkan bentuk investasi emosional.
"Fandom tidak lagi dapat dipahami sekadar sebagai kegiatan rekreasi, fandom berfungsi sebagai sistem yang mengatur hubungan sosial sekaligus sirkulasi ekonomi," demikian laporan IMGR 2026.
1. Ada anggaran khusus buat fandom

Laporan tersebut juga menemukan banyak anggota fandom tetap mengalokasikan anggaran khusus untuk aktivitas penggemar meski kondisi ekonomi belum sepenuhnya stabil. Keputusan tersebut didorong oleh rasa memiliki, kedekatan emosional, dan identitas yang dibangun melalui komunitas.
Fenomena ini tercermin dari pengalaman Deby (38), warga Tangerang, yang mengaku menghabiskan lebih dari Rp20 juta per tahun untuk mendukung grup dan artis KPop favoritnya. Sementara Nabila (37), karyawan swasta asal Semarang, tercatat telah menghadiri konser BTS sebanyak 18 kali sejak 2017.
"Kedua cerita ini menunjukkan pola yang konsisten dalam ekonomi fandom. Ketika seseorang menemukan titik keterikatan yang kuat, loyalitas mereka cenderung bertahan bahkan di tengah tekanan ekonomi," tulis IMGR 2026.
2. Ada aktivitas ekonomi baru

Tak hanya menciptakan konsumen loyal, fandom juga melahirkan aktivitas ekonomi baru. Mulai dari jasa war tiket konser, pembelian merchandise luar negeri, pemandu perjalanan konser, hingga produksi fan art berkembang menjadi sumber pendapatan bagi sebagian anggota komunitas.
"Fandom menciptakan ekosistem ekonomi internal yang dinamis, di mana para anggotanya tidak hanya berperan sebagai konsumen, tetapi juga sebagai produsen," dikutip dari laporan tersebut.
3. Upaya meningkatkan frekuensi konser KPop di Indonesia

Besarnya perputaran ekonomi di dalam komunitas penggemar bahkan mulai menarik perhatian pemerintah. Menteri Luar Negeri Sugiono pada April 2026 mengungkapkan rencana Presiden Prabowo Subianto untuk meningkatkan frekuensi konser KPop di Indonesia setelah kunjungan bilateral ke Korea Selatan.
Menurut IMGR 2026, fenomena ini menunjukkan bahwa fandom telah berkembang menjadi kekuatan ekonomi yang semakin relevan bagi industri hiburan, ekonomi kreatif, hingga sektor digital.
"Ruang-ruang yang selama ini dianggap remeh sebagai 'sekadar hiburan' sebenarnya memiliki kapasitas ekonomi yang signifikan, terlepas dari kondisi ekonomi makro, dan layak mendapat pertimbangan serius," tulis IMGR 2026.
Temuan tersebut menegaskan bahwa fandom bukan lagi sekadar hobi. Di era digital, komunitas penggemar telah menjelma menjadi salah satu mesin ekonomi baru yang mampu menggerakkan konsumsi dan menciptakan nilai ekonomi secara berkelanjutan.
IDN menggelar Indonesia Summit 2026, sebuah konferensi independen yang khusus diselenggarakan untuk dan melibatkan generasi milenial dan gen Z di Tanah Air. Dengan tema "The Next Us: Indonesia's Leap in the Algorithmic Age". IS 2026 bertujuan membentuk dan membangun masa depan Indonesia dengan menyatukan para pemimpin dan tokoh nasional dari seluruh nusantara.
IS 2026 diadakan di Tribrata Dharmawangsa, Jakarta, pada 17-18 Juni 2026. Dalam IS 2026, IDN juga meluncurkan Indonesia Millennial and Gen-Z Report 2027.
Survei ini dikerjakan oleh IDN Research Institute. Melalui survei ini, IDN Media menggali aspirasi dan DNA Milenial dan Gen Z, apa nilai-nilai yang mendasari tindakan mereka. Survei ini menjangkau responden Milenial dan Gen Z di sembilan wilayah di Indonesia, antara lain Sumatra Utara, Kepulauan Riau, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan, dan Sulawesi.
















